Jumat, 08 November 2013

Wrong?

Salahkah aku memperjuangkan apa yang pantas untuk aku perjuangkan?
Salahkah aku bertahan dari sesuatu yang menurutku pantas untuk di pertahankan?

Kadang hidup tidak seperti bayangan kita pada nalar.
Dan, sekarang. Kamu. Yang selalu aku banggakan tidak lagi seperti apa yang ada dalam nalarku.
Kamu. Berbeda.
Aku memperjuangkanmu tanpa meminta untuk di perjuangkan kembali.
Karna hanya tertawa bersamamu aku merasa semua perjuanganku tidak sia-sia.

Lalu, saat suatu saat apa yang aku harapkan tidak menjadi kenyataan.
Aku hanya diam. Tidak mengingat seberapa besar perjuanganku.
Tapi, aku bertanya "Mengapa kamu tidak lagi seperti dulu?". Beda.
Aku membenci perbedaan, apalagi jika itu tentang kita.
Aku dan Kamu.
"Bukankah perbedaan itu yang menyenangkan? Karena kita bisa saling melengkapi"
Perbedaan dengan sikapmu tidak akan pernah menyenangkan untukku.
Kecewa. Satu kata yang mendeskripsikan seluruh isi hatiku.
Entah bagaimana aku harus bercerita. Tapi, aku benci kamu sekarang.
Aku benci perubahanmu. Aku benci sikapmu yang tidak seperti dulu.

Apakah aku harus pergi?
Apakah aku harus meninggalkanmu?
Apakah aku harus merelakanmu?
Apakah aku harus membencimu?
Apakah aku bisa?
Ya. Apakah aku bisa pergi meninggalkanmu lalu merelakanmu kemudian membencimu.
Aku tidak akan pernah bisa.
Tapi jika itu pilihanmu, jika kamu mengangguk arti perpisahan.
Apakah kamu tahu perasaanku?
Apakah kamu tahu hancurnya hatiku?
Kamu tidak akan pernah tahu.
Rasanya lebih sakit dari tamparanku saat itu.
Jauh lebih sakit drai itu, kesayanganku.

Bisakah kamu seperti dulu?
Bisakah kamu selalu bersamaku?
Bisakah kamu seperti dulu?

Jika kamu tidak bisa seperti dulu. Jika kamu justru memilih sebuah perpisahan.
Aku akan pergi.
Aku akan meninggalkanmu.
Aku akan berjalan tanpamu, tetapi aku justru berjalan dengan kepingan hatiku yang hancur karenamu.
Tapi, biarkan namamu selalu ada dalam rapalan do'aku.
Biarkan namamu selalu menjadi perbincanganku dengan Tuhan.
Birkan aku merasa kamu yang terbaik.
Biarkan aku yang selalu memimpikan kenangan kita.
Biarkan aku yang selalu mengingatmu.
Biarkan aku menangis walaupun dalam pengabaianmu.