Jumat, 18 Maret 2016

Kamu:)

Hari ini, bolehkah aku sedikit menceritakan sebuah masa? Entah apa nama yang cocok untuk masa yang aku ceritakan ini.
Tapi, hari ini. Aku merasakan kehilangan. Dan aku benci kehilanganku kali ini.
Aku tau aku baik-baik saja. Jauh dari kata tidak baik-baik saja.
Aku tau, merasakan kehilangan dengan orang yang tak ber status apa-apa itu salah. Merasakan kehilangan seseorang yang mungkin tak pernah sekalipun aku harapkan.
Salah memang, dia bukan siapa-siapa dalam hidupku.
Bahkan, untuk menghafalkan wajahnya saja aku enggan.
Aku bahkan tidak pernah merasakan perasaan aneh setiap di dekatnya.
Tapi hari ini, setelah beribu menit kita tidak saling memberi kabar.Tidak bertemu.
Aku merasa kehilangan sosokmu, yang mungkin kini telah berjalan jauh meninggalkanku.
Sosok yang mungkin tak pernah ku rasakan perasaan.
Sosok yang tak pernah ku sadari kehadirannya.
Sosok yang di anggap orang lain sempurna, dan tidak berarti apapun di mataku.
Sosok yang mungkin jauh lebih mengerti aku.



Hari itu, entah tanggal berapa aku bahkan tidak ingat. Karna jujur, aku tak pernah mengharapkan pertemuan dengaanmu.
Hujan deras dan petir yang membuatku enggan sendirian. Tiba-tiba, kamu menepuk bahuku.
Rasanya masih biasa saja, bahkan kalau boleh jujur.
Bukan kamu orang yang aku harapkan untuk mengahampiriku.
Aku bahkan tidak pernah menganggap semua kata cintamu itu nyata.
Karna aku tak pernah ingin jatuh hati padamu. Seorang laki-laki yang baru memiliki ktp.
Seseorang yang pernah menceritakan cita-cita pilotnya.
Seseorang yang memberi jas hujannya agar badanku tidak basah padah dia basah kuyup.
Seseorang yang rela menunggu berjam-jam untuk bertemu denganku.
Seseorang yang rela mengukur jarak untuk menjemputku.
Seseorang yang pesannya ku abaikan.
Bahkan telefonnya selalu ku tolak.
Seseorang yang selalu menatapku ketika aku bercerita.
Seseorang yang takut membelai rambutku.
Seseorang yang takut menyentuh tanganku.
Seseorang yang takut memelukku.
Karna satu alasan, dia takut pelukannya tak berbalas.
Bahkan, ia rela menahan egonya demi menyelamatkan egoku.
Ia rela menahan rindunya, karna aku tak pernah meraskaan rindunya.
Ia rela memendam perasaanya, agar aku nyaman di dekatnya.
Ia rela menunggu balasan pesannya tanpa memaksaku untuk membalasnya.
Katanya, cukup mengetahui bahwa aku membaca pesannya saja ia tenang.
Katanya, "run if you want to run. go if you want to go. but, when you're tired. Look behind you, there's me".
Katanya, "puncak rindu terhebat adalah ketika dua orang tak saling memberi kabar tetapi slaing mendoakan"
Dan dengan gampangnya bibirku mengucap bahwa namanya tak pernah terucap sekalipun di doaku.
Jahat. Memang.
Aku tak pernah merasakan kenyamanan lebih dari sebatas teman.
Hingga aku menyadari satu hal ketika dia pergi. Aku kehilangannya.

Tuhan, jika aku bisa memutar waktu.
Biarkan aku merasakan halus tangannya menyentuhku.
Biarkan aku merasakan hangat pelukannya memelukku..
Tanpa perduli siapa aku dalam hidupnya.


Untuk kamu, calon siswa BIFA yang entah sekarang sedang apa dan dimana.
Untuk kamu, yang kini sangat jauh untuk ku rengkuh.
Untuk kamu, yang mungkin berusaha mencari bahagiamu.
Kamu tau, aku kehilanganmu.