Sabtu, 17 November 2012

Cinta?

Cinta? Apa itu cinta?
Cinta? Bagaimana rasanya?
Perih? Sakit? Atau bahkan sehat dan tanpa luka?
Cinta? Bahagia atau bersedih?
Cinta? Menyakiti atau di sakiti?
Cinta? Mengkhianati atau dikhianati?
Cinta? Mengerti atau di mengerti?
Cinta? Percaya atau di percaya?
Cinta? Cinta? Cinta?
Sulit di mengerti, kadang begini kadang juga begitu.
Tidak ada yang mengerti arti cinta sebenarnya.
Stoooooooopppppp!!!!!!

Mungkin, aku memang sama seperti banyak orang diluar sana.
Tak mengerti arti cinta sebenarnya.
Tapi... Aku punya definisi tersendiri untuk CINTA.

Menurut hatiku....
Cinta itu senyum dan air mata.
Cinta itu manis dan pahit.
Cinta itu terang dan gelap.

Dimana kita bisa tersenyum karena cinta.
Dimana kita dibuat tersedu-sedu oleh air mata karena cinta.

Ketika kita merasakan cinta semanis gula dan sepahit kopi tanpa gula.
Ketika kita merasa seterang bintang dan segelap awan hitam.
Cinta..........

Bisa membuat kita ingin waktu berputar sangat lambat.
Dan bisa membuat kita ingin memberhentikan waktu.
Membuat kita ingin memutar waktu.
Membuat kita ingin mempercepat putaran detik pada jam.
Membuat kita mengerti hidup.
Membuat kita mengerti takdir.
Membuat kita berharap, meski tau harapannya tak seiring dengan kenyataan.
Membuat kita bertanya, meski tau jawabannya menyesakkan dada.
Membuat kita menunguu, meski tau ia tak akan datang atau kembali.
Membuat air mata lebih berarti.Membuat senyum lebih bermakna.
Membuat mata berkaca-kaca karena bahagia dan kesakitan.
Membuat kita terbang ke langit paling ujung.
Membuat kita merasa terajatuh di papan penuh paku.Lukanya perih dan membekas.
Membuat kita yakin dan percaya.
Membuat kita tertawa lepas.
Membuat kita kecewa dan terkhianati.


Tapi untuk kesekian kalinya, aku merasakan cinta yng sangat manisndan pahit.
Cinta yang penuh kenangan dan cinta yang sementara.
Cinta memang sangat membingungkan, tapi..
Intinya CINTA ITU KESEDIHAN YANG TERTUNDA.
Kita dibuat melayang hingga lupa dengan bumi.
Tapi suatu saat kita pasti di jatuhkan.
Tapi...Mengapa banyak orang senang jatuh pada cinta?
Padahal cinta menyakitkan. Entahlah.

Kamis, 15 November 2012

Untuk Tuhanku dan Tentangmu Malaikatku

Aku sempat tidak percaya dengan kebahagiaan.
Aku sempat percaya, tapi kepercayaan itu di hancurkan.
Aku sempat memilih, tapi bukan pilihan yang tepat.
Aku sempat menyayangi tapi aku di khianati.
Kali ini aku menulis suratku untuk Tuhan, tentang seorang malaikatnya.
                                                ----------------

Tuhaaan, kau tau? Kau masih ingat kan orang yang dulu sering aku ceritakan?
Bagaimana kau lupa Tuhan? Dia masih selalu menjadi nama yang sering kusebut di dalam do'aku.
Aku bahagia Tuhan melihatnya tersenyum, tertawa dan melupakan masa lalunya.
Masa lalunya yang sangat buruk, "bersamaku".

Tuhan, maafkann aku.
Aku tidak bisa menghapusnya. Aku tidak bisa melupakannya.
Sulit untukku melupakan seorang malaikat kecil sepertinya.
Tuhan, bisa gak sih waktu di ulang lagi?
Tuhan bisa gak sih aku balik ke waktuku sama dia?
Tuhan bisa gak sih, kasih aku perasaannya lagi?
Tuhan, bisa gak sih, semuanya di "replay" lagi?

Tuhaaan.....................
Kenangan itu tidak bisa di bayar dengan apapun.
Kenangan itu masih sangat keras meleat di otakku.
Tuhaan, kenapa sesulit ini Tuhan?
Kenapa harus selama itu dulu, kau izinkan aku membuat kenangan itu bersamanya?
Jika akhirnya pun bertemu tak pernah saling beratapan lagi.
Tuhan, aku menyesal.
Kenapa aku yang harus menorehkan lukanya?
Tuhaaaaan.......
Aku rindu..... Rindu malaikat kecilku.
Tuhaaaaaaaan..........
Aku masih ingin merasakan tatapan matanya.
Aku msih ingin merasakan bahunya.
Aku masih ingin merasakan telapak tangannya.
Aku masih ingin merasakan genggamannya.
Aku masih ingin merasakan dekapannya.
Entah kapan aku bisa melupakannya, jika dia masih ada di hatiku.

Jumat, 09 November 2012

Ketika masa lalu menghancurkan dan mengubah semuanya

Kali ini aku kembali menulis sebuah cerita singkat.
Bisa di bilang ini kenyataan atau hanya khayalan.
Tapi entah, aku merasa ini telah terjadi di hidupku.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara di tengah keluarga yang sederhana dan harmonis.
Aku memiliki ayah yang sangat baik dan ibu yang sangat menyayangiku serta memiliki adik laki laki yang begitu pula menyayangiku.
Mungkin, bisa dinilai ini adalah suatu kebahagiaan.
Memang, mereka membuat hidupku snagat berarti.
Aku sering menghabiskan waktuku bersama mereka.
Aku sangat amat bahagia memiliki mereka.
Kehidupan di keluargaku sangat indah hingga seseorang di masa lalu ibuku hadir dengan senyum dan menghancurkan semuanya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
     
              Hari ini aku akan berlibur dengan keluargaku di suatu daerah yang selalu berhasil membuatku lebih dan lebih baik. BANDUNG. Kota yang sangat amat menyejukkan hati dan fikiranku.
Salah satu kendaraan udara yang terkenal terbang pukul 10.00 untuk membawaku dan keluarga kecilku ke Bandung.
Hanya sekitar satu jam lebih limabelas menit aku sudah menginjak tanah yang berbeda.
Aku menunggu travel bag kepunyaanku diturunkan dari bagasi kapal udara.
Aku bersandar di salah satu pilar di bandara international Husein Sastranegara itu sambil memutar lagu dari iPod nano berwarna pink kesayanganku.
Tidak lama kemudian aku melihat travel bag berwarna pink milikku.
Aku buru buru mengambilnya.
Tak lama kemudian milik ayah ibu dan adik pun terlihat.
Kemudian aku berjalan menemui ibu yang sedang berbincang dengan teman lamanya.
Laki laki teman ibu ini memang sebaya dengan ibu. Ia ramah padaku, adik laki lakiku tapi sepertinya tidak begitu dengan ayahku. Terlihat, ayah tidak ikut bercanda di sebuah cafe bersama aku ibu dan teman ibu.
Ayah lebih memilih untuk memainkan lensa cameranya di dekat kedatangan international.
Aku membagi pin blackberry ku kepadanya, sepertinya teman ibu ini baik sekali.
Aku dan adikku sering bercanda dengannya saat berkomunikasi melalui pesan singkat khusus sdan sepertinya ibu juga begitu.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kira-kira begitulah cerita awal perkenalanku dengan teman ibu yang lambat laun aku tahu sebenarnya siapa dia.
Awalnya juga aku memang tidak pernah berperasangka buruk padanya.
Hingga suatu saat......

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari ini rencananya aku akan bermain bersama teman teman lamaku di Bandung.
Aku berpamitan dengan ibu yang sedang berdandan di kamarnya.
Dan ayah yang sedang membaca koran di ruang tamu.
Dan aku pun berangkat untuk bernostalgia.
Sangat senang rasanya,bisa bermain bersama teman teman lamaku.

Aku memutuskan untu membeli cindera mata untuk seseorang.
Sepertinya salah satu brand memikat hatiku.
Aku menuju Paris Van Java ketika waktu menunjukkan tepat pukul2 siang.
Hari ini Bandung sangat terik, matahari serasa menusuk kulit sehingga kulit dapat berubah warna.
Tapi, tetap saja. Tida ada alasan yag bisa membuatku tidak senang dengan kota ini.

Haus mulai terasa di tenggorokanku.
Kuputuskan saja mengobrol sambil membeli minuman di deretan cafe depan Paris Van Java.
Aku mencari cafe yang tidak seberapa ramai sehingga tidak begitu lama pula aku menunggu pesananku.
Aku berjalan sambil melihat sekelilingku.

Aku melihat seseorang yang tidak asing bagiku di sudut sebuah cafe.
Aku terkejut, aku benar benar terkejut.
Aku tak pernah menyangka ini terjadi.
Sungguh aku tak pernah menyangka.

Aku melihat sosok wanita cantik di sudut cafe bersama lelaki sebayanya yang sangat aku kenali.
Mereka bermesraan. Padahal, mereka bukan sepasang kekasih bahkan suami istri.
Tak lain lagi itu aalah ibuku dan teman lamanya yang baru aku kenal.
Aku menghampiri ibuku.
Aku mencoba menahan amarahku, aku mencoba berbicara pelan pelan.
"Ibu ngapain disini sama om ini?" tanyaku.
Sepertinya mereka berdua terkejut, lalu melepaskan tangan yang saling menggenggam.
Lalu ibu berdiri, dan mengelus rambutku.
Mencoba menjelaskan.
Aku percaya saja, mungkin pernyataan ibu memang kenyataan.
Aku memilih pergi untuk meneruskan tujuanku kesini.
Tapi, tak bisa di pungkiri memang kejadian tadi masih berkecamuk di otakku.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku percaya dengan pepatah sepandai-pandainya kita menyimpan rahasia pasti akan terbongkar juga.
Begitulah dengan hidupku sekarang.
Kurasa ibu sangat pandai menyimpan rahasia.
Tapi, apa boleh buat beginilah takdir.
Akhirnya aku adik dan ayah pun tau siapa teman lama ibu itu.

Dia adalah orang yang sangat di sayangi oleh ibuku di masa lalunya.
Aku terkejut mendengar pengakuan ibu.
Sepertinya ibu memilih jalan untuk berpisah dengan ayah.
Sakit rasanya ketika mendengar itu semua.
Sakit sekalii.
Keluarga yang benar benar harmonis harus hancur karena seseorang di masa lalu ibu.
Semenjak saat itu sepertinya hubungan ibu dan ayah menggantung. Dilema.
Antara berpisah dan bersatu.
Hati ibu dan hati ayah sepertinya sudah tidak bisa di satukan.
Tapi jujur dari lubuk hati, aku tidak pernah menginginkan keluargu hancur berantakan seperti ini.

Perbuatan ibu memang snagat menyakitkan bagiku, adikku serta bagi ayahku.
Aku selalu berharap ayah tetap mempertahankan ibu.
Tapi apa boleh buat, perasaan tidak bisa di paksakan.
Sepertinya ayah juga "selingkuh" dalam tanda kutip membalas perbuatan ibu.

Kini, aku kecewa dengan mereka berdua.
Sangat kecewa.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kini, aku hanya bisa berharap dan berdo'a.
Semoga kali ini harapan dan kenyataan sedang bersamaku.
Aku percaya, Tuhan masih menyayangiku.

Aku memilih untuk diam, membiarkan kelakuan orang tuaku yang hampir setiap hari selalu menyayat hatiku.
Aku menahan egoku.
Hingga rasanya dadaku tak kuat lagi menahannya. Benar-benar sudah tidak sanggup.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


"Ayah ga pengen kita kayak dulu lagi?" tanyaku saat duduk di ruang keluarga bersama ayah.

Ayah hanya diam tak menjawab.
"Aku kagen sama kita yang dulu. Aku pengen semuanya kayak dulu lagi yah." lanjutku.
Ayah masih terdiam, lalu tanpa jawaban ayah oergi meninggalkanku.

Aku yang susah payah menahan egoku.
Dan, beginilah jawabannya?
Sangat jauh dari harapanku.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku berusaha pasrah.
Berusaha menikmati semuanya.
Berusaha membayangkan keadaan sekarang lebih indah daripada dulu.
Aku masih berusaha.

Beberapa hari kemudian, hal yangg snagat aku harapkan terjadi.
Harapanku menjadi nyata.
Ayah,ibu,aku dan adik berkumpul di ruang makan untuk amakn malam.
Hal yang sudah lama tidak terjadi.
Jauh di dalam hati, aku menangis.
Menangis terharu, dan tidak ingin mengakhiri makan malam ini.
Memang sunyi tak ada yang berbicara, tapi aku bahagia.

"Maafin ibu ya yah, ibu yang salah" kata ibu tiba-tiba.
"Ibu mau kita kayak dulu lagi, ibu akan meninggalkannya dan ibu harap ayah juga meninggalkan wanita itu. Demi anak kita" lanjut ibu.
Ayah meletakkan sendok dan garpunya.
"Ibu tidak bisa menghapus perasaan untuk ayah dan anak kita" lanjut ibu.
Aku tersentak dan mulai berharap lebih.
Ayah hanya membalas pengakuan ibu dengan pelukan.
Lalu berkata, "Ayah sudah lama meninggalkannya. Karna ayah yakin kita pasti kembali seperti dulu lagi" kata ayah.

Lalu jemari tangan ayah menggenggam jemari ibu.
Jemari ibu menggenggam salah satu jemariku.
Jemariku mengenggam salah satu jemari adikku.
Jenari adikku mengenngam salah satu jemari ayah.

Kita saling bergenggaman.
Aku memejamkan mataku.
Dalam hati aku berucap " Terimakasih Tuhan, kali ini kau mendengar do'aku. Terimakasih Tuhan kau telah menyatukan keluargaku lagi. Terimakaish Tuhan. "















































Senin, 05 November 2012

Air mata ini masih untukmu

      Aku bertemu di suatu waktu yang telah Tuhan tentukan. Di satu surga dunia yang sangat indah.
Di satu kondisi yang tanpa membuthkan banyak alasan aku tak bisa menolak kehadiranmu.
Indah sekali takdir Tuhan, terlalu indah dan menyakitkan bila kuceritakan semuanya.
Aku tak pernah menghindari takdirku. Seluruh hidupku ku pasrahkan pada Tuhan.
Entah harus berakhir bahagia atau justru mengenaskan.

                                                         ------

       Hari itu aku menatap mata seseorang, sinarnya membuat hatiku luluh.
Entah ini pertanda apa, aku melihat matahari di matanya.
Membuat hariku lebih ceria, membuat hidupku lebih indah.
Ya, memang begitu indah. Sampai detik ini pun aku masih tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat itu.
Aku hanya terpesona melihatnya. Yaa mungkin tidak lebih dari itu.
Tapi seiring berjalannya waktu, perasaan aneh mulai berkecimuk di dalam hatiku saat aku bertemu dan menata matanya.
Kali ini aku percaya Tuhan sangat adil.
Dia datang kepadaku, dia mewarnai hidupku.
Dia membuatku percaya, hidup ini masih sangat begitu indah.
Tuhan kali ini aku menikmati hidupku, menikmati hariku yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Tuhan kali ini aku mohon, jangan teralu cepat kau menginginkanku untuk mengakhiri ini.

                                                       -----

         Hampir 6bulan, ia mewarnai hidupku.
Dan selama itu pun aku mempercayakan hatiku sepenuhnya padanya.
Selama itu pun aku mencoba melengkapi kekurangannya dengan kelebihanku.
Selama itu pula aku belajar untuk mengobati lukanya.
Dan selama itu pula aku dan dia mempunyai banyak sekali kenangan indah, yang jujur sangat enggan aku lupakan.
Hingga ketika, aku dan dia merayakan hari jadi kita yang ke-enam bulan di perbukitan yang indah dan dihiasi oleh hamparan cahaya kuning dari langit.
Dan dia pun membuat satu pengakuan.
                                            ------
        "Sebenarnya, aku hanya menjadikanmu pelampiasan. Maafkan aku, aku tak bisa membohongimu lebih lama lagi.Aku maish menyayangi mantanku" katanya tiba tiba.
Tuhaaaan, kata kata sederhananya membuatku sangat hancur.
Aku yang selalu mempercayakan hatiku untuknya, tapi dia? Dia bahkan tak memberikan hatinya untukku. Tak mempercayakan perasaanya untukku.
             "Ini memang sulit ku mengerti, aku tak pernah berharap lebih padamu sejak dulu. Tapi kamu, kamu hadir seenaknya di dalam hidupku. Dan sekarang seakan-akan kamu mengahancurkan hidupku. Siapa yang salah sekarang? Kamu, aku, mantanmu, perasaanku, perasaanmu, waktu atau bahkan Tuhan? Siapa yang pantas di salahkan? " Lanjutku berontak sambil menangis.
Aku hancur, sangat hancur.
              "Biarkan aku pergi, aku tak bisa melanjutkan semuanya denganmu lagi. Aku lelah membohongi diriku sendiri. Aku memang jahat, aku tak pantas buatmu. Maafkan aku" lanjutmu.
Kamu pergi, melepaskan tanganku tanpa menunggu jawabanku.
Perih rasanya ketika merasakan ini semua.
Sangat perih.
Aku berteriak kencang melepaskan bebanku.  
               "Tuhaaan, tolong aku. Mengapa engkau pertemukan kami jika memang kami harus berpisah lagi? Jawaab Tuhaaaan" teriakku.
Aku hanya memandang punggungnya yang semakin menjauh.
Sulit memang menerima kenyataan ini.

                                         ------
                    Aku tak berusaha melupakannya, aku hanya berusaha menghapus perasaanku yang sangat dalam untuknya.
Setiap malam tanpa ku sadari selimutku selalu basah dengan air mata yang tidak sengaja aku teteskan untuk mengenangmu.
SETIAP MALAM!
Bagaimana? Apakah kurang bukti jika aku sangat menyayangimu?
Jika boleh memilih, sepertinya aku lebih memilih tidak bertemu denganmu saat itu.
                      Sakit rasanya ketika mengingat semuanya, sangat sakit.
Entah obat apa yang harus aku beli untuk mengobatinya.
                                            -------

                     Aku menjalani kehidupanku, sepertinya memang aku bahagia.
Tapi jauh di dalam lubuk hati ini, aku masih sangat rapuh sangat sedih mengingat semuanya.
Hampir 2bulan aku menangisinya, hampir 2bulan aku sia siakan watuku untuk mengenangnya.
Hampir 2bulan juga air mata ini hanya kutujukan padamu. 
Hampir 2bulan juga namamu selalu terselip dalam do'aku.
Lama kelamaan aku lelah.
Aku mencoba untuk menghapus perasaanku.
Aku percaya aku bisa.
Yaa, aku bisa!!!!!!!!!!
                                             ------

                      Hari ini, aku resmi mengakhiri tangisanku.
Aku memilih untuk sendiri dulu.
Untuk mencari jati diri.
Meskipun tak sepenuhnya aku menghilangkan perasaanku.
Dan masih juga harus di akui, separuh hati ini masih miliknya.
Miliknya yang hanya menjadikanku pelampiasan.
Rasa sakit ini sedikit demi sedikit menghilang.

                                             --------------

                             Kini, saat aku mencoba untuk bangkit.
Mengapa ia hadir lagi degan tiba-tiba?
Sakit rasanya, sangat sakit.
Dan kali ini kamu hadir untuk membuatku mengatakan satu pengakuan.
"Jauh di dalam hatiku, perasaan untukmu masih utuh dan tersimpan rapi. Dan jauh di dalam kelopak mataku sinar matamu masih terekam. Dan harus juga ku akui, jika kini aku menangis, air mata ini sepenuhnya masih untukmu"
                        

Sabtu, 03 November 2012

Sesakit inikah kisah orang lain?

         Aku hanya ingin bercerita sedikit tentang perbedaan. Kali ini bukan ceritaku, ini cerita sahabatku.
Sore itu, aku mendapat pesan singkat dari sahabat lamaku..Dini.
Ruapanya, ia mengajakku bertemu. Entah akan membincangkan apa, tanpa pikir panjang aku mengiyakan pesan singkatnya dan bergegas untuk bersiap menemuinya.
         Aku menemuinya di sebuah cafe ternama di tengah besarnya kota Jakarta.
Aku memasuki cafe itu sambil , mencoba menelfon nomor teman lamaku.
Di sudut cafe aku melihat teman lamaku, wajahnya, rambutnya pun tidak berubah.
Aku menghampirinya ketika ia masih asyik menarikan jemarinya diatas keyboar laptopnya.
                                                               ---
         "Hai barbie" sapaku mungkin sedikit mengejutkan baginya.
Ia berdiri memelukku sejenak sambil mencium pipi kiri dan kananku. Ada yang aneh, matanya sangat sembab.
"Kamu kenapa? Mata kamu?" tanyaku terputus-putus.
"Ah tidak apa-apa, aku hanya lelah mengerti mau Tuhan" jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Heey, kamu bilang apa? Ayo cerita sama aku jangan gini terus" lanjutku sambil memeluknya.
Aku dan Dini duduk berhadapan.

                                                             ---
           Ia menceritakan isi hatinya dengan diiringi air suci dari matanya.
Sepertinya, ia memang lelah.
Ceritanya mendalam, menusuk, dan membuat hatinya semakin nyeri.
                                                             ---
          *Dini mengalami perasaan yang semua orang pasti memiliki. Cinta. Ya, Dini sedang merasakan itu.
Dia gadis yang sangat jarang merasakan cinta. Kedua orang tuanya bercerai. Secara logika, pasti ia jarang merasakan kasih sayang keluarga yang utuh bukan? Ya begitulah.
Beranjak dewasa ia memutuskan untuk mencari teman hidup, yang setia padanya. Tidak memandang latar belakangnya. Tidak memandang masa lalunya.
             Dua tahun belakang ini, dia sedang menjalani hubungan jarak jauh serta berbeda agama dengan seseorang yang sedang berada di Australia. Sebut saja Rino.
Dini tidak bisa membohongiku dengan ketegarannya, pancaran sinar matanya terlihat sangat rapuh.
Hubungan jarak jauh yang di selimuti dengan perbedaan keyakinan bukanlah hal mudah.
Tapi Dini dan Rino tetap menguji kepercayaan mereka masing-masing.
Dini merasa Rinolah satu satunya orang di dunia ini yang bisa setia menyayanginya.
"Tapi perasaanku salah" lanjutnya dengan tangan membungkam mulut tanda tak bisa lagi menahan tangisnya.
"Aku sangat percaya padanya, hatiku pun sepenuhnya berpihak padanya. Hidupku telah aku serahkan untuknya. Aku bernafas untuknya. Aku menikmati rindu peluknya ketika ia jauh. Tapi inikah takdir Tuhan?" lanjut Dini.
            "Dua hari yang lalu aku tak bia menahan rinduku, saat itu juga bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Aku memutuskan pergi ke Australia untuk beberapa hari. Pesawat yang paling pagi pun ku pilih deminya.
Sesampainya di Australia, aku memilih taxi untuk mengantarkanku dari bandara ke apartementnya.
Aku hafal nomor apartementnya. Tanpa berfikir panjang aku berjalan menuju lift untuk menuju kamarnya di lantai 18. Aku mendekapkan tangan ke tubuhku sendiri.
Aku menunggu pintu lift itu terbuka." putus Dini, matanya tidak sanggup lagi menahan air suci itu.
            "Loh? Memangnya kenapa lagi Din?" tanyaku.
"Rino.... Rinoo.." lanjutnya terlihat tidak sanggup berbicara.
"Rino kenapa?" tanyaku semakin penasaran.
"Di dalam lift aku melihat Rino sedang merangkul perempuan lain" tangisnya memecah.
 Aku terdiam, yang ada di benakku hanya rasa sakit yang Dini rasakan.
Aku memluk Dini erat. Aku merasakan beban hatinya. Aku merasakan sakit hatinya. Aku tau kali ini Dini benar benar hancur.
"Aku tidak sanggup menjalani kenyataan ini. Aku tidak terima. Aku selalu mengikuti keinginan Tuhan, aku selalu menuruti mau Tuhan. Tapi kenapa Tuhan tidak meberiku bahagia? Aku bertahan selama hampir 20tahun tanpa kasih sayang orang tua, ketika aku mempercayakan hidupku sepenuh untuk seseorang yang sangat aku cintai. Mengapa Tuhan menciptakan takdir ini? Harus aku menyerah dengan keadaan? Aku benar benar hancur, aku tidak sanggup lagi"
Aku hanya menatapnya membiarkan air matanya bercucuran keluar.
            "Aku mengerti rasa sakitmu Din, tapi bukankah cinta penuh perjuangan? bukankah cinta selalu memiliki efek samping? Jangan menangis lagi, mungkin dia ingin mengujimu. Percayalah, Tuhan menyayangimu sangat menyayangimu. Tuhan ingin kamu lebih tegar lagi. Tuhan pasti memberimu akhir yang indah. Percayalah"

Jumat, 02 November 2012

Apakah takdir kita bukan bersatu?

          Entah harus kumulai darimana cerita ini. Cerita antara kau dan aku ketika waktu dan norma menjadi pengarangnya.
Cerita antara kau dan aku yang mungkin sudah Tuhan rencanakan sejak lama.
Kau, aku, waktu, keadaan, pertemuan, daaaan perpisahan.

---------------------------------------------------------------------

         Sore itu ketika hujan menemaniku di sudut kota. Ketika aku berdiri di sebuah halte bus mini.
Tubuhku yang menggigil kedinginan, ketika angin menerpa.
"Hai" sapamu.
Dengan senyum sedikit memaksa aku membalas sapaanmu.
Aku hanya terkejut ketika menoleh dan menatap matamu.
Mata yang mirip sekali dengan seseorang di masa laluku.

         Awalnya, aku memang membencimu. Membenci pertemuan kita, dan membenci sinar matamu.
Karena kamu, membuatku kembali mengais masa lalu yang seharusnya aku lupakan.
Aku sangat membencimu sejak pertama kali aku melihatmu.


-----------------------------------------------------------------------

       Aku heran, mengapa keadaan selalu mempertemukan kita?
Aku tak ingin melihatmu.
Aku menghidarimu, tetapi semakin aku menjauh mengapa sosokmu semakin nyata.
Sampai pada suatu saat, aku berfikir. Apakah ini takdir? Apakah ini jalan Tuhan untuk kita?
Aku tidak ingin tersakiti lagi.

     Aku terus berfikir, berfikir dan berfikir. Hingga waktu menjawab dan mengukir cerita antara kita.
Aku selalu percaya, jika Tuhan sudah mempersiapkan seseorang untuk bersamaku selamanya.
Apakah itu kamu?
Entah, tetapi saat ini aku ingin membuktikan bahwa sosok itu memang kamu.
Seiring berjalannya waktu dan tanpa kusadari harapan itu muncul dalam benakku.
Aku mencoba menerimamu dan menambah cerita dalam perjuangan hidupku yang tak lama ini.

--------------------------------------------------------------------------

       Kita berbeda. Kita tak sama.
Jalan kita berbeda. Bahkan nama Tuhan kita pun juga berbeda.
Tapi mengapa? Tuhanku dan Tuhanmu tak memisahkan kita sejak dulu?
Sejak perasan benci untukmu belum berubah menjadi perasaan cinta?
Apakah belum cukup bukti bahwa kita memang di takdirkan bersatu?
Aku dan kamu mencoba untuk menyatukan rasa ini.
Mencoba menyatukan takdir kita.
      Percayalah, hanya dirimu yang selalu aku perbincangkan dengan Tuhan dan berakhir dengan tetesan air suci dari mataku.
Hanya kamu yang menjadi alasnaku untuk menentang norma.
Inilah pengorbananku, dari sebuah kebencian menjadi satu perasaan yang cukup dalam untukmu.