Aku hanya ingin bercerita sedikit tentang perbedaan. Kali ini bukan ceritaku, ini cerita sahabatku.
Sore itu, aku mendapat pesan singkat dari sahabat lamaku..Dini.
Ruapanya, ia mengajakku bertemu. Entah akan membincangkan apa, tanpa pikir panjang aku mengiyakan pesan singkatnya dan bergegas untuk bersiap menemuinya.
Aku menemuinya di sebuah cafe ternama di tengah besarnya kota Jakarta.
Aku memasuki cafe itu sambil , mencoba menelfon nomor teman lamaku.
Di sudut cafe aku melihat teman lamaku, wajahnya, rambutnya pun tidak berubah.
Aku menghampirinya ketika ia masih asyik menarikan jemarinya diatas keyboar laptopnya.
---
"Hai barbie" sapaku mungkin sedikit mengejutkan baginya.
Ia berdiri memelukku sejenak sambil mencium pipi kiri dan kananku. Ada yang aneh, matanya sangat sembab.
"Kamu kenapa? Mata kamu?" tanyaku terputus-putus.
"Ah tidak apa-apa, aku hanya lelah mengerti mau Tuhan" jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Heey, kamu bilang apa? Ayo cerita sama aku jangan gini terus" lanjutku sambil memeluknya.
Aku dan Dini duduk berhadapan.
---
Ia menceritakan isi hatinya dengan diiringi air suci dari matanya.
Sepertinya, ia memang lelah.
Ceritanya mendalam, menusuk, dan membuat hatinya semakin nyeri.
---
*Dini mengalami perasaan yang semua orang pasti memiliki. Cinta. Ya, Dini sedang merasakan itu.
Dia gadis yang sangat jarang merasakan cinta. Kedua orang tuanya bercerai. Secara logika, pasti ia jarang merasakan kasih sayang keluarga yang utuh bukan? Ya begitulah.
Beranjak dewasa ia memutuskan untuk mencari teman hidup, yang setia padanya. Tidak memandang latar belakangnya. Tidak memandang masa lalunya.
Dua tahun belakang ini, dia sedang menjalani hubungan jarak jauh serta berbeda agama dengan seseorang yang sedang berada di Australia. Sebut saja Rino.
Dini tidak bisa membohongiku dengan ketegarannya, pancaran sinar matanya terlihat sangat rapuh.
Hubungan jarak jauh yang di selimuti dengan perbedaan keyakinan bukanlah hal mudah.
Tapi Dini dan Rino tetap menguji kepercayaan mereka masing-masing.
Dini merasa Rinolah satu satunya orang di dunia ini yang bisa setia menyayanginya.
"Tapi perasaanku salah" lanjutnya dengan tangan membungkam mulut tanda tak bisa lagi menahan tangisnya.
"Aku sangat percaya padanya, hatiku pun sepenuhnya berpihak padanya. Hidupku telah aku serahkan untuknya. Aku bernafas untuknya. Aku menikmati rindu peluknya ketika ia jauh. Tapi inikah takdir Tuhan?" lanjut Dini.
"Dua hari yang lalu aku tak bia menahan rinduku, saat itu juga bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Aku memutuskan pergi ke Australia untuk beberapa hari. Pesawat yang paling pagi pun ku pilih deminya.
Sesampainya di Australia, aku memilih taxi untuk mengantarkanku dari bandara ke apartementnya.
Aku hafal nomor apartementnya. Tanpa berfikir panjang aku berjalan menuju lift untuk menuju kamarnya di lantai 18. Aku mendekapkan tangan ke tubuhku sendiri.
Aku menunggu pintu lift itu terbuka." putus Dini, matanya tidak sanggup lagi menahan air suci itu.
"Loh? Memangnya kenapa lagi Din?" tanyaku.
"Rino.... Rinoo.." lanjutnya terlihat tidak sanggup berbicara.
"Rino kenapa?" tanyaku semakin penasaran.
"Di dalam lift aku melihat Rino sedang merangkul perempuan lain" tangisnya memecah.
Aku terdiam, yang ada di benakku hanya rasa sakit yang Dini rasakan.
Aku memluk Dini erat. Aku merasakan beban hatinya. Aku merasakan sakit hatinya. Aku tau kali ini Dini benar benar hancur.
"Aku tidak sanggup menjalani kenyataan ini. Aku tidak terima. Aku selalu mengikuti keinginan Tuhan, aku selalu menuruti mau Tuhan. Tapi kenapa Tuhan tidak meberiku bahagia? Aku bertahan selama hampir 20tahun tanpa kasih sayang orang tua, ketika aku mempercayakan hidupku sepenuh untuk seseorang yang sangat aku cintai. Mengapa Tuhan menciptakan takdir ini? Harus aku menyerah dengan keadaan? Aku benar benar hancur, aku tidak sanggup lagi"
Aku hanya menatapnya membiarkan air matanya bercucuran keluar.
"Aku mengerti rasa sakitmu Din, tapi bukankah cinta penuh perjuangan? bukankah cinta selalu memiliki efek samping? Jangan menangis lagi, mungkin dia ingin mengujimu. Percayalah, Tuhan menyayangimu sangat menyayangimu. Tuhan ingin kamu lebih tegar lagi. Tuhan pasti memberimu akhir yang indah. Percayalah"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar