Di satu kondisi yang tanpa membuthkan banyak alasan aku tak bisa menolak kehadiranmu.
Indah sekali takdir Tuhan, terlalu indah dan menyakitkan bila kuceritakan semuanya.
Aku tak pernah menghindari takdirku. Seluruh hidupku ku pasrahkan pada Tuhan.
Entah harus berakhir bahagia atau justru mengenaskan.
------
Hari itu aku menatap mata seseorang, sinarnya membuat hatiku luluh.
Entah ini pertanda apa, aku melihat matahari di matanya.
Membuat hariku lebih ceria, membuat hidupku lebih indah.
Ya, memang begitu indah. Sampai detik ini pun aku masih tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat itu.
Aku hanya terpesona melihatnya. Yaa mungkin tidak lebih dari itu.
Tapi seiring berjalannya waktu, perasaan aneh mulai berkecimuk di dalam hatiku saat aku bertemu dan menata matanya.
Kali ini aku percaya Tuhan sangat adil.
Dia datang kepadaku, dia mewarnai hidupku.
Dia membuatku percaya, hidup ini masih sangat begitu indah.
Tuhan kali ini aku menikmati hidupku, menikmati hariku yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Tuhan kali ini aku mohon, jangan teralu cepat kau menginginkanku untuk mengakhiri ini.
-----
Hampir 6bulan, ia mewarnai hidupku.
Dan selama itu pun aku mempercayakan hatiku sepenuhnya padanya.
Selama itu pun aku mencoba melengkapi kekurangannya dengan kelebihanku.
Selama itu pula aku belajar untuk mengobati lukanya.
Dan selama itu pula aku dan dia mempunyai banyak sekali kenangan indah, yang jujur sangat enggan aku lupakan.
Hingga ketika, aku dan dia merayakan hari jadi kita yang ke-enam bulan di perbukitan yang indah dan dihiasi oleh hamparan cahaya kuning dari langit.
Dan dia pun membuat satu pengakuan.
------
"Sebenarnya, aku hanya menjadikanmu pelampiasan. Maafkan aku, aku tak bisa membohongimu lebih lama lagi.Aku maish menyayangi mantanku" katanya tiba tiba.
Tuhaaaan, kata kata sederhananya membuatku sangat hancur.
Aku yang selalu mempercayakan hatiku untuknya, tapi dia? Dia bahkan tak memberikan hatinya untukku. Tak mempercayakan perasaanya untukku.
"Ini memang sulit ku mengerti, aku tak pernah berharap lebih padamu sejak dulu. Tapi kamu, kamu hadir seenaknya di dalam hidupku. Dan sekarang seakan-akan kamu mengahancurkan hidupku. Siapa yang salah sekarang? Kamu, aku, mantanmu, perasaanku, perasaanmu, waktu atau bahkan Tuhan? Siapa yang pantas di salahkan? " Lanjutku berontak sambil menangis.
Aku hancur, sangat hancur.
"Biarkan aku pergi, aku tak bisa melanjutkan semuanya denganmu lagi. Aku lelah membohongi diriku sendiri. Aku memang jahat, aku tak pantas buatmu. Maafkan aku" lanjutmu.
Kamu pergi, melepaskan tanganku tanpa menunggu jawabanku.
Perih rasanya ketika merasakan ini semua.
Sangat perih.
Aku berteriak kencang melepaskan bebanku.
"Tuhaaan, tolong aku. Mengapa engkau pertemukan kami jika memang kami harus berpisah lagi? Jawaab Tuhaaaan" teriakku.
Aku hanya memandang punggungnya yang semakin menjauh.
Sulit memang menerima kenyataan ini.
------
Aku tak berusaha melupakannya, aku hanya berusaha menghapus perasaanku yang sangat dalam untuknya.
Setiap malam tanpa ku sadari selimutku selalu basah dengan air mata yang tidak sengaja aku teteskan untuk mengenangmu.
SETIAP MALAM!
Bagaimana? Apakah kurang bukti jika aku sangat menyayangimu?
Jika boleh memilih, sepertinya aku lebih memilih tidak bertemu denganmu saat itu.
Sakit rasanya ketika mengingat semuanya, sangat sakit.
Entah obat apa yang harus aku beli untuk mengobatinya.
-------
Aku menjalani kehidupanku, sepertinya memang aku bahagia.
Tapi jauh di dalam lubuk hati ini, aku masih sangat rapuh sangat sedih mengingat semuanya.
Hampir 2bulan aku menangisinya, hampir 2bulan aku sia siakan watuku untuk mengenangnya.
Hampir 2bulan juga air mata ini hanya kutujukan padamu.
Hampir 2bulan juga namamu selalu terselip dalam do'aku.
Lama kelamaan aku lelah.
Aku mencoba untuk menghapus perasaanku.
Aku percaya aku bisa.
Yaa, aku bisa!!!!!!!!!!
------
Hari ini, aku resmi mengakhiri tangisanku.
Aku memilih untuk sendiri dulu.
Untuk mencari jati diri.
Meskipun tak sepenuhnya aku menghilangkan perasaanku.
Dan masih juga harus di akui, separuh hati ini masih miliknya.
Dan masih juga harus di akui, separuh hati ini masih miliknya.
Miliknya yang hanya menjadikanku pelampiasan.
Rasa sakit ini sedikit demi sedikit menghilang.
--------------
Kini, saat aku mencoba untuk bangkit.
Mengapa ia hadir lagi degan tiba-tiba?
Sakit rasanya, sangat sakit.
Dan kali ini kamu hadir untuk membuatku mengatakan satu pengakuan.
"Jauh di dalam hatiku, perasaan untukmu masih utuh dan tersimpan rapi. Dan jauh di dalam kelopak mataku sinar matamu masih terekam. Dan harus juga ku akui, jika kini aku menangis, air mata ini sepenuhnya masih untukmu"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar