Aku sempat tidak percaya dengan kebahagiaan.
Aku sempat percaya, tapi kepercayaan itu di hancurkan.
Aku sempat memilih, tapi bukan pilihan yang tepat.
Aku sempat menyayangi tapi aku di khianati.
Kali ini aku menulis suratku untuk Tuhan, tentang seorang malaikatnya.
----------------
Tuhaaan, kau tau? Kau masih ingat kan orang yang dulu sering aku ceritakan?
Bagaimana kau lupa Tuhan? Dia masih selalu menjadi nama yang sering kusebut di dalam do'aku.
Aku bahagia Tuhan melihatnya tersenyum, tertawa dan melupakan masa lalunya.
Masa lalunya yang sangat buruk, "bersamaku".
Tuhan, maafkann aku.
Aku tidak bisa menghapusnya. Aku tidak bisa melupakannya.
Sulit untukku melupakan seorang malaikat kecil sepertinya.
Tuhan, bisa gak sih waktu di ulang lagi?
Tuhan bisa gak sih aku balik ke waktuku sama dia?
Tuhan bisa gak sih, kasih aku perasaannya lagi?
Tuhan, bisa gak sih, semuanya di "replay" lagi?
Tuhaaan.....................
Kenangan itu tidak bisa di bayar dengan apapun.
Kenangan itu masih sangat keras meleat di otakku.
Tuhaan, kenapa sesulit ini Tuhan?
Kenapa harus selama itu dulu, kau izinkan aku membuat kenangan itu bersamanya?
Jika akhirnya pun bertemu tak pernah saling beratapan lagi.
Tuhan, aku menyesal.
Kenapa aku yang harus menorehkan lukanya?
Tuhaaaaan.......
Aku rindu..... Rindu malaikat kecilku.
Tuhaaaaaaaan..........
Aku masih ingin merasakan tatapan matanya.
Aku msih ingin merasakan bahunya.
Aku masih ingin merasakan telapak tangannya.
Aku masih ingin merasakan genggamannya.
Aku masih ingin merasakan dekapannya.
Entah kapan aku bisa melupakannya, jika dia masih ada di hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar