Jumat, 02 November 2012

Apakah takdir kita bukan bersatu?

          Entah harus kumulai darimana cerita ini. Cerita antara kau dan aku ketika waktu dan norma menjadi pengarangnya.
Cerita antara kau dan aku yang mungkin sudah Tuhan rencanakan sejak lama.
Kau, aku, waktu, keadaan, pertemuan, daaaan perpisahan.

---------------------------------------------------------------------

         Sore itu ketika hujan menemaniku di sudut kota. Ketika aku berdiri di sebuah halte bus mini.
Tubuhku yang menggigil kedinginan, ketika angin menerpa.
"Hai" sapamu.
Dengan senyum sedikit memaksa aku membalas sapaanmu.
Aku hanya terkejut ketika menoleh dan menatap matamu.
Mata yang mirip sekali dengan seseorang di masa laluku.

         Awalnya, aku memang membencimu. Membenci pertemuan kita, dan membenci sinar matamu.
Karena kamu, membuatku kembali mengais masa lalu yang seharusnya aku lupakan.
Aku sangat membencimu sejak pertama kali aku melihatmu.


-----------------------------------------------------------------------

       Aku heran, mengapa keadaan selalu mempertemukan kita?
Aku tak ingin melihatmu.
Aku menghidarimu, tetapi semakin aku menjauh mengapa sosokmu semakin nyata.
Sampai pada suatu saat, aku berfikir. Apakah ini takdir? Apakah ini jalan Tuhan untuk kita?
Aku tidak ingin tersakiti lagi.

     Aku terus berfikir, berfikir dan berfikir. Hingga waktu menjawab dan mengukir cerita antara kita.
Aku selalu percaya, jika Tuhan sudah mempersiapkan seseorang untuk bersamaku selamanya.
Apakah itu kamu?
Entah, tetapi saat ini aku ingin membuktikan bahwa sosok itu memang kamu.
Seiring berjalannya waktu dan tanpa kusadari harapan itu muncul dalam benakku.
Aku mencoba menerimamu dan menambah cerita dalam perjuangan hidupku yang tak lama ini.

--------------------------------------------------------------------------

       Kita berbeda. Kita tak sama.
Jalan kita berbeda. Bahkan nama Tuhan kita pun juga berbeda.
Tapi mengapa? Tuhanku dan Tuhanmu tak memisahkan kita sejak dulu?
Sejak perasan benci untukmu belum berubah menjadi perasaan cinta?
Apakah belum cukup bukti bahwa kita memang di takdirkan bersatu?
Aku dan kamu mencoba untuk menyatukan rasa ini.
Mencoba menyatukan takdir kita.
      Percayalah, hanya dirimu yang selalu aku perbincangkan dengan Tuhan dan berakhir dengan tetesan air suci dari mataku.
Hanya kamu yang menjadi alasnaku untuk menentang norma.
Inilah pengorbananku, dari sebuah kebencian menjadi satu perasaan yang cukup dalam untukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar