Jumat, 08 Februari 2013

Malaikat Tanpa Sayap

Aku adalah remaja kecil yang baru merasakan asiknya menjadi seorang pelajar berseragam putih abu-abu.
Panggil saja aku Nelia.
Sederhana bukan? Menurut beberapa orang yang mengetahui namaku, namaku sangat sederhana namun indah.
Aku sendiri pernah mempunyai perasaan seperti itu aku merasa namaku memang indah tapi mungkin jalan hidupku tak seindah namaku.
Sejak kecil aku sudah tingal di panti asuhan. Menurut kepala panti asuhanku, aku adalah anak yatim piatu yang ditingal orang tuaku pergi ke surga.
Entah mengapa Tuhan menginginkan mereka ketika aku benar benar membutuhkan mereka untuk mengenal dunia.
Tapi, kenyataannya aku bahagia disini.
Aku merasakan keluarga yang utuh sama seperti mereka yang tidak bertempat tingal di panti asuhan.
Tapi, kehidupanku berbeda jauh dengan mereka.
Bukan karena materi atau status sosial tapi karna sejak aku kecil aku telah di vonis tidak sama dengan mereka karena penyakitku.
Sel kanker yang ada di dalam tubuhku ini sudah hampir memasuki stadium lanjut ketika aku duduk di bangku SMP. Aku memang sempat putus asa karena penyakitku, tapi apapun yang aku miliki sekarang membuatku kembali merasa kuat dan tegar.
Apalagi setelah aku merasakan jatuh cinta.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari ini aku resmi menjadi siswi kelas 3SMP yang akan melanjutkan sekolah di tingkat SMA.
Aku memang memiliki banyak teman. Tapi aku merasa tak punya teman dekat atau bahkan bisa di bilang sahabat.
Tiba - tiba perasaan aneh menyerangku ketika aku melihat ada siswa baru di sekolahku.
Tanpa membutuhkan usaha yang sulit, aku telah mengetahui namanya.
David. Satu - satunya laki laki yang membuatku merasakan perasaan aneh.
Entah bagaimana caranya Tuhan mempermainkan perasaan ini, tapi yang jelas dalam tanda kutip David menjadi semangatku utnuk menjalani hidup secara diam - diam.
Takdir Tuhan terlalu indah untuk saat ini, aku dekat dengan David entah apa yang membuatku merasa nyaman saat bersamanya.
Tiba - tiba rasa takut kehilangan diam - diam mengerogoti hatiku.
Semakin lama, aku semakin dekat dengan David entah bagaimana cara menceritakannya.
Dan semakin lama pula aku bersamanya, maka perasaan takut kehilangan semakin besar padahal sudah jelas - jelas aku tak memilikinya.
Aku tak pernah berharap lebih uintuk bisa bersamanya, karena aku tahu hidupku tak seindah hidup perempuan perempuan lain yang menyukainya.
Aku takut berharap lebih, tapi setiap aku tak ingin berharap. Ia semakin membuatku berharap.

 ------------------------------------------------------------------------------

"Nelia aku boleh ngomong sesuatu?" tanya David di kantin saat jam istirahat.
"Ya, ngomong aja kalik vid" jawabku.
"Maaf ya sebelumnya" lanjutnya.
Aku memberhentikan kunyahanku. Aku penasaran,mimik wajahnya terlalu serius.
"Kenapa?" lanjutku.
"Maaf jika aku lancang, diam diam aku mencari tahu latar belakangmu. Aku tau semua tentangmu. Termasuk penyakitmu. Apakah kamu tau arti perhatianku selama ini?" jelasnya.
Aku terkejut, pikiranku melayang.
Bagaimana bisa penyakit yang selalu aku tutup - tutupi bisa terbongkar?
Aku terdiam, tanpa kusadari air mataku menetes. Nafsu makanku hilang.
"Aku ngga tau apa - apa vid. Aku tidak pernah berani untuk berharap lebih mangkanya aku tidak pernah berfikir apa parti perhatianmu. Karena aku tau, aku tidak sesempurna mereka" jelasku.
David menganggam tanganku. Ia menghapus air mataku.
"Aku ngga pernah minta kamu sempurna Nelia. Aku suka semangatmu. Aku menyayangimu melebihi rasa sayang seorang teman" lanjutnya.
Aku terkejut, aku terdiam. Bibirku tak sanggup berucap. Air mataku semakin dera.
David memandangku lalu mengusap air mataku.
Aku berusaha menjelaskan.
"Kamu tau semuanya kan? Apa kamu juga tau apa alasanku menutupi semuanya?" tanyaku.
David menggeleng, dari pancaran matanya aku bisa melihat rasa ingin tahunya.
"Karna aku taku kehilangan teman temanku, dan yang lebih penting lagi aku takut kehilanganmu David. Tanpa pernah aku minta dan aku mau, kamu adalah salah satu semangatku untuk terus menjalani hari. Maaf" jelasku sambil menangis.
"Aku tak pernah punya niat untuk meninggalkanmu Nelia. Terlepas dari satatus aku bukan siapa - siapamu. Aku bahagia jika aku adalah salah satu semangatmu. AKu tak pernah membutuhkan status untuk hubungan kita. Aku hanya membutuhkanmu untuk emngisi kekosongan di dalam hati ini. Percaya padaku, kamu tak perlu takut kehilanganku karena kamu tidak akan kehilanganku" jelas David.
Aku mengusap air mataku.
Entah bagaimana, aku mudah sekali percaya padanya. Mungkin karena dialah yang pertama membuatku yakin bahwa seorang teman pun tak akan meninggalkanku jika mereka mengetahui penyakitku.

----------------------------------------------------------------------------

Hari ini pengumuman kelulusan.
Tidak pernah kusadari aku menjadi siswi yang mendapatkan nilai tertinggi untuk kelulusan tahun ini.
Aku bahagia sekali.
Aku membuat orang yang menyayangiku bangga padaku.
Terutama ibu panti yang telah merawatku layaknya merawat anak kandungnya.
Kemudian, David. Satu - satunya laki laki sebayaku yang menjadi semangatku.
"Neliaaaa luluuuuuuuus" teriakku di tengah lapangan basket sekolahku.
Teman teman memberi selamat padaku, mungkin mereka mengetahui siapa yang mendapat nilai paling tinggi.
Aku menyambutnya dengan senyuman bahagia.
Aku memeluk ibu panti dan membagi kebahagiaanku.
Ibu panti mencium keningku sambil menangis terharu karena kebahagiaan.
Aku memeluk David, ia memberi ucapan untukku.
Hari ini, aku bahagia Tuhan.
Untuk kesekian kalinya, Terimakasih Tuhan telah memberiku kebahagiaan.

------------------------------------------------------------------------------------

Hari ini  adalah acara pelepasan siswa kelas 3 di sekolah SMPku.
Aku mengisi acar ini dengan bermain gitar dan bernyanyi.
Dari dulu, aku memang menyukai suara gitar yang selalu membuat hatiku tenang.
Dan membuatku mempunyai niat untuk bisa memainkannya dengan merdu.
Aku ingin mencoba kemampuanku bermain gitar selama ini, itulah alasanku mengisi acara ini.

Aku menunggu giliranku di belakang stage.
Aku mecoba menghilangkan rasa demam panggungku dengan mencoba menarikan jemariku di atas senar gitar.
Tapi lama kelamaan, aku merasa mataku berkunang kunang.
Aku menahanya, hingga seorang temanku menyadarkanku bahwa ini adalah giliranku.
Aku hanya berdoa agar bisa melewati ini semua.
Aku menaiki tangga di balik panggung.
Aku duduk di kursi yang di sediakan panitia.
Tak lama kemudian, alunan gitarku di dengarkan oleh banyak orang yang hadir di sekolah ini.
Tak pernah aku sadari, mereka memberiku standing applause.
Untuk keskian kalinya, aku merasa sangat bahagia diatas penyakitku.

----------------------------------------------------------------------------------

Hari ini adalah jadwalku kembali ke dokter spesialis penyakit kanker.
Aku tidak sendirian, aku di temani oleh ibu pantiku.
Setelah dokter memeriksaku, dokter menyuruhku menunggu hasilnya.
Hasilnya membuat dadaku nyeri.
"Sel kanker yanga da di tubuh kamu semakin menjadi, kamu hampir di kategorikan dalama kanker sel darah putih stadium 4" jelas dokter dengan mimik sedikit kurang enak.
ku hanya menunduk dan mencoba lebih tegar mendengarnya.
"Mungkin seminggu lagi kamu mulai menjalani kemotherapy seperti dulu lagi" lanjut sang dokter.
Aku menangis mendengar kenyataan yang harus kembali aku jalani.
Aku tak sanggup lagi emndengar penjelasan Dokter, aku memutuskan keluar dan merenung di taman belakang rumah sakit.
Aku membayangkan sakitnya tubuhku saat menjalani kemotherapy dan membuatku menyerah menghadapi kenyataan.
Aku membayangkannya, sangat sulit menerkanya.
Aku membutuhkan David saat ini.
Handphoneku mulai menghubunginya. Nada sambung yang terdengar membuatku semakin tidak sabar.
Lega rasanya, ketika suara David mulai muncul dari seberang sana.

"Halo David" sapaku sedikit terisak.
"Halo Neliaku, ada apa? Kamu kenapa?" jawabnya dari seberang sana sedikit khawatir.
"Kamu bisa ke rumah sakit biasa aku ke dokter ngga? Aku butuh kamu. Aku tunggu kamu di taman belakang rumah sakit ya." lanjutku.
"Iya iya aku kesana sekarang" lanjut David.

Aku setia menunggu David.
Hingga sosoknya mucul dan duduk di bangku ini bersamaku.
Aku memeluknya, aku menangis di bahunya.
David memelukku, ia menghapus air mataku.
"Hei udah jangan nangis. Kamu kenapa?" tanya David.
"Vid, aku.. aku takut" lanjutku.
"Takut kenapa Nel?"  tanya David.
"Dokter menyuruhku kembali menjalani kemptheraphy. Menurut hasil pemeriksaan sel kankerku sudah memasuki stadium4" lanjut dan kembali menangis di pelukan David.
"Jadi.. kamu? Udah jalanin aja, itu semua juga demi kamu kan. Ngga sakit kok, asal kamu punya semangat buat terus jalaninya. Sama seperti yang lalu - lalu." kata David sambil menghapus air mataku.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menangis.

"Udah udah jangan nangis. Aku temenin kamu kemotheraphy ya" lanjutnya.
Aku terdiam. Semangatku mulai ada lagi. Senyumku sedikit mengembang.
"Beneran?" tanyaku.
David hanya mengangguk.

----------------------------------------------------------------------------

Hari ini aku menjalani kemotheraphy dan di temani dengan penyemangatku. David.
Ia rela kuremas tangannya saat aku merintih kesakitan.
Ia setia mendengar teriakanku saat obat kimia mulai menjalar di tubuhku.
Ia setia menghapus air mataku yang jatuh saat tubuhku sedikit menolak reaksi obat kimianya.
Sakit Tuhan. Sakit.


        Beberapa jam kemudian, aku keluar dari ruang kemotherapy menyakitkan itu.
Tubuhku lemas, rasa sakit yang amat sangat di rasakan sampai tulang.
Tapi, di sebelahku ada seorang malaikat tanpa sayap. David.
Tangannya masih setia menopangku, membantuku berjalan.
David mendudukanku di bangku ruang tunggu.
Ia membiarkan kepalaku bersandar di bahunya.
Ia membiarkan air mataku membasahi bajunya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Entah bagaimana cerita Tuhan selanjutnya, aku hanya ingin berterimakasih pada Tuhan.
Memberiku penyakit yang hampir membunuhku. Lalu, mengirim malaikatnya untuk membantuku.
Aku hanya takut kehilangan semua yang sudah aku miliki.
Termasuk semangat hidupku.
Hanya tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya, membiarkan malaikat di sampingku ini pergi jauh.
Hanya tak tahu akan bagaimana jika tangan yang membantuku berjalan ini tak ada lagi.
Entah, mana yang lebih menyakitkan? Melihat malaikatku berjalan menjauhiku atau menghilangkan penyakitku melalui kemotheraphy?
Yang jelas, sampai saat ini aku mempercayakan sepenuhnya perasaanku untuk malaikat tanpa sayapku ini.




1 komentar: