Pagi ini, aku menyeka air mata yang turun dari pelupuk mataku.
Air mata yang selalu jatuh untukmu, seseorang yang mempunyai arti untuk hidupku.
Air mataku selalu bercerita tentangnya ketika bibirku tak sanggup lagi mengeluarkan isi hatiku.
Perih.Ketika seseorang yang terlalu berarti justru tak lagi memberiku "arti" bahagia.
Kamu terlalu berarti untuk hidupku. Hingga semua abjad tak bisa lagi ku rangkai menjadi kata untuk menjelaskan betapa berartinya kamu.
Meskipun, semua abjad bisa kau rangkai dengan kalimat indah yang membuatku melayang lalu di kenyataan aku tidak ada artinya sama sekali.
Ya begitulah, "when someone be the meaning of my life even when i don't mean in his love. He didn't love me even when i could do anything for him". Bayangkan saja.
Bahagiaku kamu. Ya, memang. Tapi tidak semua hal yang kamu lakukan selalu membuatku bahagia.
Kamu tidak akan pernah mengerti, bagaimana caranya terus bahagia jika seorang yang berarti sudah tidak lagi sama seperti dulu.
Entah apa yang membuatku begitu, tulus untukmu atau bodoh karenamu?
Ketika aku terus memperjuangkan seseorang yang tidak pernah memperjuangkanku.
Kamu pikir aku juga ingin di perjuangkan seperti orang lain?
Tidak. Aku hanya ingin kamu menghargai semua perjuanganku dengan senyum bahagiaku bukan air mata yang jatuh deras seperti ini.
Aku memang bukan prioritasmu tapi paling tidak aku membutuhkanmu.
Tolong lah hargai walau hanya sedikit. Jangan menyia-nyiakan orang yang menyayngimu dengan tulus (lagi).
Aku yang selalu rela mengalah demi teman-temanmu.
Aku yang selalu rela mengalah saat kamu tidak enak hati.
Aku yang selalu mengalah untuk semua hal dan kamu memang selalu menang.
Aku terlalu jujur untuk mengungkapkan perasaanku meskipun kamu tidak pernah membalasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar