Minggu, 29 Desember 2013

Bahagialah

     Aku terbangun saat handphone ku bergetar. Tubuhku masih tak mau terangkat dari tempat tidur.
Handphone ku kembali bergetar dengan nada agak panjang tanda ada telepon masuk. Dengan malas aku menempelkan benda elektronik itu ke dekat telinga.

"Halo" sapaku tanpa melihat nomor siapa yang menelfon.
"Tolong, baca smsku ya" jawab suara di seberang sana, aku memaksa mataku bisa terbuka seperti biasanya. Nafasku terasa tercekat di tenggorokan ketika aku tahu siapa orang di seberang itu.
Aku mematikan telfon dan dengan kecepatan paling tinggi jemariku membuka pesan singkat itu.
'Aku mau jemput kamu'. Aku tidak mengerti maksut orang ini. Orang yang tiba tiba pergi lalu datang kembali. Orang yang sedang berusaha aku lupakan dengan membuang sejuta harapan.

     Aku berjalan mendekati jendela, ayunan di taman rumahku terlihat mengembun rupanya hujan baru saja mereda.
Kenangan itu kembali terbayang. Kenangan yang seharusnya sudah aku lupakan.
Air di pelupuk mataku akan segera terjun dengan bebas, dengan kesadaran penuh aku menghapus air itu dengan tanganku sendiri dan kemudian bersiap setelah teringat isi dari pesan singkat tadi.
Terdengar suara ketukan, ah pasti itu dia. Aku mengeratkan sweaterku sepertinya udara diluar dingin.
Aku membuka pintu. Jantungku terasa berdetak sangat cepat melihat seseorang di depanku ini. Semuanya masih sama. Rambutnya, matanya, tatapannya, dan senyumnya.
Dia menggandneg tanganku, mengajakku berjalan menuju motornya.
'Kita mau kemana?' tanyaku di atas motornya.
'Pantai' jawabnya singkat.
Motornya melaju dengan kecepatan semakin tinggi. Tangan sebelah kirinya menyentuh tangan kiriku dan mendaratkan di pinggangnya.
Entahlah apa yang seharusnya bisa aku rasakan. Akhirnya, kedua tanganku merengkuh pinggangnya dan menyandarkan kepalaku di dekat bahunya.

     Pantai di timur kota Yogyakarta ini sangat indah. Aku duduk menikmati gerakan ombak di tepinya.
Dia memberiku minuman hangat lalu duduk di sebelahku tanpa banyak bicara.
Aku melihat gerakannya, lalu buru-buru memalingkan wajahku ke arah ombak.
Hatiku terasa berontak. Orang yang mati matian aku perjuangkan tiba tiba pergi. Lalu saat aku mati matian berjuang untuk melupakannya dia datang dan membawa harapan.
Entahlah, perasaanku masih sama. Walaupun tidak pernah ada ikatan pasti dalam hubungan ini.
       'Rasanya waktu berjalan sangat cepat ya jika aku bersamamu' suaranya yang agak berat itu memecah keheningan.
Aku hanya diam. Tidak berani berbicara. Tidak berani bergerak.
Rasanya luka lamaku kembali terobek saat mendengar suara yang agak berat tadi.
Rasanya semua kenangan yang ingin aku buang kembali terngiang di atas kepala.
Rasanya sosok yang berusaha aku lepaskan tiba tiba kuregkuh lagi dalam pelukan.
       'Aku tahu aku menyakitimu. Aku ingin minta maaf. Aku memang menyayangimu tapi rasanya keadaan tidak memihak pada kita. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku minta maaf pernah menyaitimu' suara agak berat itu kembali keluar.
Mendengarnya saja aiar mataku rasanya ingin cepat cepat meluncur. Sekuat hatiku aku menahannya.
       'Tolong jangan menangis di hadapanku. Aku tidak sanggup melihatnya. Aku ingin melihatmu bahagia. Dengan atau tanpaku'  tambahnya lagi.
Aku tidak sanggup menahan air mataku lagi. Aku membiakan air mataku jatuh dengan derasnya.
        'Apasih yang kamu mau? Kamu datang memberi harapan lalu pergi saat aku mati matian memperjuangkanmu. Lalu kembali saat aku mati matian berusaha melupakanmu. Apa mau kamu? Jika kamu pergi dengan luka tolong jangan kembali dengan mudahnya. Hatiku sudah lelah kau hancurkan lalu kau susun lagi dan akhirnya kau jatuhkan lagi. Tolong jangan bilang sayang jika nyatanya kamu pergi tanpa alasan' jelasku dengan nada tersedu.
Kamu hanya menunduk diam tanpa suara. Aku masih menangis. Tanganmu mendekat ke wajahku, tanganmu menghapus air mataku.
         'Jika ada satu saja alasan untuk tidak meninggalkanmu aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tetapi keadaan selalu memaksaku untuk meninggalkanmu meskipun hatiku tetap berdiri di depan hatimu. Aku pergi tanpa alasan karna terlalu banyak alasan yang memaksaku pergi meninggalkanmu dan aku tahu itu akan membuatmu menangis. Aku benci melihat sesorang yang aku sayangi menangis karenaku' jelasnya dalam posisi yang tanpa jarak, dalam sebuah pelukan yang semakin membuatku terisak.

Aku melepaskan pelukannya. 'Aku benci kamu. Aku terlalu mengharapkanmu. Kamu bilang sayang? Tapi kamu pergi dengan gampangnya tanpa mengerti bagaimana perasaanku? Bagaimana hancurnya hatiku. Dan kamu tidak akan pernah tahu. Jika memang tidak ada alasan untuk tetap bersamaku tolong jangan pernah kembali lagi. Tinggalkan aku sekarang juga' kataku dengan air mata yang jatuh dengan derasnya.
Kamu bergerak agak menjauh dari tempatmu semula. Kamu berdiri di depanku dan berkata 'aku selalu menyayangimu. bahagialah dengan atau tanpaku' tambahmu lalu pergi.
Aku ingin mati saat ini juga. Bagaimana  bisa dia membuatku senang dan hancur dalam waktu yang bersamaan. Aku melihat sosoknya yang semakin menjauh tanpa melihat ada aku di belakangnya.
Air mataku semakin deras, tangisku semakin terisak. Hatiku hancur seperti mati rasa. Lagi lagi hatiku hancur karena sosokmu. Sosok yang selalu semu dlaam hidupku.
Ingin rasanya aku berlari, berteriak agar kau kembali. Mencengkeram bahumu agar kau tahu aku selalu disini. Namun, bahasaku tinggal rasa. Rasa yang tidak akan pernah kau mengerti.
Kamu seolah membuangku dengan sengaja, padahal kamu tahu aku selalu ada.

2 komentar: