Hari ini, bolehkah aku sedikit menceritakan sebuah masa? Entah apa nama yang cocok untuk masa yang aku ceritakan ini.
Tapi, hari ini. Aku merasakan kehilangan. Dan aku benci kehilanganku kali ini.
Aku tau aku baik-baik saja. Jauh dari kata tidak baik-baik saja.
Aku tau, merasakan kehilangan dengan orang yang tak ber status apa-apa itu salah. Merasakan kehilangan seseorang yang mungkin tak pernah sekalipun aku harapkan.
Salah memang, dia bukan siapa-siapa dalam hidupku.
Bahkan, untuk menghafalkan wajahnya saja aku enggan.
Aku bahkan tidak pernah merasakan perasaan aneh setiap di dekatnya.
Tapi hari ini, setelah beribu menit kita tidak saling memberi kabar.Tidak bertemu.
Aku merasa kehilangan sosokmu, yang mungkin kini telah berjalan jauh meninggalkanku.
Sosok yang mungkin tak pernah ku rasakan perasaan.
Sosok yang tak pernah ku sadari kehadirannya.
Sosok yang di anggap orang lain sempurna, dan tidak berarti apapun di mataku.
Sosok yang mungkin jauh lebih mengerti aku.
Hari itu, entah tanggal berapa aku bahkan tidak ingat. Karna jujur, aku tak pernah mengharapkan pertemuan dengaanmu.
Hujan deras dan petir yang membuatku enggan sendirian. Tiba-tiba, kamu menepuk bahuku.
Rasanya masih biasa saja, bahkan kalau boleh jujur.
Bukan kamu orang yang aku harapkan untuk mengahampiriku.
Aku bahkan tidak pernah menganggap semua kata cintamu itu nyata.
Karna aku tak pernah ingin jatuh hati padamu. Seorang laki-laki yang baru memiliki ktp.
Seseorang yang pernah menceritakan cita-cita pilotnya.
Seseorang yang memberi jas hujannya agar badanku tidak basah padah dia basah kuyup.
Seseorang yang rela menunggu berjam-jam untuk bertemu denganku.
Seseorang yang rela mengukur jarak untuk menjemputku.
Seseorang yang pesannya ku abaikan.
Bahkan telefonnya selalu ku tolak.
Seseorang yang selalu menatapku ketika aku bercerita.
Seseorang yang takut membelai rambutku.
Seseorang yang takut menyentuh tanganku.
Seseorang yang takut memelukku.
Karna satu alasan, dia takut pelukannya tak berbalas.
Bahkan, ia rela menahan egonya demi menyelamatkan egoku.
Ia rela menahan rindunya, karna aku tak pernah meraskaan rindunya.
Ia rela memendam perasaanya, agar aku nyaman di dekatnya.
Ia rela menunggu balasan pesannya tanpa memaksaku untuk membalasnya.
Katanya, cukup mengetahui bahwa aku membaca pesannya saja ia tenang.
Katanya, "run if you want to run. go if you want to go. but, when you're tired. Look behind you, there's me".
Katanya, "puncak rindu terhebat adalah ketika dua orang tak saling memberi kabar tetapi slaing mendoakan"
Dan dengan gampangnya bibirku mengucap bahwa namanya tak pernah terucap sekalipun di doaku.
Jahat. Memang.
Aku tak pernah merasakan kenyamanan lebih dari sebatas teman.
Hingga aku menyadari satu hal ketika dia pergi. Aku kehilangannya.
Tuhan, jika aku bisa memutar waktu.
Biarkan aku merasakan halus tangannya menyentuhku.
Biarkan aku merasakan hangat pelukannya memelukku..
Tanpa perduli siapa aku dalam hidupnya.
Untuk kamu, calon siswa BIFA yang entah sekarang sedang apa dan dimana.
Untuk kamu, yang kini sangat jauh untuk ku rengkuh.
Untuk kamu, yang mungkin berusaha mencari bahagiamu.
Kamu tau, aku kehilanganmu.
Jumat, 18 Maret 2016
Senin, 30 Juni 2014
Mean
Pagi ini, aku menyeka air mata yang turun dari pelupuk mataku.
Air mata yang selalu jatuh untukmu, seseorang yang mempunyai arti untuk hidupku.
Air mataku selalu bercerita tentangnya ketika bibirku tak sanggup lagi mengeluarkan isi hatiku.
Perih.Ketika seseorang yang terlalu berarti justru tak lagi memberiku "arti" bahagia.
Kamu terlalu berarti untuk hidupku. Hingga semua abjad tak bisa lagi ku rangkai menjadi kata untuk menjelaskan betapa berartinya kamu.
Meskipun, semua abjad bisa kau rangkai dengan kalimat indah yang membuatku melayang lalu di kenyataan aku tidak ada artinya sama sekali.
Ya begitulah, "when someone be the meaning of my life even when i don't mean in his love. He didn't love me even when i could do anything for him". Bayangkan saja.
Bahagiaku kamu. Ya, memang. Tapi tidak semua hal yang kamu lakukan selalu membuatku bahagia.
Kamu tidak akan pernah mengerti, bagaimana caranya terus bahagia jika seorang yang berarti sudah tidak lagi sama seperti dulu.
Entah apa yang membuatku begitu, tulus untukmu atau bodoh karenamu?
Ketika aku terus memperjuangkan seseorang yang tidak pernah memperjuangkanku.
Kamu pikir aku juga ingin di perjuangkan seperti orang lain?
Tidak. Aku hanya ingin kamu menghargai semua perjuanganku dengan senyum bahagiaku bukan air mata yang jatuh deras seperti ini.
Aku memang bukan prioritasmu tapi paling tidak aku membutuhkanmu.
Tolong lah hargai walau hanya sedikit. Jangan menyia-nyiakan orang yang menyayngimu dengan tulus (lagi).
Aku yang selalu rela mengalah demi teman-temanmu.
Aku yang selalu rela mengalah saat kamu tidak enak hati.
Aku yang selalu mengalah untuk semua hal dan kamu memang selalu menang.
Aku terlalu jujur untuk mengungkapkan perasaanku meskipun kamu tidak pernah membalasnya.
Air mata yang selalu jatuh untukmu, seseorang yang mempunyai arti untuk hidupku.
Air mataku selalu bercerita tentangnya ketika bibirku tak sanggup lagi mengeluarkan isi hatiku.
Perih.Ketika seseorang yang terlalu berarti justru tak lagi memberiku "arti" bahagia.
Kamu terlalu berarti untuk hidupku. Hingga semua abjad tak bisa lagi ku rangkai menjadi kata untuk menjelaskan betapa berartinya kamu.
Meskipun, semua abjad bisa kau rangkai dengan kalimat indah yang membuatku melayang lalu di kenyataan aku tidak ada artinya sama sekali.
Ya begitulah, "when someone be the meaning of my life even when i don't mean in his love. He didn't love me even when i could do anything for him". Bayangkan saja.
Bahagiaku kamu. Ya, memang. Tapi tidak semua hal yang kamu lakukan selalu membuatku bahagia.
Kamu tidak akan pernah mengerti, bagaimana caranya terus bahagia jika seorang yang berarti sudah tidak lagi sama seperti dulu.
Entah apa yang membuatku begitu, tulus untukmu atau bodoh karenamu?
Ketika aku terus memperjuangkan seseorang yang tidak pernah memperjuangkanku.
Kamu pikir aku juga ingin di perjuangkan seperti orang lain?
Tidak. Aku hanya ingin kamu menghargai semua perjuanganku dengan senyum bahagiaku bukan air mata yang jatuh deras seperti ini.
Aku memang bukan prioritasmu tapi paling tidak aku membutuhkanmu.
Tolong lah hargai walau hanya sedikit. Jangan menyia-nyiakan orang yang menyayngimu dengan tulus (lagi).
Aku yang selalu rela mengalah demi teman-temanmu.
Aku yang selalu rela mengalah saat kamu tidak enak hati.
Aku yang selalu mengalah untuk semua hal dan kamu memang selalu menang.
Aku terlalu jujur untuk mengungkapkan perasaanku meskipun kamu tidak pernah membalasnya.
Minggu, 29 Desember 2013
Bahagialah
Aku terbangun saat handphone ku bergetar. Tubuhku masih tak mau terangkat dari tempat tidur.
Handphone ku kembali bergetar dengan nada agak panjang tanda ada telepon masuk. Dengan malas aku menempelkan benda elektronik itu ke dekat telinga.
"Halo" sapaku tanpa melihat nomor siapa yang menelfon.
"Tolong, baca smsku ya" jawab suara di seberang sana, aku memaksa mataku bisa terbuka seperti biasanya. Nafasku terasa tercekat di tenggorokan ketika aku tahu siapa orang di seberang itu.
Aku mematikan telfon dan dengan kecepatan paling tinggi jemariku membuka pesan singkat itu.
'Aku mau jemput kamu'. Aku tidak mengerti maksut orang ini. Orang yang tiba tiba pergi lalu datang kembali. Orang yang sedang berusaha aku lupakan dengan membuang sejuta harapan.
Aku berjalan mendekati jendela, ayunan di taman rumahku terlihat mengembun rupanya hujan baru saja mereda.
Kenangan itu kembali terbayang. Kenangan yang seharusnya sudah aku lupakan.
Air di pelupuk mataku akan segera terjun dengan bebas, dengan kesadaran penuh aku menghapus air itu dengan tanganku sendiri dan kemudian bersiap setelah teringat isi dari pesan singkat tadi.
Terdengar suara ketukan, ah pasti itu dia. Aku mengeratkan sweaterku sepertinya udara diluar dingin.
Aku membuka pintu. Jantungku terasa berdetak sangat cepat melihat seseorang di depanku ini. Semuanya masih sama. Rambutnya, matanya, tatapannya, dan senyumnya.
Dia menggandneg tanganku, mengajakku berjalan menuju motornya.
'Kita mau kemana?' tanyaku di atas motornya.
'Pantai' jawabnya singkat.
Motornya melaju dengan kecepatan semakin tinggi. Tangan sebelah kirinya menyentuh tangan kiriku dan mendaratkan di pinggangnya.
Entahlah apa yang seharusnya bisa aku rasakan. Akhirnya, kedua tanganku merengkuh pinggangnya dan menyandarkan kepalaku di dekat bahunya.
Pantai di timur kota Yogyakarta ini sangat indah. Aku duduk menikmati gerakan ombak di tepinya.
Dia memberiku minuman hangat lalu duduk di sebelahku tanpa banyak bicara.
Aku melihat gerakannya, lalu buru-buru memalingkan wajahku ke arah ombak.
Hatiku terasa berontak. Orang yang mati matian aku perjuangkan tiba tiba pergi. Lalu saat aku mati matian berjuang untuk melupakannya dia datang dan membawa harapan.
Entahlah, perasaanku masih sama. Walaupun tidak pernah ada ikatan pasti dalam hubungan ini.
'Rasanya waktu berjalan sangat cepat ya jika aku bersamamu' suaranya yang agak berat itu memecah keheningan.
Aku hanya diam. Tidak berani berbicara. Tidak berani bergerak.
Rasanya luka lamaku kembali terobek saat mendengar suara yang agak berat tadi.
Rasanya semua kenangan yang ingin aku buang kembali terngiang di atas kepala.
Rasanya sosok yang berusaha aku lepaskan tiba tiba kuregkuh lagi dalam pelukan.
'Aku tahu aku menyakitimu. Aku ingin minta maaf. Aku memang menyayangimu tapi rasanya keadaan tidak memihak pada kita. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku minta maaf pernah menyaitimu' suara agak berat itu kembali keluar.
Mendengarnya saja aiar mataku rasanya ingin cepat cepat meluncur. Sekuat hatiku aku menahannya.
'Tolong jangan menangis di hadapanku. Aku tidak sanggup melihatnya. Aku ingin melihatmu bahagia. Dengan atau tanpaku' tambahnya lagi.
Aku tidak sanggup menahan air mataku lagi. Aku membiakan air mataku jatuh dengan derasnya.
'Apasih yang kamu mau? Kamu datang memberi harapan lalu pergi saat aku mati matian memperjuangkanmu. Lalu kembali saat aku mati matian berusaha melupakanmu. Apa mau kamu? Jika kamu pergi dengan luka tolong jangan kembali dengan mudahnya. Hatiku sudah lelah kau hancurkan lalu kau susun lagi dan akhirnya kau jatuhkan lagi. Tolong jangan bilang sayang jika nyatanya kamu pergi tanpa alasan' jelasku dengan nada tersedu.
Kamu hanya menunduk diam tanpa suara. Aku masih menangis. Tanganmu mendekat ke wajahku, tanganmu menghapus air mataku.
'Jika ada satu saja alasan untuk tidak meninggalkanmu aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tetapi keadaan selalu memaksaku untuk meninggalkanmu meskipun hatiku tetap berdiri di depan hatimu. Aku pergi tanpa alasan karna terlalu banyak alasan yang memaksaku pergi meninggalkanmu dan aku tahu itu akan membuatmu menangis. Aku benci melihat sesorang yang aku sayangi menangis karenaku' jelasnya dalam posisi yang tanpa jarak, dalam sebuah pelukan yang semakin membuatku terisak.
Aku melepaskan pelukannya. 'Aku benci kamu. Aku terlalu mengharapkanmu. Kamu bilang sayang? Tapi kamu pergi dengan gampangnya tanpa mengerti bagaimana perasaanku? Bagaimana hancurnya hatiku. Dan kamu tidak akan pernah tahu. Jika memang tidak ada alasan untuk tetap bersamaku tolong jangan pernah kembali lagi. Tinggalkan aku sekarang juga' kataku dengan air mata yang jatuh dengan derasnya.
Kamu bergerak agak menjauh dari tempatmu semula. Kamu berdiri di depanku dan berkata 'aku selalu menyayangimu. bahagialah dengan atau tanpaku' tambahmu lalu pergi.
Aku ingin mati saat ini juga. Bagaimana bisa dia membuatku senang dan hancur dalam waktu yang bersamaan. Aku melihat sosoknya yang semakin menjauh tanpa melihat ada aku di belakangnya.
Air mataku semakin deras, tangisku semakin terisak. Hatiku hancur seperti mati rasa. Lagi lagi hatiku hancur karena sosokmu. Sosok yang selalu semu dlaam hidupku.
Ingin rasanya aku berlari, berteriak agar kau kembali. Mencengkeram bahumu agar kau tahu aku selalu disini. Namun, bahasaku tinggal rasa. Rasa yang tidak akan pernah kau mengerti.
Kamu seolah membuangku dengan sengaja, padahal kamu tahu aku selalu ada.
Handphone ku kembali bergetar dengan nada agak panjang tanda ada telepon masuk. Dengan malas aku menempelkan benda elektronik itu ke dekat telinga.
"Halo" sapaku tanpa melihat nomor siapa yang menelfon.
"Tolong, baca smsku ya" jawab suara di seberang sana, aku memaksa mataku bisa terbuka seperti biasanya. Nafasku terasa tercekat di tenggorokan ketika aku tahu siapa orang di seberang itu.
Aku mematikan telfon dan dengan kecepatan paling tinggi jemariku membuka pesan singkat itu.
'Aku mau jemput kamu'. Aku tidak mengerti maksut orang ini. Orang yang tiba tiba pergi lalu datang kembali. Orang yang sedang berusaha aku lupakan dengan membuang sejuta harapan.
Aku berjalan mendekati jendela, ayunan di taman rumahku terlihat mengembun rupanya hujan baru saja mereda.
Kenangan itu kembali terbayang. Kenangan yang seharusnya sudah aku lupakan.
Air di pelupuk mataku akan segera terjun dengan bebas, dengan kesadaran penuh aku menghapus air itu dengan tanganku sendiri dan kemudian bersiap setelah teringat isi dari pesan singkat tadi.
Terdengar suara ketukan, ah pasti itu dia. Aku mengeratkan sweaterku sepertinya udara diluar dingin.
Aku membuka pintu. Jantungku terasa berdetak sangat cepat melihat seseorang di depanku ini. Semuanya masih sama. Rambutnya, matanya, tatapannya, dan senyumnya.
Dia menggandneg tanganku, mengajakku berjalan menuju motornya.
'Kita mau kemana?' tanyaku di atas motornya.
'Pantai' jawabnya singkat.
Motornya melaju dengan kecepatan semakin tinggi. Tangan sebelah kirinya menyentuh tangan kiriku dan mendaratkan di pinggangnya.
Entahlah apa yang seharusnya bisa aku rasakan. Akhirnya, kedua tanganku merengkuh pinggangnya dan menyandarkan kepalaku di dekat bahunya.
Pantai di timur kota Yogyakarta ini sangat indah. Aku duduk menikmati gerakan ombak di tepinya.
Dia memberiku minuman hangat lalu duduk di sebelahku tanpa banyak bicara.
Aku melihat gerakannya, lalu buru-buru memalingkan wajahku ke arah ombak.
Hatiku terasa berontak. Orang yang mati matian aku perjuangkan tiba tiba pergi. Lalu saat aku mati matian berjuang untuk melupakannya dia datang dan membawa harapan.
Entahlah, perasaanku masih sama. Walaupun tidak pernah ada ikatan pasti dalam hubungan ini.
'Rasanya waktu berjalan sangat cepat ya jika aku bersamamu' suaranya yang agak berat itu memecah keheningan.
Aku hanya diam. Tidak berani berbicara. Tidak berani bergerak.
Rasanya luka lamaku kembali terobek saat mendengar suara yang agak berat tadi.
Rasanya semua kenangan yang ingin aku buang kembali terngiang di atas kepala.
Rasanya sosok yang berusaha aku lepaskan tiba tiba kuregkuh lagi dalam pelukan.
'Aku tahu aku menyakitimu. Aku ingin minta maaf. Aku memang menyayangimu tapi rasanya keadaan tidak memihak pada kita. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku minta maaf pernah menyaitimu' suara agak berat itu kembali keluar.
Mendengarnya saja aiar mataku rasanya ingin cepat cepat meluncur. Sekuat hatiku aku menahannya.
'Tolong jangan menangis di hadapanku. Aku tidak sanggup melihatnya. Aku ingin melihatmu bahagia. Dengan atau tanpaku' tambahnya lagi.
Aku tidak sanggup menahan air mataku lagi. Aku membiakan air mataku jatuh dengan derasnya.
'Apasih yang kamu mau? Kamu datang memberi harapan lalu pergi saat aku mati matian memperjuangkanmu. Lalu kembali saat aku mati matian berusaha melupakanmu. Apa mau kamu? Jika kamu pergi dengan luka tolong jangan kembali dengan mudahnya. Hatiku sudah lelah kau hancurkan lalu kau susun lagi dan akhirnya kau jatuhkan lagi. Tolong jangan bilang sayang jika nyatanya kamu pergi tanpa alasan' jelasku dengan nada tersedu.
Kamu hanya menunduk diam tanpa suara. Aku masih menangis. Tanganmu mendekat ke wajahku, tanganmu menghapus air mataku.
'Jika ada satu saja alasan untuk tidak meninggalkanmu aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tetapi keadaan selalu memaksaku untuk meninggalkanmu meskipun hatiku tetap berdiri di depan hatimu. Aku pergi tanpa alasan karna terlalu banyak alasan yang memaksaku pergi meninggalkanmu dan aku tahu itu akan membuatmu menangis. Aku benci melihat sesorang yang aku sayangi menangis karenaku' jelasnya dalam posisi yang tanpa jarak, dalam sebuah pelukan yang semakin membuatku terisak.
Aku melepaskan pelukannya. 'Aku benci kamu. Aku terlalu mengharapkanmu. Kamu bilang sayang? Tapi kamu pergi dengan gampangnya tanpa mengerti bagaimana perasaanku? Bagaimana hancurnya hatiku. Dan kamu tidak akan pernah tahu. Jika memang tidak ada alasan untuk tetap bersamaku tolong jangan pernah kembali lagi. Tinggalkan aku sekarang juga' kataku dengan air mata yang jatuh dengan derasnya.
Kamu bergerak agak menjauh dari tempatmu semula. Kamu berdiri di depanku dan berkata 'aku selalu menyayangimu. bahagialah dengan atau tanpaku' tambahmu lalu pergi.
Aku ingin mati saat ini juga. Bagaimana bisa dia membuatku senang dan hancur dalam waktu yang bersamaan. Aku melihat sosoknya yang semakin menjauh tanpa melihat ada aku di belakangnya.
Air mataku semakin deras, tangisku semakin terisak. Hatiku hancur seperti mati rasa. Lagi lagi hatiku hancur karena sosokmu. Sosok yang selalu semu dlaam hidupku.
Ingin rasanya aku berlari, berteriak agar kau kembali. Mencengkeram bahumu agar kau tahu aku selalu disini. Namun, bahasaku tinggal rasa. Rasa yang tidak akan pernah kau mengerti.
Kamu seolah membuangku dengan sengaja, padahal kamu tahu aku selalu ada.
Rabu, 04 Desember 2013
Come back
Apakah ada yang lebih tulus dari berjuang dalam sebuah pengabaian?
Aku mengenangmu masa laluku. Tidak semua hal yang sudah terjadi mudah terlupakan bukan?
Perasaanku masih sama, sama seperti dulu. Seperti saat bersamamu.
Walaupun banyak hati yang pernah aku singgahi dalam perjalananku melupakanmu.
Nyatanya, tidak seorang pun yang bisa menerimaku seperti kamu.
Nyatanya, tidak seorang pun yang bisa membuatku tersenyum seperti saat denganmu.
Ketika aku memutuskan kembali bersamamu, mungkin kamu sudah bersama yang lain.
Aku tahu, melupakan semua kesalahanku bukan hal mudah juga.
Tapi, kamu juga harus tahu kembali memperjuangkanmu dalam sebuah pengabaian juga sulit untuk seorang wanita lemah sepertiku.
Harus kuakui, kamu segalanya.
Air mataku tidak bisa berhenti menetes setiap kali aku melihatmu berjalan di mimppiku.
Setiap kali sosokmu menjadi hantu di tengah malamku.
Setiap kali lagu kenangan kita terdengar.
Setiap kali seseorang menyebut namamu.
Setiap kali hujan turun. Dan membuatku kembali mengenang kita.
Kembali merasakan hati yang teriris dengan tipis.
Tentang dusta pada diri sendiri.
Aku pergi dengan luka yang membekas bukan?
Kini, aku kembali untuk mengobati lukamu.
Jangan paksa perasaanmu untukku.
Jika aku tulus, seharusnya kamu juga tulus kan?
Aku tahu perasaanmu.
Aku tahu hancurnya perasaanmu.
Aku mengerti. Tolong beri aku waktu untuk menjelaskan semua maksudku.
Dengarkan aku, dengarkan hatiku. Aku akan bertahan dalam pengabaianmu.
Tulisan ini, tentangmu.
Tulisan ini ada, karenamu.
Berhentilah mencari persinggahan lain, karna....
Aku disini untukmu.
Aku mengenangmu masa laluku. Tidak semua hal yang sudah terjadi mudah terlupakan bukan?
Perasaanku masih sama, sama seperti dulu. Seperti saat bersamamu.
Walaupun banyak hati yang pernah aku singgahi dalam perjalananku melupakanmu.
Nyatanya, tidak seorang pun yang bisa menerimaku seperti kamu.
Nyatanya, tidak seorang pun yang bisa membuatku tersenyum seperti saat denganmu.
Ketika aku memutuskan kembali bersamamu, mungkin kamu sudah bersama yang lain.
Aku tahu, melupakan semua kesalahanku bukan hal mudah juga.
Tapi, kamu juga harus tahu kembali memperjuangkanmu dalam sebuah pengabaian juga sulit untuk seorang wanita lemah sepertiku.
Harus kuakui, kamu segalanya.
Air mataku tidak bisa berhenti menetes setiap kali aku melihatmu berjalan di mimppiku.
Setiap kali sosokmu menjadi hantu di tengah malamku.
Setiap kali lagu kenangan kita terdengar.
Setiap kali seseorang menyebut namamu.
Setiap kali hujan turun. Dan membuatku kembali mengenang kita.
Kembali merasakan hati yang teriris dengan tipis.
Tentang dusta pada diri sendiri.
Aku pergi dengan luka yang membekas bukan?
Kini, aku kembali untuk mengobati lukamu.
Jangan paksa perasaanmu untukku.
Jika aku tulus, seharusnya kamu juga tulus kan?
Aku tahu perasaanmu.
Aku tahu hancurnya perasaanmu.
Aku mengerti. Tolong beri aku waktu untuk menjelaskan semua maksudku.
Dengarkan aku, dengarkan hatiku. Aku akan bertahan dalam pengabaianmu.
Tulisan ini, tentangmu.
Tulisan ini ada, karenamu.
Berhentilah mencari persinggahan lain, karna....
Aku disini untukmu.
Jumat, 08 November 2013
Wrong?
Salahkah aku memperjuangkan apa yang pantas untuk aku perjuangkan?
Salahkah aku bertahan dari sesuatu yang menurutku pantas untuk di pertahankan?
Kadang hidup tidak seperti bayangan kita pada nalar.
Dan, sekarang. Kamu. Yang selalu aku banggakan tidak lagi seperti apa yang ada dalam nalarku.
Kamu. Berbeda.
Aku memperjuangkanmu tanpa meminta untuk di perjuangkan kembali.
Karna hanya tertawa bersamamu aku merasa semua perjuanganku tidak sia-sia.
Lalu, saat suatu saat apa yang aku harapkan tidak menjadi kenyataan.
Aku hanya diam. Tidak mengingat seberapa besar perjuanganku.
Tapi, aku bertanya "Mengapa kamu tidak lagi seperti dulu?". Beda.
Aku membenci perbedaan, apalagi jika itu tentang kita.
Aku dan Kamu.
"Bukankah perbedaan itu yang menyenangkan? Karena kita bisa saling melengkapi"
Perbedaan dengan sikapmu tidak akan pernah menyenangkan untukku.
Kecewa. Satu kata yang mendeskripsikan seluruh isi hatiku.
Entah bagaimana aku harus bercerita. Tapi, aku benci kamu sekarang.
Aku benci perubahanmu. Aku benci sikapmu yang tidak seperti dulu.
Apakah aku harus pergi?
Apakah aku harus meninggalkanmu?
Apakah aku harus merelakanmu?
Apakah aku harus membencimu?
Apakah aku bisa?
Ya. Apakah aku bisa pergi meninggalkanmu lalu merelakanmu kemudian membencimu.
Aku tidak akan pernah bisa.
Tapi jika itu pilihanmu, jika kamu mengangguk arti perpisahan.
Apakah kamu tahu perasaanku?
Apakah kamu tahu hancurnya hatiku?
Kamu tidak akan pernah tahu.
Rasanya lebih sakit dari tamparanku saat itu.
Jauh lebih sakit drai itu, kesayanganku.
Bisakah kamu seperti dulu?
Bisakah kamu selalu bersamaku?
Bisakah kamu seperti dulu?
Jika kamu tidak bisa seperti dulu. Jika kamu justru memilih sebuah perpisahan.
Aku akan pergi.
Aku akan meninggalkanmu.
Aku akan berjalan tanpamu, tetapi aku justru berjalan dengan kepingan hatiku yang hancur karenamu.
Tapi, biarkan namamu selalu ada dalam rapalan do'aku.
Biarkan namamu selalu menjadi perbincanganku dengan Tuhan.
Birkan aku merasa kamu yang terbaik.
Biarkan aku yang selalu memimpikan kenangan kita.
Biarkan aku yang selalu mengingatmu.
Biarkan aku menangis walaupun dalam pengabaianmu.
Salahkah aku bertahan dari sesuatu yang menurutku pantas untuk di pertahankan?
Kadang hidup tidak seperti bayangan kita pada nalar.
Dan, sekarang. Kamu. Yang selalu aku banggakan tidak lagi seperti apa yang ada dalam nalarku.
Kamu. Berbeda.
Aku memperjuangkanmu tanpa meminta untuk di perjuangkan kembali.
Karna hanya tertawa bersamamu aku merasa semua perjuanganku tidak sia-sia.
Lalu, saat suatu saat apa yang aku harapkan tidak menjadi kenyataan.
Aku hanya diam. Tidak mengingat seberapa besar perjuanganku.
Tapi, aku bertanya "Mengapa kamu tidak lagi seperti dulu?". Beda.
Aku membenci perbedaan, apalagi jika itu tentang kita.
Aku dan Kamu.
"Bukankah perbedaan itu yang menyenangkan? Karena kita bisa saling melengkapi"
Perbedaan dengan sikapmu tidak akan pernah menyenangkan untukku.
Kecewa. Satu kata yang mendeskripsikan seluruh isi hatiku.
Entah bagaimana aku harus bercerita. Tapi, aku benci kamu sekarang.
Aku benci perubahanmu. Aku benci sikapmu yang tidak seperti dulu.
Apakah aku harus pergi?
Apakah aku harus meninggalkanmu?
Apakah aku harus merelakanmu?
Apakah aku harus membencimu?
Apakah aku bisa?
Ya. Apakah aku bisa pergi meninggalkanmu lalu merelakanmu kemudian membencimu.
Aku tidak akan pernah bisa.
Tapi jika itu pilihanmu, jika kamu mengangguk arti perpisahan.
Apakah kamu tahu perasaanku?
Apakah kamu tahu hancurnya hatiku?
Kamu tidak akan pernah tahu.
Rasanya lebih sakit dari tamparanku saat itu.
Jauh lebih sakit drai itu, kesayanganku.
Bisakah kamu seperti dulu?
Bisakah kamu selalu bersamaku?
Bisakah kamu seperti dulu?
Jika kamu tidak bisa seperti dulu. Jika kamu justru memilih sebuah perpisahan.
Aku akan pergi.
Aku akan meninggalkanmu.
Aku akan berjalan tanpamu, tetapi aku justru berjalan dengan kepingan hatiku yang hancur karenamu.
Tapi, biarkan namamu selalu ada dalam rapalan do'aku.
Biarkan namamu selalu menjadi perbincanganku dengan Tuhan.
Birkan aku merasa kamu yang terbaik.
Biarkan aku yang selalu memimpikan kenangan kita.
Biarkan aku yang selalu mengingatmu.
Biarkan aku menangis walaupun dalam pengabaianmu.
Senin, 30 September 2013
Ajari Aku Bahagia
Setelah bertahun tahun kita tidak lagi bersama, ternyata tanpa aku disadari hatiku masih memilihmu untuk mejadi sandaran.
Padahal, kita sudah tidak lagi menanyakan kabar masing-masing.
Tidak lagi saling tersenyum walau hanya lewat lelucon sederhanamu dalam pesan singkat.
Tidak lagi saling menemani saat malam tiba.
Tidak lagi berbagi cerita.
Tidak lagi saling merindu.
Mungkin, tidak lagi saling kenal.
Ya, aku dan kamu penghianat. Benar kan? Aku dan kamu pintar berbohong pada dunia.
Pada mereka di luar sana. Tapi, aku dan kamu tidak akan pernah bisa berbohong pada hati kita.
Aku selalu berusaha melupakanmu, merelakanmu menggenggam tangan orang lain, melihat bahumu yang sudah tidak menjadi milikku.
Tidak ada perpisahan tanpa air mata bukan?
Jika saja kamu masih bisa merasakan perasaanku, jika saja kamu masih mau mendengar ceritaku, cerita tentang perasaanku. Seandainya.
Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana usahaku memperjuangkan kebahagiaanku tanpa kamu bersamaku.
Senyumku tak lagi selebar saat bersamamu.
Mataku tak lagi sebening saat bersamamu.
Aku sendiri. Aku ingin bahagia meskipun tanpamu.
Ajari aku rasanya bahagia.
Atau senyummu sekarang juga menipu?
Entah, mengapa selalu ada perasaan jika kamu masih milikku.
Aku merindukanmu masa laluku. Aku merindukan sosokmu yang tak pernah menjadi nyata untukku saat ini.
Sosokmu yang tiba-tiba pergi saat aku benar-benar membutuhkanmu.
Saat kepergianmu meninggalkan luka yang dalam tanpa pernah ada satu orang pun yang bisa menyembuhkannya.
Senyummu yang terlalu indah, kelopak matamu yang seterang cahaya bintang, suaramu yang membuatku tenang. Tidak ada lagi orang sepertimu.
Aku hanya ingin bahagia bersamamu seperti dulu.
Aku hanya ingin merasakan senyum indahmu untukku.
Aku masih ingin merasakan dekapanmu walau hanya dalam anganku.
Aku masih ingin, kita saling merindu.
Aku masih ingin genggaman tanganmu untukku.
Aku masih ingin memelukmu dengan erat.
Aku masih ingin merasakan semuanya seperti dulu.
Tak ada lagi yang sepertimu. Tidak akan pernah ada.
Ajari aku bahagia dengan yang lain meskipun tidak sepertimu, karena kamu yang terbaik.
Jika ada yang lebih baik itu tidak akan lebih dari kamu.
Ajari aku bahagia melalui senyuman bibirmu yang tidak akan pernah bisa terlupa.
Padahal, kita sudah tidak lagi menanyakan kabar masing-masing.
Tidak lagi saling tersenyum walau hanya lewat lelucon sederhanamu dalam pesan singkat.
Tidak lagi saling menemani saat malam tiba.
Tidak lagi berbagi cerita.
Tidak lagi saling merindu.
Mungkin, tidak lagi saling kenal.
Ya, aku dan kamu penghianat. Benar kan? Aku dan kamu pintar berbohong pada dunia.
Pada mereka di luar sana. Tapi, aku dan kamu tidak akan pernah bisa berbohong pada hati kita.
Aku selalu berusaha melupakanmu, merelakanmu menggenggam tangan orang lain, melihat bahumu yang sudah tidak menjadi milikku.
Tidak ada perpisahan tanpa air mata bukan?
Jika saja kamu masih bisa merasakan perasaanku, jika saja kamu masih mau mendengar ceritaku, cerita tentang perasaanku. Seandainya.
Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana usahaku memperjuangkan kebahagiaanku tanpa kamu bersamaku.
Senyumku tak lagi selebar saat bersamamu.
Mataku tak lagi sebening saat bersamamu.
Aku sendiri. Aku ingin bahagia meskipun tanpamu.
Ajari aku rasanya bahagia.
Atau senyummu sekarang juga menipu?
Entah, mengapa selalu ada perasaan jika kamu masih milikku.
Aku merindukanmu masa laluku. Aku merindukan sosokmu yang tak pernah menjadi nyata untukku saat ini.
Sosokmu yang tiba-tiba pergi saat aku benar-benar membutuhkanmu.
Saat kepergianmu meninggalkan luka yang dalam tanpa pernah ada satu orang pun yang bisa menyembuhkannya.
Senyummu yang terlalu indah, kelopak matamu yang seterang cahaya bintang, suaramu yang membuatku tenang. Tidak ada lagi orang sepertimu.
Aku hanya ingin bahagia bersamamu seperti dulu.
Aku hanya ingin merasakan senyum indahmu untukku.
Aku masih ingin merasakan dekapanmu walau hanya dalam anganku.
Aku masih ingin, kita saling merindu.
Aku masih ingin genggaman tanganmu untukku.
Aku masih ingin memelukmu dengan erat.
Aku masih ingin merasakan semuanya seperti dulu.
Tak ada lagi yang sepertimu. Tidak akan pernah ada.
Ajari aku bahagia dengan yang lain meskipun tidak sepertimu, karena kamu yang terbaik.
Jika ada yang lebih baik itu tidak akan lebih dari kamu.
Ajari aku bahagia melalui senyuman bibirmu yang tidak akan pernah bisa terlupa.
Senin, 17 Juni 2013
Tolong, mengertilah.
Aku tak pernah sehancur ini saat seseorang pergi dari hidupku. Hari hariku tak seburuk ini setelah kamu pergi. Mataku tak pernah sesembab ini saat seseorang pergi. Dan aku selalu masih berusaha mencari bahagia setelah seseorang pergi.
Tapi entah, saat kamu pergi aku tidak lagi berusaha mencari bahagiaku.
Melihatmu berjalan menjauhiku tak sebiasa yang kamu pikirkan.
Melihatmu merayu banyak perempuan lain rasanya sulit untuk ikut tertawa
Melihatmu seakan tak mengenaliku tak sesederhana kamu melangkahkan kakimu.
Melihatmu kembali dengan duniamu sebelum bersamaku tak semudah yang kamu bayangkan.
Dan harus merelakanmu memiliki seseorang baru tidak semanis yang kamu rasakan.
Setelah kamu pergi, yang jelas aku tidak pernah menyesal pernah menyayangimu.
Setelah kamu pergi, hanya tak ada alasanku untuk bahagia sebagaimanapun kamu pernah menghancurkanku.
Setelah kamu pergi, tak sedikit usahaku untuk berusaha bertahan tanpamu.
Cobalah, pahami perasaanku seperti aku pernah memahami dulu.
Cobalah, lihat kepingan hatiku yang sudah hancur.
Jangan semakin dibuat melebur.
Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku karna aku tahu kita lelah.
Kita lelah berusaha mempersatukan kemauan Tuhan.
Aku dan kamu sama sama lelah mempertahankan kita.
Kita terluka.
Dari sekian lama waktu kita bersama, mengapa harus secepat ini?
Tolong lihat hatiku, tolong rasakan hancurnya.
Kita sama sama terluka, tapi aku yang paling terluka.
Karna aku sempat merasakan bagaimana berjuang di dalam pengabaianmu.
Tapi entah, saat kamu pergi aku tidak lagi berusaha mencari bahagiaku.
Melihatmu berjalan menjauhiku tak sebiasa yang kamu pikirkan.
Melihatmu merayu banyak perempuan lain rasanya sulit untuk ikut tertawa
Melihatmu seakan tak mengenaliku tak sesederhana kamu melangkahkan kakimu.
Melihatmu kembali dengan duniamu sebelum bersamaku tak semudah yang kamu bayangkan.
Dan harus merelakanmu memiliki seseorang baru tidak semanis yang kamu rasakan.
Setelah kamu pergi, yang jelas aku tidak pernah menyesal pernah menyayangimu.
Setelah kamu pergi, hanya tak ada alasanku untuk bahagia sebagaimanapun kamu pernah menghancurkanku.
Setelah kamu pergi, tak sedikit usahaku untuk berusaha bertahan tanpamu.
Cobalah, pahami perasaanku seperti aku pernah memahami dulu.
Cobalah, lihat kepingan hatiku yang sudah hancur.
Jangan semakin dibuat melebur.
Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku karna aku tahu kita lelah.
Kita lelah berusaha mempersatukan kemauan Tuhan.
Aku dan kamu sama sama lelah mempertahankan kita.
Kita terluka.
Dari sekian lama waktu kita bersama, mengapa harus secepat ini?
Tolong lihat hatiku, tolong rasakan hancurnya.
Kita sama sama terluka, tapi aku yang paling terluka.
Karna aku sempat merasakan bagaimana berjuang di dalam pengabaianmu.
Kamis, 13 Juni 2013
Setidaknya Kamu Mengerti Perasaanku
Hai sudah berapa bulan kita bersama semenjak hatiku memilihmu?
Tidak terasa, ah apa yang bisa membuat waktu terasa begitu lama ketika aku bersamamu?
Semuanya selalu berlalu dengan cepat, indah, dan penuh kenangan.
Semua kenangan kita mungkin tidak akan pernah bisa kulupa, bayangkan saja.
Seandainya kenangan ini buah, berapa kilogram beratnya?
Seandainya kenangan ini jarak, berapa kilometer panjangnya?
Seandainya ini waktu, berapa puluh putaran jarum jam?
Banyak, indah, tak terhingga, membekas.
Tentu, indah.
Memoriku terlalu besar untuk mengingatnya.
Tertawa bersamamu, membuat kita terbang tanpa sayap.
Senang.Bahagia. Ah, kamu memang jagoan untuk bisa membuatku bahagia dengan cara-cara sederhanamu.
Mengertilah, aku tak pernah membutuhkan banyak cara untuk menyebut setiap peristiwa yang kita alami itu kenangan indah.
Karena setiap detiknya, jika bersamamu selalu indah.
Entah tertawa,marah,sedih,bicara bahkan diam pun aku selalu merasa bahagia.
Hal terpahit pun bisa terasa manis jika itu bersamamu.
Disini bukan aku saja yang bahagia, aku yakin kamu akan menjawab "ya" karna aku percaya dengan hatiku, percaya dengan perasaanku, dan percaya denganmu.
Aku percaya karna, setiap bersamku pun kamu selalu tersenyum.
Dan di balik semuanya, aku selalu meyakinkan hatiku bahwa kau menyayangiku.
Jika banyak orang bertanya mengapa aku begitu?
Aku pasti menjawab, karna kamu penguasa hatiku.
Bagaimana tidak? Aku sendiri tidak tahu karena apa, aku menyayngimu.
Dengan alasan apa aku mempercayaimu?
Dan mengapa harus selama ini bertahan untukmu?
Jika bukan kamu penguasa hatiku. Namun, seluruh perasanku untukmu.
Percayalah. Disini hanya aku dan kamu yang membuat kenangan, bukan mereka.
Melebihi hancur rasanya, jika orang yang benar-benar berarti untukku justru menjadi prang yang benar-benar tak mempercayaiku.
Sebisa mungkin, aku pasti bertahan.
Sebisa mungkin, jika kamu akan pergi pasti aku cegah.
Karna, tak ada alasan lagi untuk tetap bahagia jika tanpamu.
Jika kamu pergi, aku tetap menunggumu kembali.
Jika kamu melupakanku, aku akan berusaha membantu ingatanmu untukku kembali.
Karna aku tau, kamu tidak akan benar-benar pergi.
Karna aku percaya kamu untukku.
Karna aku percaya kamu adalah manusia biasa seperti malaikat dari Tuhan.
Jika tidak, mengapa Tuhan mengizinkan kita membuat terlalu banyak kenangan dan meninggalkan dosa terindah?
Terimakasih untuk semuanya, tetaplah disini lihatlah aku.Tatap mataku, karna dibaliknya selalu ada senyummu. Ada kenangan kita.
Tidak terasa, ah apa yang bisa membuat waktu terasa begitu lama ketika aku bersamamu?
Semuanya selalu berlalu dengan cepat, indah, dan penuh kenangan.
Semua kenangan kita mungkin tidak akan pernah bisa kulupa, bayangkan saja.
Seandainya kenangan ini buah, berapa kilogram beratnya?
Seandainya kenangan ini jarak, berapa kilometer panjangnya?
Seandainya ini waktu, berapa puluh putaran jarum jam?
Banyak, indah, tak terhingga, membekas.
Tentu, indah.
Memoriku terlalu besar untuk mengingatnya.
Tertawa bersamamu, membuat kita terbang tanpa sayap.
Senang.Bahagia. Ah, kamu memang jagoan untuk bisa membuatku bahagia dengan cara-cara sederhanamu.
Mengertilah, aku tak pernah membutuhkan banyak cara untuk menyebut setiap peristiwa yang kita alami itu kenangan indah.
Karena setiap detiknya, jika bersamamu selalu indah.
Entah tertawa,marah,sedih,bicara bahkan diam pun aku selalu merasa bahagia.
Hal terpahit pun bisa terasa manis jika itu bersamamu.
Disini bukan aku saja yang bahagia, aku yakin kamu akan menjawab "ya" karna aku percaya dengan hatiku, percaya dengan perasaanku, dan percaya denganmu.
Aku percaya karna, setiap bersamku pun kamu selalu tersenyum.
Dan di balik semuanya, aku selalu meyakinkan hatiku bahwa kau menyayangiku.
Jika banyak orang bertanya mengapa aku begitu?
Aku pasti menjawab, karna kamu penguasa hatiku.
Bagaimana tidak? Aku sendiri tidak tahu karena apa, aku menyayngimu.
Dengan alasan apa aku mempercayaimu?
Dan mengapa harus selama ini bertahan untukmu?
Jika bukan kamu penguasa hatiku. Namun, seluruh perasanku untukmu.
Percayalah. Disini hanya aku dan kamu yang membuat kenangan, bukan mereka.
Melebihi hancur rasanya, jika orang yang benar-benar berarti untukku justru menjadi prang yang benar-benar tak mempercayaiku.
Sebisa mungkin, aku pasti bertahan.
Sebisa mungkin, jika kamu akan pergi pasti aku cegah.
Karna, tak ada alasan lagi untuk tetap bahagia jika tanpamu.
Jika kamu pergi, aku tetap menunggumu kembali.
Jika kamu melupakanku, aku akan berusaha membantu ingatanmu untukku kembali.
Karna aku tau, kamu tidak akan benar-benar pergi.
Karna aku percaya kamu untukku.
Karna aku percaya kamu adalah manusia biasa seperti malaikat dari Tuhan.
Jika tidak, mengapa Tuhan mengizinkan kita membuat terlalu banyak kenangan dan meninggalkan dosa terindah?
Terimakasih untuk semuanya, tetaplah disini lihatlah aku.Tatap mataku, karna dibaliknya selalu ada senyummu. Ada kenangan kita.
Selasa, 28 Mei 2013
No Tittle aja deh
Halo, kayanya aku gapernah deh curhat di blogku.
Yaaaa emang sih semua tulisannya dari hati, tapi kali ini bener bener hatiku. Daniar Atika Utami.
Nama panjangku. Panggil Tika aja biar lebih akrab :)
Buat yg baca ini, kalian pasti tau apa maksutku.
Aku sengaja tulis ini soalnya aku tau ga banyak yg baca blog ini :D
Aku punya niat curhat di blog ini itu karna aku ngerasa disini gaada yg bener bener bisa di percaya.
Semuanya penghianat. Dan aku ga terlalu pinter deh kayanya nyimpen masalahku sendiri.
Yaaaaa, aku emang punya Allah. Tapi aku gamau ngeluh lah sama Allah, Allah tau hidupku.
Dan aku suka sama kejutan, biar aja aku nganggep ini kejutan.
Pertama harusnya orang tua ya hehe.
Tapi untuk part ini di skip aja deh. Ini bener bener rahasiaku.
Dan kali ini, aku mau cerita tentang temen. Menurut kalian temen itu penting ga?
Kalo menurut aku sendiri sih, kadang penting kadang engga.
Pentingnya nih buat temen curhat, bener kan?
Nah ini yang mau aku ceritain. Curhat ke temen.
Hahaha aku kapok curhat ke temen sendiri temen deket padahal. Harusnya makin nyaman kan?
Kalo yang aku rasain sih curhat ke temen sendiri itu bikin benci.sakit hati.
Dulu aku punya temen, gausah di sebutin deh namanya soalnya ini jelek hihi.
Aku ngerasa aja sih dia bisa di percaya, karna kita deket pake banget. Rumah juga deketan.
Dia juga make jilbab di sekolah, ga bermaksut apa apa nih. Kayanya emang bener deh kalo penampilan belum tentu sama hatinya.
Jadi temenku itu, nusuk aku sendiri. Ih gimana engga, dia pengen hubunganku sama orang yg jadi alasanku bertahan selama ini itu hancur.
Gila, bayangin! Sakit banget kan? Temen sendiri coy.
Oke fine, akhirnya aku males curhat curhat lagi sama temen.
Ya anggep aja aku sendirian ya disini.
Terus, aku punya temen deket nih dalam tanda kutip sih anggep aja pcr gitu hehe.
Sumpah demi apaaaaa, sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang bangeeeeet.
Apa sih menurutku, dia nih everything lah.
Bisa jadi dokter,komedian,guru. Gapernah nyesel deh pernah punya dia.
Dan sekarang, dia emang bener bener berperan penting buat senyum lagi.
Gimana engga, alesanku satu satunya buat ketawa cuma dia.
Waktu semua isi rumah, bahkan dunia jadi moodbreaker.
Aku gapernah absen merapal namanya dalam doaku.
Lalu, ketika dia alasanku. Apa jadinya aku sendiri?
Waktu, orang tua, temen, kamu dyt, bahkan dunia ga di pihakku?
Mati? Semua orang pasti mikir gitu kan?
Kadang aku juga mikir mati itu enak, tapi aku pernah ngerasain kehilangan orang buat selamanya.
Dan aku nyesel walaupun waktu orang itu pergi aku bener bener benci dia. Kevin.
Itu namanya, aku bener bener benci kevin waktu itu.
Tapi nyatanya? Aku kangen dia sekarang. Dan aku pernah punya fikiran kalo aku mati, orang yg sayang aku pasti sedih, orang yang bikin aku marah pasti nyesel yaa sedih gitu intinya.
Aku gamau mereka sedih, segimanapun mereka sama aku.
Aku kuat, aku tegar. Aku emang belum bisa sendiri tanpa orang tuaku dan taanpa kamu.
Tapi aku bisa tanpa mereka. Karna alasanku itu orang tuaku dan kamu bukan mereka.
Aku emang butuh temen, tapi selama temen itu tetep nusuk sama kaya temenku berjilbab yg satu itu.
Buat apa aku punya temen? Yang ada malah bikin sakit kan?
Udah ah segini aja kapan kapan lagi hehe
Yaaaa emang sih semua tulisannya dari hati, tapi kali ini bener bener hatiku. Daniar Atika Utami.
Nama panjangku. Panggil Tika aja biar lebih akrab :)
Buat yg baca ini, kalian pasti tau apa maksutku.
Aku sengaja tulis ini soalnya aku tau ga banyak yg baca blog ini :D
Aku punya niat curhat di blog ini itu karna aku ngerasa disini gaada yg bener bener bisa di percaya.
Semuanya penghianat. Dan aku ga terlalu pinter deh kayanya nyimpen masalahku sendiri.
Yaaaaa, aku emang punya Allah. Tapi aku gamau ngeluh lah sama Allah, Allah tau hidupku.
Dan aku suka sama kejutan, biar aja aku nganggep ini kejutan.
Pertama harusnya orang tua ya hehe.
Tapi untuk part ini di skip aja deh. Ini bener bener rahasiaku.
Dan kali ini, aku mau cerita tentang temen. Menurut kalian temen itu penting ga?
Kalo menurut aku sendiri sih, kadang penting kadang engga.
Pentingnya nih buat temen curhat, bener kan?
Nah ini yang mau aku ceritain. Curhat ke temen.
Hahaha aku kapok curhat ke temen sendiri temen deket padahal. Harusnya makin nyaman kan?
Kalo yang aku rasain sih curhat ke temen sendiri itu bikin benci.sakit hati.
Dulu aku punya temen, gausah di sebutin deh namanya soalnya ini jelek hihi.
Aku ngerasa aja sih dia bisa di percaya, karna kita deket pake banget. Rumah juga deketan.
Dia juga make jilbab di sekolah, ga bermaksut apa apa nih. Kayanya emang bener deh kalo penampilan belum tentu sama hatinya.
Jadi temenku itu, nusuk aku sendiri. Ih gimana engga, dia pengen hubunganku sama orang yg jadi alasanku bertahan selama ini itu hancur.
Gila, bayangin! Sakit banget kan? Temen sendiri coy.
Oke fine, akhirnya aku males curhat curhat lagi sama temen.
Ya anggep aja aku sendirian ya disini.
Terus, aku punya temen deket nih dalam tanda kutip sih anggep aja pcr gitu hehe.
Sumpah demi apaaaaa, sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang bangeeeeet.
Apa sih menurutku, dia nih everything lah.
Bisa jadi dokter,komedian,guru. Gapernah nyesel deh pernah punya dia.
Dan sekarang, dia emang bener bener berperan penting buat senyum lagi.
Gimana engga, alesanku satu satunya buat ketawa cuma dia.
Waktu semua isi rumah, bahkan dunia jadi moodbreaker.
Aku gapernah absen merapal namanya dalam doaku.
Lalu, ketika dia alasanku. Apa jadinya aku sendiri?
Waktu, orang tua, temen, kamu dyt, bahkan dunia ga di pihakku?
Mati? Semua orang pasti mikir gitu kan?
Kadang aku juga mikir mati itu enak, tapi aku pernah ngerasain kehilangan orang buat selamanya.
Dan aku nyesel walaupun waktu orang itu pergi aku bener bener benci dia. Kevin.
Itu namanya, aku bener bener benci kevin waktu itu.
Tapi nyatanya? Aku kangen dia sekarang. Dan aku pernah punya fikiran kalo aku mati, orang yg sayang aku pasti sedih, orang yang bikin aku marah pasti nyesel yaa sedih gitu intinya.
Aku gamau mereka sedih, segimanapun mereka sama aku.
Aku kuat, aku tegar. Aku emang belum bisa sendiri tanpa orang tuaku dan taanpa kamu.
Tapi aku bisa tanpa mereka. Karna alasanku itu orang tuaku dan kamu bukan mereka.
Aku emang butuh temen, tapi selama temen itu tetep nusuk sama kaya temenku berjilbab yg satu itu.
Buat apa aku punya temen? Yang ada malah bikin sakit kan?
Udah ah segini aja kapan kapan lagi hehe
Minggu, 26 Mei 2013
Ini kamu,untukku.
Cinta.Pahit, manis, asam, bahagia,marah, bersedih, menangis, terseyum, tertawa, gila, kacau,buta, semangat, terpuruk, penenang, obat, narkoba, ketagihan, setia, selingkuh, dokter, musuh, polisi, pembunuh.
Begitulah cinta.
Aku.Aku merasakan cinta. Cinta untuk Tuhanku, orang tuaku, kekasihku, diriku.
Awalnya, aku memang tidak mengerti apa itu cinta.Bagaimana rasanya,bagaimana senangnya, bagaimana sedihnya, bagaimana perjuangannya. Karna cinta butuh pengorbanan.
Aku merasakan cinta saat pertama kali aku menatap matamu.Dalam.
Aku menyayangimu begitu tulus, dan dalam.
Aku menyayangimu tanpa perlu mencari alasan.
Aku menyayangimu tanpa melihat lebihmu.
Aku menyayangimu tanpa pernah aku menerangkan dengan jelas.
Aku menyayangimu tanpa satu hal pun yang bisa membuatku melepaskanmu.
Bagaimana mungkin aku menjelaskannya? Jika semua perhatianku sudah cukup menjelaskan bagaimana aku menyayangimu. Bagaimana aku membutuhkanmu.
Aku tidak pernah memikirkan kamu setiap malam sebelumnya.
Tak pernah ada rasa lebih sebelum ini.
Tapi kamu datang disaat aku benar benar sendiri, disaat aku membutuhkan orang untuk membuatku lupa masa laluku.
Nyatanya, memang kamu yang di berkahi Tuhan.
Kamu bukan malaikat.
Kamu bukan dewa.
Kamu bukan pujangga cinta. Bukan pemulis novel romantis.
Bukan komedian.
Bukan dokter.
Tapi...............
Kamu adalah seorang biasa seperti ibuku seperti malaikat yang datang atas berkah Tuhan.
Kamu adalah seorang biasa yang memiliki seluruh hatiku seperti dewa penguasa wilayah.
Kamu adalah seorang biasa yang membuatku seperti bidadari surga tanpa harus membuat rangkaian kalimat indah seperti pujangga cinta atau penulis novel romantis.
Kamu seorang biasa yang bisa membuatku tertawa dalam keadaan terpuruk sekalipun tanpa harus menjadi komedian terlucu.
Kamu juga bukan dokter yang bisa menyembuhkan lukaku dengan cepat kamu hanya seorang biasa.
Tapi kamu menjadi luar biasa untukku. Karna aku mencintaimu dengan cara sederhana tapi luar biasa.
Tetap disini bersamaku. Karna aku yakin kamu untukku dan Aku mencintaimu.
Begitulah cinta.
Aku.Aku merasakan cinta. Cinta untuk Tuhanku, orang tuaku, kekasihku, diriku.
Awalnya, aku memang tidak mengerti apa itu cinta.Bagaimana rasanya,bagaimana senangnya, bagaimana sedihnya, bagaimana perjuangannya. Karna cinta butuh pengorbanan.
Aku merasakan cinta saat pertama kali aku menatap matamu.Dalam.
Aku menyayangimu begitu tulus, dan dalam.
Aku menyayangimu tanpa perlu mencari alasan.
Aku menyayangimu tanpa melihat lebihmu.
Aku menyayangimu tanpa pernah aku menerangkan dengan jelas.
Aku menyayangimu tanpa satu hal pun yang bisa membuatku melepaskanmu.
Bagaimana mungkin aku menjelaskannya? Jika semua perhatianku sudah cukup menjelaskan bagaimana aku menyayangimu. Bagaimana aku membutuhkanmu.
Aku tidak pernah memikirkan kamu setiap malam sebelumnya.
Tak pernah ada rasa lebih sebelum ini.
Tapi kamu datang disaat aku benar benar sendiri, disaat aku membutuhkan orang untuk membuatku lupa masa laluku.
Nyatanya, memang kamu yang di berkahi Tuhan.
Kamu bukan malaikat.
Kamu bukan dewa.
Kamu bukan pujangga cinta. Bukan pemulis novel romantis.
Bukan komedian.
Bukan dokter.
Tapi...............
Kamu adalah seorang biasa seperti ibuku seperti malaikat yang datang atas berkah Tuhan.
Kamu adalah seorang biasa yang memiliki seluruh hatiku seperti dewa penguasa wilayah.
Kamu adalah seorang biasa yang membuatku seperti bidadari surga tanpa harus membuat rangkaian kalimat indah seperti pujangga cinta atau penulis novel romantis.
Kamu seorang biasa yang bisa membuatku tertawa dalam keadaan terpuruk sekalipun tanpa harus menjadi komedian terlucu.
Kamu juga bukan dokter yang bisa menyembuhkan lukaku dengan cepat kamu hanya seorang biasa.
Tapi kamu menjadi luar biasa untukku. Karna aku mencintaimu dengan cara sederhana tapi luar biasa.
Tetap disini bersamaku. Karna aku yakin kamu untukku dan Aku mencintaimu.
Jumat, 12 April 2013
Hujan dari Tuhan, Untukku, Tentangmu
Bagiku, hujan menyimpan senandung liar yang membisikkkan1001 kisah.
Tiap tetesnya berbisik lembut di telingaku, menyuarakan nyanyian Tuhan yang membuat aku merindukanmu, rindu mendengus bau tanah setelah hujan bersamamu.
Butir-butir suci hujan yang jatuh menapak diatas daun, mengalir lurus menyisakan sebaris air di dedaunan hijau. Sejuk dan damai. Seperti melihat matamu, jatuh di dalamnya bersama segala bayangmu.
Aku bisa merasakan senja yang bercampur bau tanah setelah hujan.
Seperti kanvas putih yang tersapu warna-warna yang indah.
Dentingan sisa sisa titik hujan di atas atap terasa seperti seruling alam yang bisa membuatku memejamkan mata dan terlelap.
Melodi hidup, nyanyian Tuhan, tangisan bahagiamu disana. Begitulah aku menyebutnya.
Saat semua ketenangan bisa kudapat tanpa harus memikirkan apapun.
Jatuh cinta kepadamu tak pernah memiliki syarat, tak pernah memiliki alasan.Perasaan ini dalam.Tulus. Jatuh cinta kepadamu tak pernah menyakitkan justru begitu menyenangkan.Damai.Bahagia.
Seperti meringkuk dalam selimut hangat pada malam hujan.
Seperti menemukan satu kepingan puzzle yang sedang Tuhan susun.
Hujan bukan hal yang istimewa sebelum ada kamu.
Tapi, semuanya berubah. Aku ingin kamu tahu, diam-diam.
Aku selalu menitipkan harapan ke dalam beribu-ribu rintik hujan.
Aku mengenangmu. Aku merindukanmu. Menyayangimu selalu.
Dan, mereka tak perlu tahu.
#hai, aku nulis ini sama nangis waktu hujan. Kangen kamu. Inget dulu.
Dulu kamu ikut Unas kan vin? udah 3tahun ya :") Aku mau Unas lagi nih.
Kalo waktu itu habis Unas kamu pergi, sekarang habis Unas kamu balik lagi ngga?
Kamu Unas juga ga vin? Tenang disana yaaa. Aku tetep inget kamu.
Ngga gampang vin harus ngerelain kamu gini. Susah.
Apalagi inget yang dulu dulu.Kasar banget kan waktu itu?
Semoga kamu tetep kenang aku, inget semuanya. Besok aku ke rumahmu yaaaa jangan lupa mawar putihnya hehehe :'''''''))))
Tiap tetesnya berbisik lembut di telingaku, menyuarakan nyanyian Tuhan yang membuat aku merindukanmu, rindu mendengus bau tanah setelah hujan bersamamu.
Butir-butir suci hujan yang jatuh menapak diatas daun, mengalir lurus menyisakan sebaris air di dedaunan hijau. Sejuk dan damai. Seperti melihat matamu, jatuh di dalamnya bersama segala bayangmu.
Aku bisa merasakan senja yang bercampur bau tanah setelah hujan.
Seperti kanvas putih yang tersapu warna-warna yang indah.
Dentingan sisa sisa titik hujan di atas atap terasa seperti seruling alam yang bisa membuatku memejamkan mata dan terlelap.
Melodi hidup, nyanyian Tuhan, tangisan bahagiamu disana. Begitulah aku menyebutnya.
Saat semua ketenangan bisa kudapat tanpa harus memikirkan apapun.
Jatuh cinta kepadamu tak pernah memiliki syarat, tak pernah memiliki alasan.Perasaan ini dalam.Tulus. Jatuh cinta kepadamu tak pernah menyakitkan justru begitu menyenangkan.Damai.Bahagia.
Seperti meringkuk dalam selimut hangat pada malam hujan.
Seperti menemukan satu kepingan puzzle yang sedang Tuhan susun.
Hujan bukan hal yang istimewa sebelum ada kamu.
Tapi, semuanya berubah. Aku ingin kamu tahu, diam-diam.
Aku selalu menitipkan harapan ke dalam beribu-ribu rintik hujan.
Aku mengenangmu. Aku merindukanmu. Menyayangimu selalu.
Dan, mereka tak perlu tahu.
#hai, aku nulis ini sama nangis waktu hujan. Kangen kamu. Inget dulu.
Dulu kamu ikut Unas kan vin? udah 3tahun ya :") Aku mau Unas lagi nih.
Kalo waktu itu habis Unas kamu pergi, sekarang habis Unas kamu balik lagi ngga?
Kamu Unas juga ga vin? Tenang disana yaaa. Aku tetep inget kamu.
Ngga gampang vin harus ngerelain kamu gini. Susah.
Apalagi inget yang dulu dulu.Kasar banget kan waktu itu?
Semoga kamu tetep kenang aku, inget semuanya. Besok aku ke rumahmu yaaaa jangan lupa mawar putihnya hehehe :'''''''))))
Jumat, 08 Februari 2013
Malaikat Tanpa Sayap
Aku adalah remaja kecil yang baru merasakan asiknya menjadi seorang pelajar berseragam putih abu-abu.
Panggil saja aku Nelia.
Sederhana bukan? Menurut beberapa orang yang mengetahui namaku, namaku sangat sederhana namun indah.
Aku sendiri pernah mempunyai perasaan seperti itu aku merasa namaku memang indah tapi mungkin jalan hidupku tak seindah namaku.
Sejak kecil aku sudah tingal di panti asuhan. Menurut kepala panti asuhanku, aku adalah anak yatim piatu yang ditingal orang tuaku pergi ke surga.
Entah mengapa Tuhan menginginkan mereka ketika aku benar benar membutuhkan mereka untuk mengenal dunia.
Tapi, kenyataannya aku bahagia disini.
Aku merasakan keluarga yang utuh sama seperti mereka yang tidak bertempat tingal di panti asuhan.
Tapi, kehidupanku berbeda jauh dengan mereka.
Bukan karena materi atau status sosial tapi karna sejak aku kecil aku telah di vonis tidak sama dengan mereka karena penyakitku.
Sel kanker yang ada di dalam tubuhku ini sudah hampir memasuki stadium lanjut ketika aku duduk di bangku SMP. Aku memang sempat putus asa karena penyakitku, tapi apapun yang aku miliki sekarang membuatku kembali merasa kuat dan tegar.
Apalagi setelah aku merasakan jatuh cinta.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini aku resmi menjadi siswi kelas 3SMP yang akan melanjutkan sekolah di tingkat SMA.
Aku memang memiliki banyak teman. Tapi aku merasa tak punya teman dekat atau bahkan bisa di bilang sahabat.
Tiba - tiba perasaan aneh menyerangku ketika aku melihat ada siswa baru di sekolahku.
Tanpa membutuhkan usaha yang sulit, aku telah mengetahui namanya.
David. Satu - satunya laki laki yang membuatku merasakan perasaan aneh.
Entah bagaimana caranya Tuhan mempermainkan perasaan ini, tapi yang jelas dalam tanda kutip David menjadi semangatku utnuk menjalani hidup secara diam - diam.
Takdir Tuhan terlalu indah untuk saat ini, aku dekat dengan David entah apa yang membuatku merasa nyaman saat bersamanya.
Tiba - tiba rasa takut kehilangan diam - diam mengerogoti hatiku.
Semakin lama, aku semakin dekat dengan David entah bagaimana cara menceritakannya.
Dan semakin lama pula aku bersamanya, maka perasaan takut kehilangan semakin besar padahal sudah jelas - jelas aku tak memilikinya.
Aku tak pernah berharap lebih uintuk bisa bersamanya, karena aku tahu hidupku tak seindah hidup perempuan perempuan lain yang menyukainya.
Aku takut berharap lebih, tapi setiap aku tak ingin berharap. Ia semakin membuatku berharap.
------------------------------------------------------------------------------
"Nelia aku boleh ngomong sesuatu?" tanya David di kantin saat jam istirahat.
"Ya, ngomong aja kalik vid" jawabku.
"Maaf ya sebelumnya" lanjutnya.
Aku memberhentikan kunyahanku. Aku penasaran,mimik wajahnya terlalu serius.
"Kenapa?" lanjutku.
"Maaf jika aku lancang, diam diam aku mencari tahu latar belakangmu. Aku tau semua tentangmu. Termasuk penyakitmu. Apakah kamu tau arti perhatianku selama ini?" jelasnya.
Aku terkejut, pikiranku melayang.
Bagaimana bisa penyakit yang selalu aku tutup - tutupi bisa terbongkar?
Aku terdiam, tanpa kusadari air mataku menetes. Nafsu makanku hilang.
"Aku ngga tau apa - apa vid. Aku tidak pernah berani untuk berharap lebih mangkanya aku tidak pernah berfikir apa parti perhatianmu. Karena aku tau, aku tidak sesempurna mereka" jelasku.
David menganggam tanganku. Ia menghapus air mataku.
"Aku ngga pernah minta kamu sempurna Nelia. Aku suka semangatmu. Aku menyayangimu melebihi rasa sayang seorang teman" lanjutnya.
Aku terkejut, aku terdiam. Bibirku tak sanggup berucap. Air mataku semakin dera.
David memandangku lalu mengusap air mataku.
Aku berusaha menjelaskan.
"Kamu tau semuanya kan? Apa kamu juga tau apa alasanku menutupi semuanya?" tanyaku.
David menggeleng, dari pancaran matanya aku bisa melihat rasa ingin tahunya.
"Karna aku taku kehilangan teman temanku, dan yang lebih penting lagi aku takut kehilanganmu David. Tanpa pernah aku minta dan aku mau, kamu adalah salah satu semangatku untuk terus menjalani hari. Maaf" jelasku sambil menangis.
"Aku tak pernah punya niat untuk meninggalkanmu Nelia. Terlepas dari satatus aku bukan siapa - siapamu. Aku bahagia jika aku adalah salah satu semangatmu. AKu tak pernah membutuhkan status untuk hubungan kita. Aku hanya membutuhkanmu untuk emngisi kekosongan di dalam hati ini. Percaya padaku, kamu tak perlu takut kehilanganku karena kamu tidak akan kehilanganku" jelas David.
Aku mengusap air mataku.
Entah bagaimana, aku mudah sekali percaya padanya. Mungkin karena dialah yang pertama membuatku yakin bahwa seorang teman pun tak akan meninggalkanku jika mereka mengetahui penyakitku.
----------------------------------------------------------------------------
Hari ini pengumuman kelulusan.
Tidak pernah kusadari aku menjadi siswi yang mendapatkan nilai tertinggi untuk kelulusan tahun ini.
Aku bahagia sekali.
Aku membuat orang yang menyayangiku bangga padaku.
Terutama ibu panti yang telah merawatku layaknya merawat anak kandungnya.
Kemudian, David. Satu - satunya laki laki sebayaku yang menjadi semangatku.
"Neliaaaa luluuuuuuuus" teriakku di tengah lapangan basket sekolahku.
Teman teman memberi selamat padaku, mungkin mereka mengetahui siapa yang mendapat nilai paling tinggi.
Aku menyambutnya dengan senyuman bahagia.
Aku memeluk ibu panti dan membagi kebahagiaanku.
Ibu panti mencium keningku sambil menangis terharu karena kebahagiaan.
Aku memeluk David, ia memberi ucapan untukku.
Hari ini, aku bahagia Tuhan.
Untuk kesekian kalinya, Terimakasih Tuhan telah memberiku kebahagiaan.
------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini adalah acara pelepasan siswa kelas 3 di sekolah SMPku.
Aku mengisi acar ini dengan bermain gitar dan bernyanyi.
Dari dulu, aku memang menyukai suara gitar yang selalu membuat hatiku tenang.
Dan membuatku mempunyai niat untuk bisa memainkannya dengan merdu.
Aku ingin mencoba kemampuanku bermain gitar selama ini, itulah alasanku mengisi acara ini.
Aku menunggu giliranku di belakang stage.
Aku mecoba menghilangkan rasa demam panggungku dengan mencoba menarikan jemariku di atas senar gitar.
Tapi lama kelamaan, aku merasa mataku berkunang kunang.
Aku menahanya, hingga seorang temanku menyadarkanku bahwa ini adalah giliranku.
Aku hanya berdoa agar bisa melewati ini semua.
Aku menaiki tangga di balik panggung.
Aku duduk di kursi yang di sediakan panitia.
Tak lama kemudian, alunan gitarku di dengarkan oleh banyak orang yang hadir di sekolah ini.
Tak pernah aku sadari, mereka memberiku standing applause.
Untuk keskian kalinya, aku merasa sangat bahagia diatas penyakitku.
----------------------------------------------------------------------------------
Hari ini adalah jadwalku kembali ke dokter spesialis penyakit kanker.
Aku tidak sendirian, aku di temani oleh ibu pantiku.
Setelah dokter memeriksaku, dokter menyuruhku menunggu hasilnya.
Hasilnya membuat dadaku nyeri.
"Sel kanker yanga da di tubuh kamu semakin menjadi, kamu hampir di kategorikan dalama kanker sel darah putih stadium 4" jelas dokter dengan mimik sedikit kurang enak.
ku hanya menunduk dan mencoba lebih tegar mendengarnya.
"Mungkin seminggu lagi kamu mulai menjalani kemotherapy seperti dulu lagi" lanjut sang dokter.
Aku menangis mendengar kenyataan yang harus kembali aku jalani.
Aku tak sanggup lagi emndengar penjelasan Dokter, aku memutuskan keluar dan merenung di taman belakang rumah sakit.
Aku membayangkan sakitnya tubuhku saat menjalani kemotherapy dan membuatku menyerah menghadapi kenyataan.
Aku membayangkannya, sangat sulit menerkanya.
Aku membutuhkan David saat ini.
Handphoneku mulai menghubunginya. Nada sambung yang terdengar membuatku semakin tidak sabar.
Lega rasanya, ketika suara David mulai muncul dari seberang sana.
"Halo David" sapaku sedikit terisak.
"Halo Neliaku, ada apa? Kamu kenapa?" jawabnya dari seberang sana sedikit khawatir.
"Kamu bisa ke rumah sakit biasa aku ke dokter ngga? Aku butuh kamu. Aku tunggu kamu di taman belakang rumah sakit ya." lanjutku.
"Iya iya aku kesana sekarang" lanjut David.
Aku setia menunggu David.
Hingga sosoknya mucul dan duduk di bangku ini bersamaku.
Aku memeluknya, aku menangis di bahunya.
David memelukku, ia menghapus air mataku.
"Hei udah jangan nangis. Kamu kenapa?" tanya David.
"Vid, aku.. aku takut" lanjutku.
"Takut kenapa Nel?" tanya David.
"Dokter menyuruhku kembali menjalani kemptheraphy. Menurut hasil pemeriksaan sel kankerku sudah memasuki stadium4" lanjut dan kembali menangis di pelukan David.
"Jadi.. kamu? Udah jalanin aja, itu semua juga demi kamu kan. Ngga sakit kok, asal kamu punya semangat buat terus jalaninya. Sama seperti yang lalu - lalu." kata David sambil menghapus air mataku.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menangis.
"Udah udah jangan nangis. Aku temenin kamu kemotheraphy ya" lanjutnya.
Aku terdiam. Semangatku mulai ada lagi. Senyumku sedikit mengembang.
"Beneran?" tanyaku.
David hanya mengangguk.
----------------------------------------------------------------------------
Hari ini aku menjalani kemotheraphy dan di temani dengan penyemangatku. David.
Ia rela kuremas tangannya saat aku merintih kesakitan.
Ia setia mendengar teriakanku saat obat kimia mulai menjalar di tubuhku.
Ia setia menghapus air mataku yang jatuh saat tubuhku sedikit menolak reaksi obat kimianya.
Sakit Tuhan. Sakit.
Beberapa jam kemudian, aku keluar dari ruang kemotherapy menyakitkan itu.
Tubuhku lemas, rasa sakit yang amat sangat di rasakan sampai tulang.
Tapi, di sebelahku ada seorang malaikat tanpa sayap. David.
Tangannya masih setia menopangku, membantuku berjalan.
David mendudukanku di bangku ruang tunggu.
Ia membiarkan kepalaku bersandar di bahunya.
Ia membiarkan air mataku membasahi bajunya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Entah bagaimana cerita Tuhan selanjutnya, aku hanya ingin berterimakasih pada Tuhan.
Memberiku penyakit yang hampir membunuhku. Lalu, mengirim malaikatnya untuk membantuku.
Aku hanya takut kehilangan semua yang sudah aku miliki.
Termasuk semangat hidupku.
Hanya tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya, membiarkan malaikat di sampingku ini pergi jauh.
Hanya tak tahu akan bagaimana jika tangan yang membantuku berjalan ini tak ada lagi.
Entah, mana yang lebih menyakitkan? Melihat malaikatku berjalan menjauhiku atau menghilangkan penyakitku melalui kemotheraphy?
Yang jelas, sampai saat ini aku mempercayakan sepenuhnya perasaanku untuk malaikat tanpa sayapku ini.
Panggil saja aku Nelia.
Sederhana bukan? Menurut beberapa orang yang mengetahui namaku, namaku sangat sederhana namun indah.
Aku sendiri pernah mempunyai perasaan seperti itu aku merasa namaku memang indah tapi mungkin jalan hidupku tak seindah namaku.
Sejak kecil aku sudah tingal di panti asuhan. Menurut kepala panti asuhanku, aku adalah anak yatim piatu yang ditingal orang tuaku pergi ke surga.
Entah mengapa Tuhan menginginkan mereka ketika aku benar benar membutuhkan mereka untuk mengenal dunia.
Tapi, kenyataannya aku bahagia disini.
Aku merasakan keluarga yang utuh sama seperti mereka yang tidak bertempat tingal di panti asuhan.
Tapi, kehidupanku berbeda jauh dengan mereka.
Bukan karena materi atau status sosial tapi karna sejak aku kecil aku telah di vonis tidak sama dengan mereka karena penyakitku.
Sel kanker yang ada di dalam tubuhku ini sudah hampir memasuki stadium lanjut ketika aku duduk di bangku SMP. Aku memang sempat putus asa karena penyakitku, tapi apapun yang aku miliki sekarang membuatku kembali merasa kuat dan tegar.
Apalagi setelah aku merasakan jatuh cinta.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini aku resmi menjadi siswi kelas 3SMP yang akan melanjutkan sekolah di tingkat SMA.
Aku memang memiliki banyak teman. Tapi aku merasa tak punya teman dekat atau bahkan bisa di bilang sahabat.
Tiba - tiba perasaan aneh menyerangku ketika aku melihat ada siswa baru di sekolahku.
Tanpa membutuhkan usaha yang sulit, aku telah mengetahui namanya.
David. Satu - satunya laki laki yang membuatku merasakan perasaan aneh.
Entah bagaimana caranya Tuhan mempermainkan perasaan ini, tapi yang jelas dalam tanda kutip David menjadi semangatku utnuk menjalani hidup secara diam - diam.
Takdir Tuhan terlalu indah untuk saat ini, aku dekat dengan David entah apa yang membuatku merasa nyaman saat bersamanya.
Tiba - tiba rasa takut kehilangan diam - diam mengerogoti hatiku.
Semakin lama, aku semakin dekat dengan David entah bagaimana cara menceritakannya.
Dan semakin lama pula aku bersamanya, maka perasaan takut kehilangan semakin besar padahal sudah jelas - jelas aku tak memilikinya.
Aku tak pernah berharap lebih uintuk bisa bersamanya, karena aku tahu hidupku tak seindah hidup perempuan perempuan lain yang menyukainya.
Aku takut berharap lebih, tapi setiap aku tak ingin berharap. Ia semakin membuatku berharap.
------------------------------------------------------------------------------
"Nelia aku boleh ngomong sesuatu?" tanya David di kantin saat jam istirahat.
"Ya, ngomong aja kalik vid" jawabku.
"Maaf ya sebelumnya" lanjutnya.
Aku memberhentikan kunyahanku. Aku penasaran,mimik wajahnya terlalu serius.
"Kenapa?" lanjutku.
"Maaf jika aku lancang, diam diam aku mencari tahu latar belakangmu. Aku tau semua tentangmu. Termasuk penyakitmu. Apakah kamu tau arti perhatianku selama ini?" jelasnya.
Aku terkejut, pikiranku melayang.
Bagaimana bisa penyakit yang selalu aku tutup - tutupi bisa terbongkar?
Aku terdiam, tanpa kusadari air mataku menetes. Nafsu makanku hilang.
"Aku ngga tau apa - apa vid. Aku tidak pernah berani untuk berharap lebih mangkanya aku tidak pernah berfikir apa parti perhatianmu. Karena aku tau, aku tidak sesempurna mereka" jelasku.
David menganggam tanganku. Ia menghapus air mataku.
"Aku ngga pernah minta kamu sempurna Nelia. Aku suka semangatmu. Aku menyayangimu melebihi rasa sayang seorang teman" lanjutnya.
Aku terkejut, aku terdiam. Bibirku tak sanggup berucap. Air mataku semakin dera.
David memandangku lalu mengusap air mataku.
Aku berusaha menjelaskan.
"Kamu tau semuanya kan? Apa kamu juga tau apa alasanku menutupi semuanya?" tanyaku.
David menggeleng, dari pancaran matanya aku bisa melihat rasa ingin tahunya.
"Karna aku taku kehilangan teman temanku, dan yang lebih penting lagi aku takut kehilanganmu David. Tanpa pernah aku minta dan aku mau, kamu adalah salah satu semangatku untuk terus menjalani hari. Maaf" jelasku sambil menangis.
"Aku tak pernah punya niat untuk meninggalkanmu Nelia. Terlepas dari satatus aku bukan siapa - siapamu. Aku bahagia jika aku adalah salah satu semangatmu. AKu tak pernah membutuhkan status untuk hubungan kita. Aku hanya membutuhkanmu untuk emngisi kekosongan di dalam hati ini. Percaya padaku, kamu tak perlu takut kehilanganku karena kamu tidak akan kehilanganku" jelas David.
Aku mengusap air mataku.
Entah bagaimana, aku mudah sekali percaya padanya. Mungkin karena dialah yang pertama membuatku yakin bahwa seorang teman pun tak akan meninggalkanku jika mereka mengetahui penyakitku.
----------------------------------------------------------------------------
Hari ini pengumuman kelulusan.
Tidak pernah kusadari aku menjadi siswi yang mendapatkan nilai tertinggi untuk kelulusan tahun ini.
Aku bahagia sekali.
Aku membuat orang yang menyayangiku bangga padaku.
Terutama ibu panti yang telah merawatku layaknya merawat anak kandungnya.
Kemudian, David. Satu - satunya laki laki sebayaku yang menjadi semangatku.
"Neliaaaa luluuuuuuuus" teriakku di tengah lapangan basket sekolahku.
Teman teman memberi selamat padaku, mungkin mereka mengetahui siapa yang mendapat nilai paling tinggi.
Aku menyambutnya dengan senyuman bahagia.
Aku memeluk ibu panti dan membagi kebahagiaanku.
Ibu panti mencium keningku sambil menangis terharu karena kebahagiaan.
Aku memeluk David, ia memberi ucapan untukku.
Hari ini, aku bahagia Tuhan.
Untuk kesekian kalinya, Terimakasih Tuhan telah memberiku kebahagiaan.
------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini adalah acara pelepasan siswa kelas 3 di sekolah SMPku.
Aku mengisi acar ini dengan bermain gitar dan bernyanyi.
Dari dulu, aku memang menyukai suara gitar yang selalu membuat hatiku tenang.
Dan membuatku mempunyai niat untuk bisa memainkannya dengan merdu.
Aku ingin mencoba kemampuanku bermain gitar selama ini, itulah alasanku mengisi acara ini.
Aku menunggu giliranku di belakang stage.
Aku mecoba menghilangkan rasa demam panggungku dengan mencoba menarikan jemariku di atas senar gitar.
Tapi lama kelamaan, aku merasa mataku berkunang kunang.
Aku menahanya, hingga seorang temanku menyadarkanku bahwa ini adalah giliranku.
Aku hanya berdoa agar bisa melewati ini semua.
Aku menaiki tangga di balik panggung.
Aku duduk di kursi yang di sediakan panitia.
Tak lama kemudian, alunan gitarku di dengarkan oleh banyak orang yang hadir di sekolah ini.
Tak pernah aku sadari, mereka memberiku standing applause.
Untuk keskian kalinya, aku merasa sangat bahagia diatas penyakitku.
----------------------------------------------------------------------------------
Hari ini adalah jadwalku kembali ke dokter spesialis penyakit kanker.
Aku tidak sendirian, aku di temani oleh ibu pantiku.
Setelah dokter memeriksaku, dokter menyuruhku menunggu hasilnya.
Hasilnya membuat dadaku nyeri.
"Sel kanker yanga da di tubuh kamu semakin menjadi, kamu hampir di kategorikan dalama kanker sel darah putih stadium 4" jelas dokter dengan mimik sedikit kurang enak.
ku hanya menunduk dan mencoba lebih tegar mendengarnya.
"Mungkin seminggu lagi kamu mulai menjalani kemotherapy seperti dulu lagi" lanjut sang dokter.
Aku menangis mendengar kenyataan yang harus kembali aku jalani.
Aku tak sanggup lagi emndengar penjelasan Dokter, aku memutuskan keluar dan merenung di taman belakang rumah sakit.
Aku membayangkan sakitnya tubuhku saat menjalani kemotherapy dan membuatku menyerah menghadapi kenyataan.
Aku membayangkannya, sangat sulit menerkanya.
Aku membutuhkan David saat ini.
Handphoneku mulai menghubunginya. Nada sambung yang terdengar membuatku semakin tidak sabar.
Lega rasanya, ketika suara David mulai muncul dari seberang sana.
"Halo David" sapaku sedikit terisak.
"Halo Neliaku, ada apa? Kamu kenapa?" jawabnya dari seberang sana sedikit khawatir.
"Kamu bisa ke rumah sakit biasa aku ke dokter ngga? Aku butuh kamu. Aku tunggu kamu di taman belakang rumah sakit ya." lanjutku.
"Iya iya aku kesana sekarang" lanjut David.
Aku setia menunggu David.
Hingga sosoknya mucul dan duduk di bangku ini bersamaku.
Aku memeluknya, aku menangis di bahunya.
David memelukku, ia menghapus air mataku.
"Hei udah jangan nangis. Kamu kenapa?" tanya David.
"Vid, aku.. aku takut" lanjutku.
"Takut kenapa Nel?" tanya David.
"Dokter menyuruhku kembali menjalani kemptheraphy. Menurut hasil pemeriksaan sel kankerku sudah memasuki stadium4" lanjut dan kembali menangis di pelukan David.
"Jadi.. kamu? Udah jalanin aja, itu semua juga demi kamu kan. Ngga sakit kok, asal kamu punya semangat buat terus jalaninya. Sama seperti yang lalu - lalu." kata David sambil menghapus air mataku.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menangis.
"Udah udah jangan nangis. Aku temenin kamu kemotheraphy ya" lanjutnya.
Aku terdiam. Semangatku mulai ada lagi. Senyumku sedikit mengembang.
"Beneran?" tanyaku.
David hanya mengangguk.
----------------------------------------------------------------------------
Hari ini aku menjalani kemotheraphy dan di temani dengan penyemangatku. David.
Ia rela kuremas tangannya saat aku merintih kesakitan.
Ia setia mendengar teriakanku saat obat kimia mulai menjalar di tubuhku.
Ia setia menghapus air mataku yang jatuh saat tubuhku sedikit menolak reaksi obat kimianya.
Sakit Tuhan. Sakit.
Beberapa jam kemudian, aku keluar dari ruang kemotherapy menyakitkan itu.
Tubuhku lemas, rasa sakit yang amat sangat di rasakan sampai tulang.
Tapi, di sebelahku ada seorang malaikat tanpa sayap. David.
Tangannya masih setia menopangku, membantuku berjalan.
David mendudukanku di bangku ruang tunggu.
Ia membiarkan kepalaku bersandar di bahunya.
Ia membiarkan air mataku membasahi bajunya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Entah bagaimana cerita Tuhan selanjutnya, aku hanya ingin berterimakasih pada Tuhan.
Memberiku penyakit yang hampir membunuhku. Lalu, mengirim malaikatnya untuk membantuku.
Aku hanya takut kehilangan semua yang sudah aku miliki.
Termasuk semangat hidupku.
Hanya tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya, membiarkan malaikat di sampingku ini pergi jauh.
Hanya tak tahu akan bagaimana jika tangan yang membantuku berjalan ini tak ada lagi.
Entah, mana yang lebih menyakitkan? Melihat malaikatku berjalan menjauhiku atau menghilangkan penyakitku melalui kemotheraphy?
Yang jelas, sampai saat ini aku mempercayakan sepenuhnya perasaanku untuk malaikat tanpa sayapku ini.
Rain
Dulu.. hujan itu indah..
hujan itu sejuk..
hujan itu tenang..
Hujan adalah alunan musik Tuhan yang sangat merdu..
Hujan adalah kesakitan..
Hujan itu kuat, ia tegar..
Airnya jatuh dari langit dan menabrak tanah, sakit. Tapi menyenangkan..
Hujan itu merdu..
Semerdu alunan gitaarnya..
Hujan itu penuh kenangan..
Di setiap tetessnya menyimpan kenangan..
Di dalam suara tetesannya tersimpan rindu..
Di dalam awaan hitamnya tersimpan air mata..
Di dalam lebatnya tersimpan senyum indah..
Aku selalu berharap, bisa menari bersama Tuhan dan malaikatnya dalam hujan..
Aku menyukai hujan..
Sangat amat menyukai..
Aku selalu menikmati suaranya..
Menikmati tetesannya..
Menikmati rintihannya..
Aku selalu bahagia saat tetesannya jatuh menabrak tanah dan memunculkan semerbak bau sejuknya..
Aku selalu memperhatikan arahnya..
Merasakan dinginnya..
Lalu.....
Lalu.....
Merasakan sakitnya..
Sabtu, 17 November 2012
Cinta?
Cinta? Apa itu cinta?
Cinta? Bagaimana rasanya?
Perih? Sakit? Atau bahkan sehat dan tanpa luka?
Cinta? Bahagia atau bersedih?
Cinta? Menyakiti atau di sakiti?
Cinta? Mengkhianati atau dikhianati?
Cinta? Mengerti atau di mengerti?
Cinta? Percaya atau di percaya?
Cinta? Cinta? Cinta?
Sulit di mengerti, kadang begini kadang juga begitu.
Tidak ada yang mengerti arti cinta sebenarnya.
Stoooooooopppppp!!!!!!
Mungkin, aku memang sama seperti banyak orang diluar sana.
Tak mengerti arti cinta sebenarnya.
Tapi... Aku punya definisi tersendiri untuk CINTA.
Menurut hatiku....
Cinta itu senyum dan air mata.
Cinta itu manis dan pahit.
Cinta itu terang dan gelap.
Dimana kita bisa tersenyum karena cinta.
Dimana kita dibuat tersedu-sedu oleh air mata karena cinta.
Ketika kita merasakan cinta semanis gula dan sepahit kopi tanpa gula.
Ketika kita merasa seterang bintang dan segelap awan hitam.
Cinta..........
Bisa membuat kita ingin waktu berputar sangat lambat.
Dan bisa membuat kita ingin memberhentikan waktu.
Membuat kita ingin memutar waktu.
Membuat kita ingin mempercepat putaran detik pada jam.
Membuat kita mengerti hidup.
Membuat kita mengerti takdir.
Membuat kita berharap, meski tau harapannya tak seiring dengan kenyataan.
Membuat kita bertanya, meski tau jawabannya menyesakkan dada.
Membuat kita menunguu, meski tau ia tak akan datang atau kembali.
Membuat air mata lebih berarti.Membuat senyum lebih bermakna.
Membuat mata berkaca-kaca karena bahagia dan kesakitan.
Membuat kita terbang ke langit paling ujung.
Membuat kita merasa terajatuh di papan penuh paku.Lukanya perih dan membekas.
Membuat kita yakin dan percaya.
Membuat kita tertawa lepas.
Membuat kita kecewa dan terkhianati.
Tapi untuk kesekian kalinya, aku merasakan cinta yng sangat manisndan pahit.
Cinta yang penuh kenangan dan cinta yang sementara.
Cinta memang sangat membingungkan, tapi..
Intinya CINTA ITU KESEDIHAN YANG TERTUNDA.
Kita dibuat melayang hingga lupa dengan bumi.
Tapi suatu saat kita pasti di jatuhkan.
Tapi...Mengapa banyak orang senang jatuh pada cinta?
Padahal cinta menyakitkan. Entahlah.
Cinta? Bagaimana rasanya?
Perih? Sakit? Atau bahkan sehat dan tanpa luka?
Cinta? Bahagia atau bersedih?
Cinta? Menyakiti atau di sakiti?
Cinta? Mengkhianati atau dikhianati?
Cinta? Mengerti atau di mengerti?
Cinta? Percaya atau di percaya?
Cinta? Cinta? Cinta?
Sulit di mengerti, kadang begini kadang juga begitu.
Tidak ada yang mengerti arti cinta sebenarnya.
Stoooooooopppppp!!!!!!
Mungkin, aku memang sama seperti banyak orang diluar sana.
Tak mengerti arti cinta sebenarnya.
Tapi... Aku punya definisi tersendiri untuk CINTA.
Menurut hatiku....
Cinta itu senyum dan air mata.
Cinta itu manis dan pahit.
Cinta itu terang dan gelap.
Dimana kita bisa tersenyum karena cinta.
Dimana kita dibuat tersedu-sedu oleh air mata karena cinta.
Ketika kita merasakan cinta semanis gula dan sepahit kopi tanpa gula.
Ketika kita merasa seterang bintang dan segelap awan hitam.
Cinta..........
Bisa membuat kita ingin waktu berputar sangat lambat.
Dan bisa membuat kita ingin memberhentikan waktu.
Membuat kita ingin memutar waktu.
Membuat kita ingin mempercepat putaran detik pada jam.
Membuat kita mengerti hidup.
Membuat kita mengerti takdir.
Membuat kita berharap, meski tau harapannya tak seiring dengan kenyataan.
Membuat kita bertanya, meski tau jawabannya menyesakkan dada.
Membuat kita menunguu, meski tau ia tak akan datang atau kembali.
Membuat air mata lebih berarti.Membuat senyum lebih bermakna.
Membuat mata berkaca-kaca karena bahagia dan kesakitan.
Membuat kita terbang ke langit paling ujung.
Membuat kita merasa terajatuh di papan penuh paku.Lukanya perih dan membekas.
Membuat kita yakin dan percaya.
Membuat kita tertawa lepas.
Membuat kita kecewa dan terkhianati.
Tapi untuk kesekian kalinya, aku merasakan cinta yng sangat manisndan pahit.
Cinta yang penuh kenangan dan cinta yang sementara.
Cinta memang sangat membingungkan, tapi..
Intinya CINTA ITU KESEDIHAN YANG TERTUNDA.
Kita dibuat melayang hingga lupa dengan bumi.
Tapi suatu saat kita pasti di jatuhkan.
Tapi...Mengapa banyak orang senang jatuh pada cinta?
Padahal cinta menyakitkan. Entahlah.
Kamis, 15 November 2012
Untuk Tuhanku dan Tentangmu Malaikatku
Aku sempat tidak percaya dengan kebahagiaan.
Aku sempat percaya, tapi kepercayaan itu di hancurkan.
Aku sempat memilih, tapi bukan pilihan yang tepat.
Aku sempat menyayangi tapi aku di khianati.
Kali ini aku menulis suratku untuk Tuhan, tentang seorang malaikatnya.
----------------
Tuhaaan, kau tau? Kau masih ingat kan orang yang dulu sering aku ceritakan?
Bagaimana kau lupa Tuhan? Dia masih selalu menjadi nama yang sering kusebut di dalam do'aku.
Aku bahagia Tuhan melihatnya tersenyum, tertawa dan melupakan masa lalunya.
Masa lalunya yang sangat buruk, "bersamaku".
Tuhan, maafkann aku.
Aku tidak bisa menghapusnya. Aku tidak bisa melupakannya.
Sulit untukku melupakan seorang malaikat kecil sepertinya.
Tuhan, bisa gak sih waktu di ulang lagi?
Tuhan bisa gak sih aku balik ke waktuku sama dia?
Tuhan bisa gak sih, kasih aku perasaannya lagi?
Tuhan, bisa gak sih, semuanya di "replay" lagi?
Tuhaaan.....................
Kenangan itu tidak bisa di bayar dengan apapun.
Kenangan itu masih sangat keras meleat di otakku.
Tuhaan, kenapa sesulit ini Tuhan?
Kenapa harus selama itu dulu, kau izinkan aku membuat kenangan itu bersamanya?
Jika akhirnya pun bertemu tak pernah saling beratapan lagi.
Tuhan, aku menyesal.
Kenapa aku yang harus menorehkan lukanya?
Tuhaaaaan.......
Aku rindu..... Rindu malaikat kecilku.
Tuhaaaaaaaan..........
Aku masih ingin merasakan tatapan matanya.
Aku msih ingin merasakan bahunya.
Aku masih ingin merasakan telapak tangannya.
Aku masih ingin merasakan genggamannya.
Aku masih ingin merasakan dekapannya.
Entah kapan aku bisa melupakannya, jika dia masih ada di hatiku.
Aku sempat percaya, tapi kepercayaan itu di hancurkan.
Aku sempat memilih, tapi bukan pilihan yang tepat.
Aku sempat menyayangi tapi aku di khianati.
Kali ini aku menulis suratku untuk Tuhan, tentang seorang malaikatnya.
----------------
Tuhaaan, kau tau? Kau masih ingat kan orang yang dulu sering aku ceritakan?
Bagaimana kau lupa Tuhan? Dia masih selalu menjadi nama yang sering kusebut di dalam do'aku.
Aku bahagia Tuhan melihatnya tersenyum, tertawa dan melupakan masa lalunya.
Masa lalunya yang sangat buruk, "bersamaku".
Tuhan, maafkann aku.
Aku tidak bisa menghapusnya. Aku tidak bisa melupakannya.
Sulit untukku melupakan seorang malaikat kecil sepertinya.
Tuhan, bisa gak sih waktu di ulang lagi?
Tuhan bisa gak sih aku balik ke waktuku sama dia?
Tuhan bisa gak sih, kasih aku perasaannya lagi?
Tuhan, bisa gak sih, semuanya di "replay" lagi?
Tuhaaan.....................
Kenangan itu tidak bisa di bayar dengan apapun.
Kenangan itu masih sangat keras meleat di otakku.
Tuhaan, kenapa sesulit ini Tuhan?
Kenapa harus selama itu dulu, kau izinkan aku membuat kenangan itu bersamanya?
Jika akhirnya pun bertemu tak pernah saling beratapan lagi.
Tuhan, aku menyesal.
Kenapa aku yang harus menorehkan lukanya?
Tuhaaaaan.......
Aku rindu..... Rindu malaikat kecilku.
Tuhaaaaaaaan..........
Aku masih ingin merasakan tatapan matanya.
Aku msih ingin merasakan bahunya.
Aku masih ingin merasakan telapak tangannya.
Aku masih ingin merasakan genggamannya.
Aku masih ingin merasakan dekapannya.
Entah kapan aku bisa melupakannya, jika dia masih ada di hatiku.
Jumat, 09 November 2012
Ketika masa lalu menghancurkan dan mengubah semuanya
Kali ini aku kembali menulis sebuah cerita singkat.
Bisa di bilang ini kenyataan atau hanya khayalan.
Tapi entah, aku merasa ini telah terjadi di hidupku.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara di tengah keluarga yang sederhana dan harmonis.
Aku memiliki ayah yang sangat baik dan ibu yang sangat menyayangiku serta memiliki adik laki laki yang begitu pula menyayangiku.
Mungkin, bisa dinilai ini adalah suatu kebahagiaan.
Memang, mereka membuat hidupku snagat berarti.
Aku sering menghabiskan waktuku bersama mereka.
Aku sangat amat bahagia memiliki mereka.
Kehidupan di keluargaku sangat indah hingga seseorang di masa lalu ibuku hadir dengan senyum dan menghancurkan semuanya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini aku akan berlibur dengan keluargaku di suatu daerah yang selalu berhasil membuatku lebih dan lebih baik. BANDUNG. Kota yang sangat amat menyejukkan hati dan fikiranku.
Salah satu kendaraan udara yang terkenal terbang pukul 10.00 untuk membawaku dan keluarga kecilku ke Bandung.
Hanya sekitar satu jam lebih limabelas menit aku sudah menginjak tanah yang berbeda.
Aku menunggu travel bag kepunyaanku diturunkan dari bagasi kapal udara.
Aku bersandar di salah satu pilar di bandara international Husein Sastranegara itu sambil memutar lagu dari iPod nano berwarna pink kesayanganku.
Tidak lama kemudian aku melihat travel bag berwarna pink milikku.
Aku buru buru mengambilnya.
Tak lama kemudian milik ayah ibu dan adik pun terlihat.
Kemudian aku berjalan menemui ibu yang sedang berbincang dengan teman lamanya.
Laki laki teman ibu ini memang sebaya dengan ibu. Ia ramah padaku, adik laki lakiku tapi sepertinya tidak begitu dengan ayahku. Terlihat, ayah tidak ikut bercanda di sebuah cafe bersama aku ibu dan teman ibu.
Ayah lebih memilih untuk memainkan lensa cameranya di dekat kedatangan international.
Aku membagi pin blackberry ku kepadanya, sepertinya teman ibu ini baik sekali.
Aku dan adikku sering bercanda dengannya saat berkomunikasi melalui pesan singkat khusus sdan sepertinya ibu juga begitu.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kira-kira begitulah cerita awal perkenalanku dengan teman ibu yang lambat laun aku tahu sebenarnya siapa dia.
Awalnya juga aku memang tidak pernah berperasangka buruk padanya.
Hingga suatu saat......
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini rencananya aku akan bermain bersama teman teman lamaku di Bandung.
Aku berpamitan dengan ibu yang sedang berdandan di kamarnya.
Dan ayah yang sedang membaca koran di ruang tamu.
Dan aku pun berangkat untuk bernostalgia.
Sangat senang rasanya,bisa bermain bersama teman teman lamaku.
Aku memutuskan untu membeli cindera mata untuk seseorang.
Sepertinya salah satu brand memikat hatiku.
Aku menuju Paris Van Java ketika waktu menunjukkan tepat pukul2 siang.
Hari ini Bandung sangat terik, matahari serasa menusuk kulit sehingga kulit dapat berubah warna.
Tapi, tetap saja. Tida ada alasan yag bisa membuatku tidak senang dengan kota ini.
Haus mulai terasa di tenggorokanku.
Kuputuskan saja mengobrol sambil membeli minuman di deretan cafe depan Paris Van Java.
Aku mencari cafe yang tidak seberapa ramai sehingga tidak begitu lama pula aku menunggu pesananku.
Aku berjalan sambil melihat sekelilingku.
Aku melihat seseorang yang tidak asing bagiku di sudut sebuah cafe.
Aku terkejut, aku benar benar terkejut.
Aku tak pernah menyangka ini terjadi.
Sungguh aku tak pernah menyangka.
Aku melihat sosok wanita cantik di sudut cafe bersama lelaki sebayanya yang sangat aku kenali.
Mereka bermesraan. Padahal, mereka bukan sepasang kekasih bahkan suami istri.
Tak lain lagi itu aalah ibuku dan teman lamanya yang baru aku kenal.
Aku menghampiri ibuku.
Aku mencoba menahan amarahku, aku mencoba berbicara pelan pelan.
"Ibu ngapain disini sama om ini?" tanyaku.
Sepertinya mereka berdua terkejut, lalu melepaskan tangan yang saling menggenggam.
Lalu ibu berdiri, dan mengelus rambutku.
Mencoba menjelaskan.
Aku percaya saja, mungkin pernyataan ibu memang kenyataan.
Aku memilih pergi untuk meneruskan tujuanku kesini.
Tapi, tak bisa di pungkiri memang kejadian tadi masih berkecamuk di otakku.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku percaya dengan pepatah sepandai-pandainya kita menyimpan rahasia pasti akan terbongkar juga.
Begitulah dengan hidupku sekarang.
Kurasa ibu sangat pandai menyimpan rahasia.
Tapi, apa boleh buat beginilah takdir.
Akhirnya aku adik dan ayah pun tau siapa teman lama ibu itu.
Dia adalah orang yang sangat di sayangi oleh ibuku di masa lalunya.
Aku terkejut mendengar pengakuan ibu.
Sepertinya ibu memilih jalan untuk berpisah dengan ayah.
Sakit rasanya ketika mendengar itu semua.
Sakit sekalii.
Keluarga yang benar benar harmonis harus hancur karena seseorang di masa lalu ibu.
Semenjak saat itu sepertinya hubungan ibu dan ayah menggantung. Dilema.
Antara berpisah dan bersatu.
Hati ibu dan hati ayah sepertinya sudah tidak bisa di satukan.
Tapi jujur dari lubuk hati, aku tidak pernah menginginkan keluargu hancur berantakan seperti ini.
Perbuatan ibu memang snagat menyakitkan bagiku, adikku serta bagi ayahku.
Aku selalu berharap ayah tetap mempertahankan ibu.
Tapi apa boleh buat, perasaan tidak bisa di paksakan.
Sepertinya ayah juga "selingkuh" dalam tanda kutip membalas perbuatan ibu.
Kini, aku kecewa dengan mereka berdua.
Sangat kecewa.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kini, aku hanya bisa berharap dan berdo'a.
Semoga kali ini harapan dan kenyataan sedang bersamaku.
Aku percaya, Tuhan masih menyayangiku.
Aku memilih untuk diam, membiarkan kelakuan orang tuaku yang hampir setiap hari selalu menyayat hatiku.
Aku menahan egoku.
Hingga rasanya dadaku tak kuat lagi menahannya. Benar-benar sudah tidak sanggup.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ayah ga pengen kita kayak dulu lagi?" tanyaku saat duduk di ruang keluarga bersama ayah.
Ayah hanya diam tak menjawab.
"Aku kagen sama kita yang dulu. Aku pengen semuanya kayak dulu lagi yah." lanjutku.
Ayah masih terdiam, lalu tanpa jawaban ayah oergi meninggalkanku.
Aku yang susah payah menahan egoku.
Dan, beginilah jawabannya?
Sangat jauh dari harapanku.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku berusaha pasrah.
Berusaha menikmati semuanya.
Berusaha membayangkan keadaan sekarang lebih indah daripada dulu.
Aku masih berusaha.
Beberapa hari kemudian, hal yangg snagat aku harapkan terjadi.
Harapanku menjadi nyata.
Ayah,ibu,aku dan adik berkumpul di ruang makan untuk amakn malam.
Hal yang sudah lama tidak terjadi.
Jauh di dalam hati, aku menangis.
Menangis terharu, dan tidak ingin mengakhiri makan malam ini.
Memang sunyi tak ada yang berbicara, tapi aku bahagia.
"Maafin ibu ya yah, ibu yang salah" kata ibu tiba-tiba.
"Ibu mau kita kayak dulu lagi, ibu akan meninggalkannya dan ibu harap ayah juga meninggalkan wanita itu. Demi anak kita" lanjut ibu.
Ayah meletakkan sendok dan garpunya.
"Ibu tidak bisa menghapus perasaan untuk ayah dan anak kita" lanjut ibu.
Aku tersentak dan mulai berharap lebih.
Ayah hanya membalas pengakuan ibu dengan pelukan.
Lalu berkata, "Ayah sudah lama meninggalkannya. Karna ayah yakin kita pasti kembali seperti dulu lagi" kata ayah.
Lalu jemari tangan ayah menggenggam jemari ibu.
Jemari ibu menggenggam salah satu jemariku.
Jemariku mengenggam salah satu jemari adikku.
Jenari adikku mengenngam salah satu jemari ayah.
Kita saling bergenggaman.
Aku memejamkan mataku.
Dalam hati aku berucap " Terimakasih Tuhan, kali ini kau mendengar do'aku. Terimakasih Tuhan kau telah menyatukan keluargaku lagi. Terimakaish Tuhan. "
Bisa di bilang ini kenyataan atau hanya khayalan.
Tapi entah, aku merasa ini telah terjadi di hidupku.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara di tengah keluarga yang sederhana dan harmonis.
Aku memiliki ayah yang sangat baik dan ibu yang sangat menyayangiku serta memiliki adik laki laki yang begitu pula menyayangiku.
Mungkin, bisa dinilai ini adalah suatu kebahagiaan.
Memang, mereka membuat hidupku snagat berarti.
Aku sering menghabiskan waktuku bersama mereka.
Aku sangat amat bahagia memiliki mereka.
Kehidupan di keluargaku sangat indah hingga seseorang di masa lalu ibuku hadir dengan senyum dan menghancurkan semuanya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini aku akan berlibur dengan keluargaku di suatu daerah yang selalu berhasil membuatku lebih dan lebih baik. BANDUNG. Kota yang sangat amat menyejukkan hati dan fikiranku.
Salah satu kendaraan udara yang terkenal terbang pukul 10.00 untuk membawaku dan keluarga kecilku ke Bandung.
Hanya sekitar satu jam lebih limabelas menit aku sudah menginjak tanah yang berbeda.
Aku menunggu travel bag kepunyaanku diturunkan dari bagasi kapal udara.
Aku bersandar di salah satu pilar di bandara international Husein Sastranegara itu sambil memutar lagu dari iPod nano berwarna pink kesayanganku.
Tidak lama kemudian aku melihat travel bag berwarna pink milikku.
Aku buru buru mengambilnya.
Tak lama kemudian milik ayah ibu dan adik pun terlihat.
Kemudian aku berjalan menemui ibu yang sedang berbincang dengan teman lamanya.
Laki laki teman ibu ini memang sebaya dengan ibu. Ia ramah padaku, adik laki lakiku tapi sepertinya tidak begitu dengan ayahku. Terlihat, ayah tidak ikut bercanda di sebuah cafe bersama aku ibu dan teman ibu.
Ayah lebih memilih untuk memainkan lensa cameranya di dekat kedatangan international.
Aku membagi pin blackberry ku kepadanya, sepertinya teman ibu ini baik sekali.
Aku dan adikku sering bercanda dengannya saat berkomunikasi melalui pesan singkat khusus sdan sepertinya ibu juga begitu.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kira-kira begitulah cerita awal perkenalanku dengan teman ibu yang lambat laun aku tahu sebenarnya siapa dia.
Awalnya juga aku memang tidak pernah berperasangka buruk padanya.
Hingga suatu saat......
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini rencananya aku akan bermain bersama teman teman lamaku di Bandung.
Aku berpamitan dengan ibu yang sedang berdandan di kamarnya.
Dan ayah yang sedang membaca koran di ruang tamu.
Dan aku pun berangkat untuk bernostalgia.
Sangat senang rasanya,bisa bermain bersama teman teman lamaku.
Aku memutuskan untu membeli cindera mata untuk seseorang.
Sepertinya salah satu brand memikat hatiku.
Aku menuju Paris Van Java ketika waktu menunjukkan tepat pukul2 siang.
Hari ini Bandung sangat terik, matahari serasa menusuk kulit sehingga kulit dapat berubah warna.
Tapi, tetap saja. Tida ada alasan yag bisa membuatku tidak senang dengan kota ini.
Haus mulai terasa di tenggorokanku.
Kuputuskan saja mengobrol sambil membeli minuman di deretan cafe depan Paris Van Java.
Aku mencari cafe yang tidak seberapa ramai sehingga tidak begitu lama pula aku menunggu pesananku.
Aku berjalan sambil melihat sekelilingku.
Aku melihat seseorang yang tidak asing bagiku di sudut sebuah cafe.
Aku terkejut, aku benar benar terkejut.
Aku tak pernah menyangka ini terjadi.
Sungguh aku tak pernah menyangka.
Aku melihat sosok wanita cantik di sudut cafe bersama lelaki sebayanya yang sangat aku kenali.
Mereka bermesraan. Padahal, mereka bukan sepasang kekasih bahkan suami istri.
Tak lain lagi itu aalah ibuku dan teman lamanya yang baru aku kenal.
Aku menghampiri ibuku.
Aku mencoba menahan amarahku, aku mencoba berbicara pelan pelan.
"Ibu ngapain disini sama om ini?" tanyaku.
Sepertinya mereka berdua terkejut, lalu melepaskan tangan yang saling menggenggam.
Lalu ibu berdiri, dan mengelus rambutku.
Mencoba menjelaskan.
Aku percaya saja, mungkin pernyataan ibu memang kenyataan.
Aku memilih pergi untuk meneruskan tujuanku kesini.
Tapi, tak bisa di pungkiri memang kejadian tadi masih berkecamuk di otakku.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku percaya dengan pepatah sepandai-pandainya kita menyimpan rahasia pasti akan terbongkar juga.
Begitulah dengan hidupku sekarang.
Kurasa ibu sangat pandai menyimpan rahasia.
Tapi, apa boleh buat beginilah takdir.
Akhirnya aku adik dan ayah pun tau siapa teman lama ibu itu.
Dia adalah orang yang sangat di sayangi oleh ibuku di masa lalunya.
Aku terkejut mendengar pengakuan ibu.
Sepertinya ibu memilih jalan untuk berpisah dengan ayah.
Sakit rasanya ketika mendengar itu semua.
Sakit sekalii.
Keluarga yang benar benar harmonis harus hancur karena seseorang di masa lalu ibu.
Semenjak saat itu sepertinya hubungan ibu dan ayah menggantung. Dilema.
Antara berpisah dan bersatu.
Hati ibu dan hati ayah sepertinya sudah tidak bisa di satukan.
Tapi jujur dari lubuk hati, aku tidak pernah menginginkan keluargu hancur berantakan seperti ini.
Perbuatan ibu memang snagat menyakitkan bagiku, adikku serta bagi ayahku.
Aku selalu berharap ayah tetap mempertahankan ibu.
Tapi apa boleh buat, perasaan tidak bisa di paksakan.
Sepertinya ayah juga "selingkuh" dalam tanda kutip membalas perbuatan ibu.
Kini, aku kecewa dengan mereka berdua.
Sangat kecewa.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kini, aku hanya bisa berharap dan berdo'a.
Semoga kali ini harapan dan kenyataan sedang bersamaku.
Aku percaya, Tuhan masih menyayangiku.
Aku memilih untuk diam, membiarkan kelakuan orang tuaku yang hampir setiap hari selalu menyayat hatiku.
Aku menahan egoku.
Hingga rasanya dadaku tak kuat lagi menahannya. Benar-benar sudah tidak sanggup.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ayah ga pengen kita kayak dulu lagi?" tanyaku saat duduk di ruang keluarga bersama ayah.
Ayah hanya diam tak menjawab.
"Aku kagen sama kita yang dulu. Aku pengen semuanya kayak dulu lagi yah." lanjutku.
Ayah masih terdiam, lalu tanpa jawaban ayah oergi meninggalkanku.
Aku yang susah payah menahan egoku.
Dan, beginilah jawabannya?
Sangat jauh dari harapanku.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku berusaha pasrah.
Berusaha menikmati semuanya.
Berusaha membayangkan keadaan sekarang lebih indah daripada dulu.
Aku masih berusaha.
Beberapa hari kemudian, hal yangg snagat aku harapkan terjadi.
Harapanku menjadi nyata.
Ayah,ibu,aku dan adik berkumpul di ruang makan untuk amakn malam.
Hal yang sudah lama tidak terjadi.
Jauh di dalam hati, aku menangis.
Menangis terharu, dan tidak ingin mengakhiri makan malam ini.
Memang sunyi tak ada yang berbicara, tapi aku bahagia.
"Maafin ibu ya yah, ibu yang salah" kata ibu tiba-tiba.
"Ibu mau kita kayak dulu lagi, ibu akan meninggalkannya dan ibu harap ayah juga meninggalkan wanita itu. Demi anak kita" lanjut ibu.
Ayah meletakkan sendok dan garpunya.
"Ibu tidak bisa menghapus perasaan untuk ayah dan anak kita" lanjut ibu.
Aku tersentak dan mulai berharap lebih.
Ayah hanya membalas pengakuan ibu dengan pelukan.
Lalu berkata, "Ayah sudah lama meninggalkannya. Karna ayah yakin kita pasti kembali seperti dulu lagi" kata ayah.
Lalu jemari tangan ayah menggenggam jemari ibu.
Jemari ibu menggenggam salah satu jemariku.
Jemariku mengenggam salah satu jemari adikku.
Jenari adikku mengenngam salah satu jemari ayah.
Kita saling bergenggaman.
Aku memejamkan mataku.
Dalam hati aku berucap " Terimakasih Tuhan, kali ini kau mendengar do'aku. Terimakasih Tuhan kau telah menyatukan keluargaku lagi. Terimakaish Tuhan. "
Senin, 05 November 2012
Air mata ini masih untukmu
Aku bertemu di suatu waktu yang telah Tuhan tentukan. Di satu surga dunia yang sangat indah.
Di satu kondisi yang tanpa membuthkan banyak alasan aku tak bisa menolak kehadiranmu.
Indah sekali takdir Tuhan, terlalu indah dan menyakitkan bila kuceritakan semuanya.
Aku tak pernah menghindari takdirku. Seluruh hidupku ku pasrahkan pada Tuhan.
Entah harus berakhir bahagia atau justru mengenaskan.
------
Hari itu aku menatap mata seseorang, sinarnya membuat hatiku luluh.
Entah ini pertanda apa, aku melihat matahari di matanya.
Membuat hariku lebih ceria, membuat hidupku lebih indah.
Ya, memang begitu indah. Sampai detik ini pun aku masih tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat itu.
Aku hanya terpesona melihatnya. Yaa mungkin tidak lebih dari itu.
Tapi seiring berjalannya waktu, perasaan aneh mulai berkecimuk di dalam hatiku saat aku bertemu dan menata matanya.
Kali ini aku percaya Tuhan sangat adil.
Dia datang kepadaku, dia mewarnai hidupku.
Dia membuatku percaya, hidup ini masih sangat begitu indah.
Tuhan kali ini aku menikmati hidupku, menikmati hariku yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Tuhan kali ini aku mohon, jangan teralu cepat kau menginginkanku untuk mengakhiri ini.
-----
Hampir 6bulan, ia mewarnai hidupku.
Dan selama itu pun aku mempercayakan hatiku sepenuhnya padanya.
Selama itu pun aku mencoba melengkapi kekurangannya dengan kelebihanku.
Selama itu pula aku belajar untuk mengobati lukanya.
Dan selama itu pula aku dan dia mempunyai banyak sekali kenangan indah, yang jujur sangat enggan aku lupakan.
Hingga ketika, aku dan dia merayakan hari jadi kita yang ke-enam bulan di perbukitan yang indah dan dihiasi oleh hamparan cahaya kuning dari langit.
Dan dia pun membuat satu pengakuan.
------
"Sebenarnya, aku hanya menjadikanmu pelampiasan. Maafkan aku, aku tak bisa membohongimu lebih lama lagi.Aku maish menyayangi mantanku" katanya tiba tiba.
Tuhaaaan, kata kata sederhananya membuatku sangat hancur.
Aku yang selalu mempercayakan hatiku untuknya, tapi dia? Dia bahkan tak memberikan hatinya untukku. Tak mempercayakan perasaanya untukku.
"Ini memang sulit ku mengerti, aku tak pernah berharap lebih padamu sejak dulu. Tapi kamu, kamu hadir seenaknya di dalam hidupku. Dan sekarang seakan-akan kamu mengahancurkan hidupku. Siapa yang salah sekarang? Kamu, aku, mantanmu, perasaanku, perasaanmu, waktu atau bahkan Tuhan? Siapa yang pantas di salahkan? " Lanjutku berontak sambil menangis.
Aku hancur, sangat hancur.
"Biarkan aku pergi, aku tak bisa melanjutkan semuanya denganmu lagi. Aku lelah membohongi diriku sendiri. Aku memang jahat, aku tak pantas buatmu. Maafkan aku" lanjutmu.
Kamu pergi, melepaskan tanganku tanpa menunggu jawabanku.
Perih rasanya ketika merasakan ini semua.
Sangat perih.
Aku berteriak kencang melepaskan bebanku.
"Tuhaaan, tolong aku. Mengapa engkau pertemukan kami jika memang kami harus berpisah lagi? Jawaab Tuhaaaan" teriakku.
Aku hanya memandang punggungnya yang semakin menjauh.
Sulit memang menerima kenyataan ini.
------
Aku tak berusaha melupakannya, aku hanya berusaha menghapus perasaanku yang sangat dalam untuknya.
Setiap malam tanpa ku sadari selimutku selalu basah dengan air mata yang tidak sengaja aku teteskan untuk mengenangmu.
SETIAP MALAM!
Bagaimana? Apakah kurang bukti jika aku sangat menyayangimu?
Jika boleh memilih, sepertinya aku lebih memilih tidak bertemu denganmu saat itu.
Sakit rasanya ketika mengingat semuanya, sangat sakit.
Entah obat apa yang harus aku beli untuk mengobatinya.
-------
Aku menjalani kehidupanku, sepertinya memang aku bahagia.
Tapi jauh di dalam lubuk hati ini, aku masih sangat rapuh sangat sedih mengingat semuanya.
Hampir 2bulan aku menangisinya, hampir 2bulan aku sia siakan watuku untuk mengenangnya.
Hampir 2bulan juga air mata ini hanya kutujukan padamu.
Hampir 2bulan juga namamu selalu terselip dalam do'aku.
Lama kelamaan aku lelah.
Aku mencoba untuk menghapus perasaanku.
Aku percaya aku bisa.
Yaa, aku bisa!!!!!!!!!!
------
Hari ini, aku resmi mengakhiri tangisanku.
Aku memilih untuk sendiri dulu.
Untuk mencari jati diri.
Meskipun tak sepenuhnya aku menghilangkan perasaanku.
Dan masih juga harus di akui, separuh hati ini masih miliknya.
Dan masih juga harus di akui, separuh hati ini masih miliknya.
Miliknya yang hanya menjadikanku pelampiasan.
Rasa sakit ini sedikit demi sedikit menghilang.
--------------
Kini, saat aku mencoba untuk bangkit.
Mengapa ia hadir lagi degan tiba-tiba?
Sakit rasanya, sangat sakit.
Dan kali ini kamu hadir untuk membuatku mengatakan satu pengakuan.
"Jauh di dalam hatiku, perasaan untukmu masih utuh dan tersimpan rapi. Dan jauh di dalam kelopak mataku sinar matamu masih terekam. Dan harus juga ku akui, jika kini aku menangis, air mata ini sepenuhnya masih untukmu"
Sabtu, 03 November 2012
Sesakit inikah kisah orang lain?
Aku hanya ingin bercerita sedikit tentang perbedaan. Kali ini bukan ceritaku, ini cerita sahabatku.
Sore itu, aku mendapat pesan singkat dari sahabat lamaku..Dini.
Ruapanya, ia mengajakku bertemu. Entah akan membincangkan apa, tanpa pikir panjang aku mengiyakan pesan singkatnya dan bergegas untuk bersiap menemuinya.
Aku menemuinya di sebuah cafe ternama di tengah besarnya kota Jakarta.
Aku memasuki cafe itu sambil , mencoba menelfon nomor teman lamaku.
Di sudut cafe aku melihat teman lamaku, wajahnya, rambutnya pun tidak berubah.
Aku menghampirinya ketika ia masih asyik menarikan jemarinya diatas keyboar laptopnya.
---
"Hai barbie" sapaku mungkin sedikit mengejutkan baginya.
Ia berdiri memelukku sejenak sambil mencium pipi kiri dan kananku. Ada yang aneh, matanya sangat sembab.
"Kamu kenapa? Mata kamu?" tanyaku terputus-putus.
"Ah tidak apa-apa, aku hanya lelah mengerti mau Tuhan" jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Heey, kamu bilang apa? Ayo cerita sama aku jangan gini terus" lanjutku sambil memeluknya.
Aku dan Dini duduk berhadapan.
---
Ia menceritakan isi hatinya dengan diiringi air suci dari matanya.
Sepertinya, ia memang lelah.
Ceritanya mendalam, menusuk, dan membuat hatinya semakin nyeri.
---
*Dini mengalami perasaan yang semua orang pasti memiliki. Cinta. Ya, Dini sedang merasakan itu.
Dia gadis yang sangat jarang merasakan cinta. Kedua orang tuanya bercerai. Secara logika, pasti ia jarang merasakan kasih sayang keluarga yang utuh bukan? Ya begitulah.
Beranjak dewasa ia memutuskan untuk mencari teman hidup, yang setia padanya. Tidak memandang latar belakangnya. Tidak memandang masa lalunya.
Dua tahun belakang ini, dia sedang menjalani hubungan jarak jauh serta berbeda agama dengan seseorang yang sedang berada di Australia. Sebut saja Rino.
Dini tidak bisa membohongiku dengan ketegarannya, pancaran sinar matanya terlihat sangat rapuh.
Hubungan jarak jauh yang di selimuti dengan perbedaan keyakinan bukanlah hal mudah.
Tapi Dini dan Rino tetap menguji kepercayaan mereka masing-masing.
Dini merasa Rinolah satu satunya orang di dunia ini yang bisa setia menyayanginya.
"Tapi perasaanku salah" lanjutnya dengan tangan membungkam mulut tanda tak bisa lagi menahan tangisnya.
"Aku sangat percaya padanya, hatiku pun sepenuhnya berpihak padanya. Hidupku telah aku serahkan untuknya. Aku bernafas untuknya. Aku menikmati rindu peluknya ketika ia jauh. Tapi inikah takdir Tuhan?" lanjut Dini.
"Dua hari yang lalu aku tak bia menahan rinduku, saat itu juga bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Aku memutuskan pergi ke Australia untuk beberapa hari. Pesawat yang paling pagi pun ku pilih deminya.
Sesampainya di Australia, aku memilih taxi untuk mengantarkanku dari bandara ke apartementnya.
Aku hafal nomor apartementnya. Tanpa berfikir panjang aku berjalan menuju lift untuk menuju kamarnya di lantai 18. Aku mendekapkan tangan ke tubuhku sendiri.
Aku menunggu pintu lift itu terbuka." putus Dini, matanya tidak sanggup lagi menahan air suci itu.
"Loh? Memangnya kenapa lagi Din?" tanyaku.
"Rino.... Rinoo.." lanjutnya terlihat tidak sanggup berbicara.
"Rino kenapa?" tanyaku semakin penasaran.
"Di dalam lift aku melihat Rino sedang merangkul perempuan lain" tangisnya memecah.
Aku terdiam, yang ada di benakku hanya rasa sakit yang Dini rasakan.
Aku memluk Dini erat. Aku merasakan beban hatinya. Aku merasakan sakit hatinya. Aku tau kali ini Dini benar benar hancur.
"Aku tidak sanggup menjalani kenyataan ini. Aku tidak terima. Aku selalu mengikuti keinginan Tuhan, aku selalu menuruti mau Tuhan. Tapi kenapa Tuhan tidak meberiku bahagia? Aku bertahan selama hampir 20tahun tanpa kasih sayang orang tua, ketika aku mempercayakan hidupku sepenuh untuk seseorang yang sangat aku cintai. Mengapa Tuhan menciptakan takdir ini? Harus aku menyerah dengan keadaan? Aku benar benar hancur, aku tidak sanggup lagi"
Aku hanya menatapnya membiarkan air matanya bercucuran keluar.
"Aku mengerti rasa sakitmu Din, tapi bukankah cinta penuh perjuangan? bukankah cinta selalu memiliki efek samping? Jangan menangis lagi, mungkin dia ingin mengujimu. Percayalah, Tuhan menyayangimu sangat menyayangimu. Tuhan ingin kamu lebih tegar lagi. Tuhan pasti memberimu akhir yang indah. Percayalah"
Sore itu, aku mendapat pesan singkat dari sahabat lamaku..Dini.
Ruapanya, ia mengajakku bertemu. Entah akan membincangkan apa, tanpa pikir panjang aku mengiyakan pesan singkatnya dan bergegas untuk bersiap menemuinya.
Aku menemuinya di sebuah cafe ternama di tengah besarnya kota Jakarta.
Aku memasuki cafe itu sambil , mencoba menelfon nomor teman lamaku.
Di sudut cafe aku melihat teman lamaku, wajahnya, rambutnya pun tidak berubah.
Aku menghampirinya ketika ia masih asyik menarikan jemarinya diatas keyboar laptopnya.
---
"Hai barbie" sapaku mungkin sedikit mengejutkan baginya.
Ia berdiri memelukku sejenak sambil mencium pipi kiri dan kananku. Ada yang aneh, matanya sangat sembab.
"Kamu kenapa? Mata kamu?" tanyaku terputus-putus.
"Ah tidak apa-apa, aku hanya lelah mengerti mau Tuhan" jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Heey, kamu bilang apa? Ayo cerita sama aku jangan gini terus" lanjutku sambil memeluknya.
Aku dan Dini duduk berhadapan.
---
Ia menceritakan isi hatinya dengan diiringi air suci dari matanya.
Sepertinya, ia memang lelah.
Ceritanya mendalam, menusuk, dan membuat hatinya semakin nyeri.
---
*Dini mengalami perasaan yang semua orang pasti memiliki. Cinta. Ya, Dini sedang merasakan itu.
Dia gadis yang sangat jarang merasakan cinta. Kedua orang tuanya bercerai. Secara logika, pasti ia jarang merasakan kasih sayang keluarga yang utuh bukan? Ya begitulah.
Beranjak dewasa ia memutuskan untuk mencari teman hidup, yang setia padanya. Tidak memandang latar belakangnya. Tidak memandang masa lalunya.
Dua tahun belakang ini, dia sedang menjalani hubungan jarak jauh serta berbeda agama dengan seseorang yang sedang berada di Australia. Sebut saja Rino.
Dini tidak bisa membohongiku dengan ketegarannya, pancaran sinar matanya terlihat sangat rapuh.
Hubungan jarak jauh yang di selimuti dengan perbedaan keyakinan bukanlah hal mudah.
Tapi Dini dan Rino tetap menguji kepercayaan mereka masing-masing.
Dini merasa Rinolah satu satunya orang di dunia ini yang bisa setia menyayanginya.
"Tapi perasaanku salah" lanjutnya dengan tangan membungkam mulut tanda tak bisa lagi menahan tangisnya.
"Aku sangat percaya padanya, hatiku pun sepenuhnya berpihak padanya. Hidupku telah aku serahkan untuknya. Aku bernafas untuknya. Aku menikmati rindu peluknya ketika ia jauh. Tapi inikah takdir Tuhan?" lanjut Dini.
"Dua hari yang lalu aku tak bia menahan rinduku, saat itu juga bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Aku memutuskan pergi ke Australia untuk beberapa hari. Pesawat yang paling pagi pun ku pilih deminya.
Sesampainya di Australia, aku memilih taxi untuk mengantarkanku dari bandara ke apartementnya.
Aku hafal nomor apartementnya. Tanpa berfikir panjang aku berjalan menuju lift untuk menuju kamarnya di lantai 18. Aku mendekapkan tangan ke tubuhku sendiri.
Aku menunggu pintu lift itu terbuka." putus Dini, matanya tidak sanggup lagi menahan air suci itu.
"Loh? Memangnya kenapa lagi Din?" tanyaku.
"Rino.... Rinoo.." lanjutnya terlihat tidak sanggup berbicara.
"Rino kenapa?" tanyaku semakin penasaran.
"Di dalam lift aku melihat Rino sedang merangkul perempuan lain" tangisnya memecah.
Aku terdiam, yang ada di benakku hanya rasa sakit yang Dini rasakan.
Aku memluk Dini erat. Aku merasakan beban hatinya. Aku merasakan sakit hatinya. Aku tau kali ini Dini benar benar hancur.
"Aku tidak sanggup menjalani kenyataan ini. Aku tidak terima. Aku selalu mengikuti keinginan Tuhan, aku selalu menuruti mau Tuhan. Tapi kenapa Tuhan tidak meberiku bahagia? Aku bertahan selama hampir 20tahun tanpa kasih sayang orang tua, ketika aku mempercayakan hidupku sepenuh untuk seseorang yang sangat aku cintai. Mengapa Tuhan menciptakan takdir ini? Harus aku menyerah dengan keadaan? Aku benar benar hancur, aku tidak sanggup lagi"
Aku hanya menatapnya membiarkan air matanya bercucuran keluar.
"Aku mengerti rasa sakitmu Din, tapi bukankah cinta penuh perjuangan? bukankah cinta selalu memiliki efek samping? Jangan menangis lagi, mungkin dia ingin mengujimu. Percayalah, Tuhan menyayangimu sangat menyayangimu. Tuhan ingin kamu lebih tegar lagi. Tuhan pasti memberimu akhir yang indah. Percayalah"
Jumat, 02 November 2012
Apakah takdir kita bukan bersatu?
Entah harus kumulai darimana cerita ini. Cerita antara kau dan aku ketika waktu dan norma menjadi pengarangnya.
Cerita antara kau dan aku yang mungkin sudah Tuhan rencanakan sejak lama.
Kau, aku, waktu, keadaan, pertemuan, daaaan perpisahan.
---------------------------------------------------------------------
Sore itu ketika hujan menemaniku di sudut kota. Ketika aku berdiri di sebuah halte bus mini.
Tubuhku yang menggigil kedinginan, ketika angin menerpa.
"Hai" sapamu.
Dengan senyum sedikit memaksa aku membalas sapaanmu.
Aku hanya terkejut ketika menoleh dan menatap matamu.
Mata yang mirip sekali dengan seseorang di masa laluku.
Awalnya, aku memang membencimu. Membenci pertemuan kita, dan membenci sinar matamu.
Karena kamu, membuatku kembali mengais masa lalu yang seharusnya aku lupakan.
Aku sangat membencimu sejak pertama kali aku melihatmu.
-----------------------------------------------------------------------
Aku heran, mengapa keadaan selalu mempertemukan kita?
Aku tak ingin melihatmu.
Aku menghidarimu, tetapi semakin aku menjauh mengapa sosokmu semakin nyata.
Sampai pada suatu saat, aku berfikir. Apakah ini takdir? Apakah ini jalan Tuhan untuk kita?
Aku tidak ingin tersakiti lagi.
Aku terus berfikir, berfikir dan berfikir. Hingga waktu menjawab dan mengukir cerita antara kita.
Aku selalu percaya, jika Tuhan sudah mempersiapkan seseorang untuk bersamaku selamanya.
Apakah itu kamu?
Entah, tetapi saat ini aku ingin membuktikan bahwa sosok itu memang kamu.
Seiring berjalannya waktu dan tanpa kusadari harapan itu muncul dalam benakku.
Aku mencoba menerimamu dan menambah cerita dalam perjuangan hidupku yang tak lama ini.
--------------------------------------------------------------------------
Kita berbeda. Kita tak sama.
Jalan kita berbeda. Bahkan nama Tuhan kita pun juga berbeda.
Tapi mengapa? Tuhanku dan Tuhanmu tak memisahkan kita sejak dulu?
Sejak perasan benci untukmu belum berubah menjadi perasaan cinta?
Apakah belum cukup bukti bahwa kita memang di takdirkan bersatu?
Aku dan kamu mencoba untuk menyatukan rasa ini.
Mencoba menyatukan takdir kita.
Percayalah, hanya dirimu yang selalu aku perbincangkan dengan Tuhan dan berakhir dengan tetesan air suci dari mataku.
Hanya kamu yang menjadi alasnaku untuk menentang norma.
Inilah pengorbananku, dari sebuah kebencian menjadi satu perasaan yang cukup dalam untukmu.
Cerita antara kau dan aku yang mungkin sudah Tuhan rencanakan sejak lama.
Kau, aku, waktu, keadaan, pertemuan, daaaan perpisahan.
---------------------------------------------------------------------
Sore itu ketika hujan menemaniku di sudut kota. Ketika aku berdiri di sebuah halte bus mini.
Tubuhku yang menggigil kedinginan, ketika angin menerpa.
"Hai" sapamu.
Dengan senyum sedikit memaksa aku membalas sapaanmu.
Aku hanya terkejut ketika menoleh dan menatap matamu.
Mata yang mirip sekali dengan seseorang di masa laluku.
Awalnya, aku memang membencimu. Membenci pertemuan kita, dan membenci sinar matamu.
Karena kamu, membuatku kembali mengais masa lalu yang seharusnya aku lupakan.
Aku sangat membencimu sejak pertama kali aku melihatmu.
-----------------------------------------------------------------------
Aku heran, mengapa keadaan selalu mempertemukan kita?
Aku tak ingin melihatmu.
Aku menghidarimu, tetapi semakin aku menjauh mengapa sosokmu semakin nyata.
Sampai pada suatu saat, aku berfikir. Apakah ini takdir? Apakah ini jalan Tuhan untuk kita?
Aku tidak ingin tersakiti lagi.
Aku terus berfikir, berfikir dan berfikir. Hingga waktu menjawab dan mengukir cerita antara kita.
Aku selalu percaya, jika Tuhan sudah mempersiapkan seseorang untuk bersamaku selamanya.
Apakah itu kamu?
Entah, tetapi saat ini aku ingin membuktikan bahwa sosok itu memang kamu.
Seiring berjalannya waktu dan tanpa kusadari harapan itu muncul dalam benakku.
Aku mencoba menerimamu dan menambah cerita dalam perjuangan hidupku yang tak lama ini.
--------------------------------------------------------------------------
Kita berbeda. Kita tak sama.
Jalan kita berbeda. Bahkan nama Tuhan kita pun juga berbeda.
Tapi mengapa? Tuhanku dan Tuhanmu tak memisahkan kita sejak dulu?
Sejak perasan benci untukmu belum berubah menjadi perasaan cinta?
Apakah belum cukup bukti bahwa kita memang di takdirkan bersatu?
Aku dan kamu mencoba untuk menyatukan rasa ini.
Mencoba menyatukan takdir kita.
Percayalah, hanya dirimu yang selalu aku perbincangkan dengan Tuhan dan berakhir dengan tetesan air suci dari mataku.
Hanya kamu yang menjadi alasnaku untuk menentang norma.
Inilah pengorbananku, dari sebuah kebencian menjadi satu perasaan yang cukup dalam untukmu.
Kamis, 30 Agustus 2012
Sebegini Rumitnya kah Jadi Seorang Aku
Hari itu entah aku sudah melakukan kesalahan apa aku sendiri tidak tau..
Entah itu permainan kata mereka atau kekhilafanku..
Aku berusaha kuat dan mengerti pembicaraan mereka
Aku berusaha tidak meneteskan air mata di depan mereka
Aku berusaha tegar dan terus mendengarnya
Aku memang berhasil, aku berhasil tidak menetskan air itu dari mataku di depan mereka..
Hingga satu kata yang mereka ucapkan benar benar menusuk perasaanku
Saat itu juga aku merasa tidak pernah membuat mereka bangga
Aku sadar, aku tidak seperti mereka semua....
------------------------
Aku membenamkan wajahku pada satu teman tidurku
Dan di ruangan ini aku membebaskan piikiranku
Aku meliarkan air mataku
Aku seperti orang gila yang kehabisan teman
Mungkin hanya merka, beberapa benda mati yang bisa mengerti perasaanku
Yang tau kebahagiaan bahkan kesedihanku
-----------------------
Ketika aku merasa tak punya siapa siapa
Ketika semua orang sibuk dengan urusan mereka sendiri
Aku berusaha mengerti dan menyibukkan diriku terbang bersama khayalan khayalanku
Ketika aku membutuhkan seseorang dan tidaka ada satupun yang ada untukku
Aku berusaha tegar dan mencoba menghadapi semua sendiri
Masih kurang tegarkah aku?
--------------------------------
Aku berusaha mengerti mereka yang membesarkanku
Aku berusaha menuruti kemauan mereka
Mereka bilang aku tidak pernah menghargai mereka tanpa merwka tau sebenarnya aku sudah berusaha membalas jasa mereka
Ketika mereka tak pernah menganggap aku ada
Aku masih menganggap mereka malaikat yang menyayangiku
Ketika mereka beradu mulut dan aku dengan setia mendengarkan perdebatan mereka
Ketika aku bercerita tentang jalan fikiranku
Mereka tak pernah setuju dengan caraku
Ketika aku merasa sendiri
Mereka tak pernah menemaniku
Sebegini rumitnya lah jadi seorang aku?
Sebegini tersiksanya kah jadi seorang korban perceraian kedua orangtuanya?
Entah, , mungkin waktu yang menjawab
Aku berusaha mengerti mereka
Aku berusaha mengerti perasaan mereka
Aku berusaha mengikuti jalan mereka
Aku berusaha menerima kenyataan
Aku berusaha menerima semuanya
Aku masih berusaha.....
Dan aku hatus membuktikan, akupun bisa menjadi yang terbaik dari semua teman temanku diluar sana
Aku smaa seperti mereka
Hanya berbeda dari segi perhatian orang tua
Aku yakin Tuhan tetap bersamaku, Tuhan tetap disampingku apapun yang terjadi padaku
Aku berusaha membanggakan mereka yang memang tak pernah bangga denganku
Aku berusaha menjadi yang terbaik agar mereka sedikit mengerti usahaku untuk membalas jasa mereka
-----------------------------
Terimakasih Tuhan, Terimakasih ayah, Terimakasih ibu kalian mengajariku arti kesendirian, goresan hati dan usaha :))))
Bisakah semuanya kembali seperti dulu ? Aku merindukan semuanya :')
Entah kuserahkan semuanya pada Tuhan dan waktu :')
Entah itu permainan kata mereka atau kekhilafanku..
Aku berusaha kuat dan mengerti pembicaraan mereka
Aku berusaha tidak meneteskan air mata di depan mereka
Aku berusaha tegar dan terus mendengarnya
Aku memang berhasil, aku berhasil tidak menetskan air itu dari mataku di depan mereka..
Hingga satu kata yang mereka ucapkan benar benar menusuk perasaanku
Saat itu juga aku merasa tidak pernah membuat mereka bangga
Aku sadar, aku tidak seperti mereka semua....
------------------------
Aku membenamkan wajahku pada satu teman tidurku
Dan di ruangan ini aku membebaskan piikiranku
Aku meliarkan air mataku
Aku seperti orang gila yang kehabisan teman
Mungkin hanya merka, beberapa benda mati yang bisa mengerti perasaanku
Yang tau kebahagiaan bahkan kesedihanku
-----------------------
Ketika aku merasa tak punya siapa siapa
Ketika semua orang sibuk dengan urusan mereka sendiri
Aku berusaha mengerti dan menyibukkan diriku terbang bersama khayalan khayalanku
Ketika aku membutuhkan seseorang dan tidaka ada satupun yang ada untukku
Aku berusaha tegar dan mencoba menghadapi semua sendiri
Masih kurang tegarkah aku?
--------------------------------
Aku berusaha mengerti mereka yang membesarkanku
Aku berusaha menuruti kemauan mereka
Mereka bilang aku tidak pernah menghargai mereka tanpa merwka tau sebenarnya aku sudah berusaha membalas jasa mereka
Ketika mereka tak pernah menganggap aku ada
Aku masih menganggap mereka malaikat yang menyayangiku
Ketika mereka beradu mulut dan aku dengan setia mendengarkan perdebatan mereka
Ketika aku bercerita tentang jalan fikiranku
Mereka tak pernah setuju dengan caraku
Ketika aku merasa sendiri
Mereka tak pernah menemaniku
Sebegini rumitnya lah jadi seorang aku?
Sebegini tersiksanya kah jadi seorang korban perceraian kedua orangtuanya?
Entah, , mungkin waktu yang menjawab
Aku berusaha mengerti mereka
Aku berusaha mengerti perasaan mereka
Aku berusaha mengikuti jalan mereka
Aku berusaha menerima kenyataan
Aku berusaha menerima semuanya
Aku masih berusaha.....
Dan aku hatus membuktikan, akupun bisa menjadi yang terbaik dari semua teman temanku diluar sana
Aku smaa seperti mereka
Hanya berbeda dari segi perhatian orang tua
Aku yakin Tuhan tetap bersamaku, Tuhan tetap disampingku apapun yang terjadi padaku
Aku berusaha membanggakan mereka yang memang tak pernah bangga denganku
Aku berusaha menjadi yang terbaik agar mereka sedikit mengerti usahaku untuk membalas jasa mereka
-----------------------------
Terimakasih Tuhan, Terimakasih ayah, Terimakasih ibu kalian mengajariku arti kesendirian, goresan hati dan usaha :))))
Bisakah semuanya kembali seperti dulu ? Aku merindukan semuanya :')
Entah kuserahkan semuanya pada Tuhan dan waktu :')
Langganan:
Postingan (Atom)